Kalijaga.co – Unit rock asal ibu kota yang muncul bak penyelamat bagi orang yang ingin berusaha keluar dari kemacetan batin, bukan melarikan diri tapi hanya sekedar menanyakan lagi pada diri sendiri “ini semua untuk apa sih?.“ Lirik lirik lagunya seakan membisikkan dengan suara lirih yang reflektif. Dengan album populernya, Memoradum (2022) seperti penanda bahwa perunggu bukan sekedar band, tapi juga ruang sunyi yang terbuka bagi siapa saja.
Melalui formasi ramping yaitu Maulana Ibrahim sebagai vokalis utama dan gitaris, Adam Adenan sebagai bass dan vokalis latar, serta Ildo Hasman sebagai drumer dan vokalis latar, perunggu bergerak dengan bahasa yang puitis namun penuh makna. Seakan akan lagu lagunya tercipta dari rasa yang sering kali tidak selesai dicerna. Kekalahan, kelelahan, kerapuhan, absurditas dan kehilangan seperti jadi materi mentah yang diolah menjadi bisikan indah. Dan dari situlah lahir sebuah lagu dengan judul yang simbolik “33x”, dari titik letih yang akhirnya menemukan bentuknya sendiri.
33x dan Mantra Didalamnnya
Seperti Harry Potter yang menggunakan mantra Sectumsempra untuk Draco Malfoy, Perunggu merapal “33x” sebagai mantra bagi para pendengarnya namun bukan untuk melukai, tapi untuk menyadarkan. 33x seperti menyusup pelan ke dalam kepala, membawa pesan-pesan kecil yang kadang kita lupa: bahwa tidak apa-apa untuk melambat, bahwa hidup tak harus selalu tergesa-gesa mengejar hal-hal yang sebenarnya nirfungsi. Di tengah perjalanan hidup yang absurd, 33x bisa menjadi pengingat agar kita tak kehilangan arah di tengah kelelahan yang tak selalu terlihat.
Kita semua pasti pernah merasa tersesat atau terlambat saat pikiran kita bertanya tanya apakah jalan yang kita tempuh ini benar, atau hanya sekadar lingkaran tak berujung yang terus kita jalani tanpa tahu arah. Dalam momen-momen seperti itu, seringkali kita tidak butuh jawaban besar, cukup arahan kecil sebuah dorongan halus untuk melangkah sedikit lebih tenang. 33x tidak menyampaikan pesannya dengan suara keras justru karena itulah lagu ini tidak hanya masuk lewat telinga, tapi juga menyelinap ke hati. Setiap irama yang dilantunkan terasa seperti bisikan lembut, namun cukup kuat untuk didengar oleh mereka yang sedang kehilangan pegangan.
Di baris Pamungkasnya, Terus berenang Lanjutlah mendaki bukan ajakan yang heroik tapi semacam bentuk dorongan kecil yang seakan tahu rasanya ingin menyerah tapi tetap bertahan karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain terus berjalan.
Bisikan Sore Itu: Sepulang kuliah
Hari itu tidak ada yang istimewa. Langit mendung, tugas menumpuk, dan jalan pulang dari kampus terasa seperti lorong panjang yang tak berujung. Sampainya aku di Kos yang sangat amat sepi aku langsung tergeletak menghadap langit langit dengan perasaan yang cukup lelah dan di tengah kelelahan itu, aku memutuskan untuk mendengarkan musik, semacam cara sederhana untuk meredakan penat. Dengan
mode acak, Spotify memutar lagu-lagu yang tak kuingat pernah kusimpan. Aku bahkan bingung harus mendengarkan apa. Lalu terputarlah satu lagu dengan intro yang pelan, nyaris seperti bisikan. “33x”, begitu judulnya. Aneh, pikirku. Tapi ada sesuatu dalam irama awalnya yang membuatku enggan menekan tombol skip.
Vokalnya terdengar tidak berusaha mengesankan, namun justru karena itu terasa jujur. Tidak ada petikan gitar yang mendramatisir, tidak ada ketukan drum yang mencoba mengangkat mood. Saat liriknya menyebut, Buka lagi visimu, kau tahu mana urutan satu, tiba-tiba pikiranku terhenti. Aku merasa sedang diajak berdialog, disuruh diam sebentar, dan menata ulang isi kepala. Lagu ini tidak menyuruhku untuk bergegas, tapi mengajakku menyelami apa yang sebenarnya penting, dan apa yang bisa ditunda?
Aku bahkan tak tahu apa itu nirfusi. Tapi ketika kata itu muncul, entah bagaimana, aku merasa kata itu mewakili segalanya yang selama ini sulit kujelaskan: hidup yang padat tapi kosong, hari-hari yang sibuk tapi tak tahu arahnya ke mana. 33x bukan lagu yang memberi solusi. Ia tidak memaksakan semangat, tidak menjual motivasi. Tapi justru karena itulah, ia menenangkan. Lagu ini memberiku ruang. Ruang untuk diam, untuk bernapas, dan untuk menerima bahwa tersesat sesekali adalah bagian bagian dari
perjalanan. Dan sore itu, di antara padatnya tugas dan jalan pulang yang muram, aku merasa seperti akhirnya menemukan bisikan kecil yang sangat aku butuhkan, pengingat untuk kembali ke diri sendiri.
Nirfusi Adalah Bagian dari Proses Kehidupan
Kita hidup dalam dunia yang terus menuntut kita untuk menjadi sesuatu. Setiap hari terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Dalam kekalahan kolektif itu, jarang sekali kita diberi ruang untuk sekadar diam, untuk tidak menjadi siapa-siapa. Tapi 33x hadir sebagai jeda yang dibutuhkan, memberi pembenaran untuk melambat, untuk berhenti sejenak tanpa rasa bersalah. Istilah “nirfusi” yang mungkin terdengar asing justru menjadi metafora paling pas untuk menggambarkan fase hidup yang membeku.
Kita berjalan, tapi rasanya tidak bergerak. Kita hidup, tapi seperti tidak merasa. Dan lagu ini tidak mengutuk kekosongan itu justru memeluknya.
Ini hanya sementara bukan ujung dari rencana, kalimat ini mungkin sederhana, tapi dampaknya bisa seperti embun pagi di dada yang semalaman gelisah. Ia tidak menghapus masalah, tidak juga menyulap beban jadi ringan. Tapi entah bagaimana, ia membuat semuanya terasa lebih bisa dihadapi, satu demi satu, perlahan-lahan.
33x tidak menyuruh kita berlari. Ia hanya minta kita mendengar. Mengendap. Meresap. Dan mungkin, saat kita cukup tenang, kita bisa menyadari bahwa bahkan dalam pusaran nirfusi pun, kita masih bisa berenang. Tanpa tahu arah, tanpa tahu kapan akan sampai, tapi tetap berenang. Mungkin justru di situ letak maknanya bahwa dalam keheningan, dalam kebingungan, dalam kelelahan yang kita takutkan sebagai akhir, sebenarnya ada ruang kecil untuk menjadi utuh kembali. Pelan-pelan, tanpa paksaan. Tanpa naskah motivasi. Hanya kamu, dan lagu yang mengerti kapan harus diam.
Penulis Reganessa Diosalwa Wisanggeni | Editor Qisthiyatun Nafi’ah
- Menganyam “Aku” di Deretan Pakaian Bekas Pasar Owol Parakan, Temanggung - 23 Februari 2026
- Bermula dari KPI berlabuh di Belanda dengan mimpi yang diperjuangkan - 5 Februari 2026
- Serial Stranger Things: Tumbuh di Antara Dua Dunia - 2 Februari 2026