Kalijaga.co – Minggu pagi (16/11/2025) banyak warga penduduk di sekitar kecamatan Muntilan,yang berkunjung ke Taman Wisata Bambu Runcing. Taman Wisata ini sering menjadi referensi warga untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga karena Taman Wisata Bambu Runcing menyediakan banyak permainan untuk anak-anak, tempat parkir yang luas, serta suasana yang sejuk yang dapat membuat pengunjung merasa nyaman untuk belama-lama disana. Lokasi tepatnya ada di Nglawisan, Jalan Tentara Pelajar, Tejowarno, Tamanagung, kecamatan Mutilan, kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Di Taman Wisata Bambu Runcing pengunjung dapat menikmati pemandangan candi Borobudur yang bisa dilihat dari dalam monumen yang tingginya kisaran 6 meter. Anak-anak juga bisa bermain sepuasnya karena pengelola menyediakan banyak ruang yang bisa melatih motorik anak.
Monumen Bambu Runcing yang ada di Taman Wisata adalah salah satu karya seni yang dibuat oleh seorang seniman Magelang yang bernama Doelkamid Djayaprana, beliau adalah keturunan seniman yang mendirikan Candi Borobudur. Monumen Bambu Runcing beliau bangun bersama 50 orang seniman magelang lainnya dengan dasar proyek dari bupati pada tahun 1980 sebagai tempat pembersihan para pembuat Candi Borobudur.
“Dulu waktu saya bikin monumen bambu runcing saya gali dasar tanahnya sedalam 7 meter, disitu saya banyak menemukan benda-benda purbakala para pembuat candi Borobudur, yang merupakan tokoh-tokoh dari 5 wilayah yang ada di Magelang,” ungkap Doelkamid Djayaprna yang akrab dipanggil eyang oleh warga setempat.
Pembangunan monumen Bambu Runcing menghabiskan anggaran biaya dari pemerintah sebanyak 40 juta pada masa itu. Dengan nominal yang tergolong besar bupati dan seniman yang ada dibalik berdirinya monumen mengharapkan monumen Bambu Runcing dapat menjadi simbol keberanian rakyat Indonesia yang dapat dikenal generasi kedepannya.
Dalam wawancara bersama Eyang Djayaparna beliau menunjukan foto-foto dokumentasi monumen Bambu Runcing dari awal berdiri sampai yang sekarang sudah dikembangkan menjadi Taman Wisata. Dari sorot mata Eyang, terlihat kebanggaan beliau kepada monumen yang dia dan teman-teman seniman-senimannya banggun bisa dinikmati banyak orang.
Namun, ada satu hal yang sangat disayangkan mengenai ‘Sejarah yang melatarbelakangi berdirinya monumen’ yang sangat jarang diketahui banyak orang. Pengunjung yang datang lebih tertarik menikmati fasilitas yang disediakan pengelola dibandingkan dengan menapaktilas peristiwa bersejarah yang melatarbelakangi adanya Tempat Wisata Bambu Runcing Itu Sendiri.
“Saya sudah sering berkunjung, hampir setiap ada pengajian pagi mesti saya mampir, anak-anak juga senang kalau saya ajak main ke sini, bahkan alasan anak saya mau ikut pengajian juga karena selesai pengajian kita harus datang kesini tapi untuk Sejarah berdirinya monumen saya kurang tau, tapi mungkin ada sangkut pautnya dengan pahlawan Indonesia zaman dulu yang memperjuangkan kemerdekaan, karena bambu runcing sendiri adalah senjata orang Indonesia yang dulu belum mengenal senjata yang lebih cangih”. Ucap Ibu Nanik pengunjung tetap Taman Wisata Bambu Runcing.
Hal ini menjadi tugas yang perlu di evaluasi oleh pengelola sekaligus pemerintah untuk lebih memperhatikan Sejarah Monumen Bambu Runcing agar tidak hilang seiring berjalannya waktu. Pengelolah seharusnya juga memberikan edukasi kepada pengunjung agar yang datang tidak hanya sekedar mencari hiburan, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dari Sejarah berdirinya monumen tersebut.
Reporter Nurul Zakiyyah