Kalijaga.co – Sore itu di Parakan, tercium bau jamur sedikit pengap namun dingin. Kami orang asli Parakan menyebutnya “owol” entah dari mana asal usulnya dan siapa yang mencetuskan pertama kali. Tangan bergerak cepat, mata berburu dengan teliti, napas sedikit tertahan ketika menemukan jaket yang terasa berbeda. Di pasar pakaian bekas itu, tidak ada katalog khusus. Tidak ada tren resmi. Tidak ada manekin yang mengarahkan aku harus menjadi siapa di era berpakaian modern ini. Yang ada justru kemungkinan.
Fenomena yang kerap kali dinamakan thrifting ini memang bukan gejala kecil. Laporan tahunan dari ThredUp menunjukkan bahwa pasar pakaian bekas global tumbuh jauh lebih cepat dibanding ritel fashion konvensional, dengan generasi muda sebagai motor utamanya. Sementara itu, dikutip dari analisis konsumen dari McKinsey C Company mencatat bahwa Gen Z cenderung mencari produk yang terasa personal, otentik, dan memiliki cerita.
Angka-angka itu penting. Tapi yang lebih penting adalah membaca dorongan di baliknya. Gen Z tumbuh di era algoritma. Tren tidak lagi datang perlahan mungkin bisa dibilang ia meledak, serempak, dan disalin dalam hitungan hari sehingga secara tidak langsung menjadi kiblat. Menurutku gaya berpakaian bisa viral di platform TikTok atau Instagram pagi ini namun basi sore nanti dan ujungnya identitas menjadi sesuatu yang mudah diproduksi ulang.
Di dunia yang serba bisa ditiru, menjadi unik justru menjadi sulit dan mungkin, disitulah thrifting menemukan relevansinya. Jelas berbeda dengan fast fashion yang memproduksi ribuan potong pakaian identik, thrifting bergantung pada kebetulan. Terbatasnya stok, ukuran yang tidak selalu pas dan warna tidak sedang tren, serta tidak ada jaminan akan menemukan barang yang sama dua kali. Ketidakpastian itu justru memberi ruang diferensiasi.
Di Parakan kota kecil, jauh dari pusat industri fashion, antusiasme itu tetap terasa. Ini menarik, artinya kebutuhan akan identitas bukan monopoli kota besar. Globalisasi gaya hidup sudah meresap sampai pasar barang bekas lokal. Anak muda di sini juga berburu jaket vintage dengan kesadaran yang sama seperti anak muda di Jakarta, Bandung, atau bahkan luar negeri.
Ini bukan lagi sekadar soal harga murah. Yang terdengar di antara tumpukan pakaian itu Adalah kalimat-kalimat seperti:
“Ini jarang.”
“Ini nggak pasaran.” “Ini beda.”
Kata “beda” menjadi kata kunci.
Thrifting memberi sensasi menemukan sesuatu yang tidak dimiliki semua orang. Ketika seseorang berhasil mendapatkan jaket unik dari tumpukan karung, ada kebanggaan kecil yang muncul bukan karena mahal, tapi karena eksklusif dalam cara yang tidak dirancang oleh korporasi.
Di sinilah idealismenya bekerja.
Memilih thrift seakan menjadi pernyataan:
Aku tidak ingin seragam.
Aku tidak ingin sekadar mengikuti katalog. Aku ingin merakit diriku sendiri.
Namun pertanyaannya tidak berhenti di situ.
Apakah keunikan itu benar-benar lahir dari kebebasan, atau tetap bergerak di dalam sistem yang sama?
Ketika thrifting menjadi tren, ia juga berisiko berubah menjadi estetika baru yang seragam. Jaket oversize, celana gombrong, kaos grafis lawas semuanya bisa menjadi kode gaya yang mudah dikenali. Upaya untuk berbeda bisa saja berakhir pada diferensiasi yang terstandarisasi. Di titik ini kita perlu lantang, bahkan identitas pun bisa dikomodifikasi.
Tetapi mungkin justru di situlah letak kompleksitasnya. Identitas generasi tidak pernah murni. Ia selalu lahir dari negosiasi antara hasrat personal dan struktur ekonomi yang lebih besar. Thrifting tidak sepenuhnya membebaskan dari kapitalisme konsumsi. Kita tetap membeli, memilih, dan membangun citra. Namun ia menggeser cara kita berpartisipasi di dalamnya. Alih-alih menerima paket identitas yang sudah jadi, kita membongkar karung, memilah, menyusun ulang. Ada proses, pencarian, Ada keterlibatan.
Di pasar pakaian bekas Parakan sore itu, aku melihat seorang laki-laki remaja memegang kaos polo bermotif yang terlalu besar. Lalu tersenyum tipis senyum seperti orang yang merasa menemukan sesuatu yang cocok, bukan hanya di tubuhnya, tetapi untuk dirinya. Yang kemudian remaja itu langsung menanyakan pada penjual berapa rupiah yang harus ia keluarkan dari dompetnya untuk memiliki kaos polo di genggamanya itu, dan sang penjual menjawab nominal angka sebesar 45 ribu rupiah, lalu terjadi negosiasi antara remaja dan penjual, sehingga harganya menjadi 30 ribu rupiah saja.
Mungkin itu inti dari thrifting bagi banyak anak muda hari ini. Bukan sekadar hemat dan bukan semata-mata sadar akan lingkungan. Bukan pula sekedar ikut tren, melainkan mereka yakin atas identitas yang tidak sepenuhnya ditentukan etalase baju di toko oranye dengan ribuan ulasan dari pembelinya.
Di tengah dunia yang terlalu cepat menyeragamkan, thrifting menjadi ruang untuk menyusun diri secara lebih pelan. Lebih tidak pasti. Lebih personal. Apakah itu sepenuhnya bebas dari sistem? Tentu tidak. Apakah itu sepenuhnya revolusioner? Juga tidak.
Tetapi di antara lipatan kain-kain lama itu, ada sesuatu yang terkesan lebih jujur yaitu keinginan untuk tidak sepenuhnya sama dengan selera banyak orang. Dan mungkin, di zaman yang gemar menyamakan, keinginan untuk berbeda walau sekecil apa pun itu sudah cukup menjadi bukti bahwa kita lah yang membangun diri kita sendiri.
Penulis Reganessa Diosalwa Wisanggeni | Editor Qisthiyatun Nafi’ah
- Menganyam “Aku” di Deretan Pakaian Bekas Pasar Owol Parakan, Temanggung - 23 Februari 2026
- Bermula dari KPI berlabuh di Belanda dengan mimpi yang diperjuangkan - 5 Februari 2026
- Serial Stranger Things: Tumbuh di Antara Dua Dunia - 2 Februari 2026