Kalijaga.co – Bulan suci Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan kebajikan moral. Bulan dimana setiap individu muslim berlomba-lomba dalam menggugah jiwa spiritualitas mereka. Tak hanya itu, pada bulan Ramadan segala bentuk instrospeksi hingga improvisasi diri ditingkatkan. Semua kegiatan tersebut tak lepas dari bagaimana setiap individu mengekspresikan versi terbaik diri mereka masing-masing.
Dalam dunia pendidikan Islam, bentuk serta cara pengekspresian kegiatan yang berbasis peningkatan jiwa spiritualitas di bulan suci Ramadan sangatlah beragam. Mulai dari kegiatan sosial-keagamaan seperti yang telah berjalan di beberapa masjid, hingga program rutinan tadarus. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata bagaimana pendidikan islam mengambil andil dalam mengupayakan proses peningkatan spiritualitas di masyarakat luas.
Salah satu bentuk program spiritual Ramadan yang kerap di terpakan adalah tadarus Al-Qur’an. Program yang menekankan setiap anggota komunitas Islami untuk turut serta dalam meningkatkan tingkat spiritualitas mereka masing-masing. Tadarus Al-Qur’an merupakan aktivitas membaca, mempelajari, menelaah, dan memahami Al-Qur’an secara bersama-sama atau berulang-ulang, umumnya dilakukan oleh dua orang atau lebih, khususnya di bulan Ramadan.
Di Indonesia, pelaksanaan program tadarus Al-Qur’an seakan menjadi tradisi spiritual yang rutin di terapkan pada setiap edisi Ramadan. Targetnya pun bermacam-macam, mulai dari fokus mempelajari, hingga target menyelesaikan bacaan 30 juz Al-Qur’an. Taget bacaan khatam 30 juz biasanya terletak pada intensifitas bacaan melalui canangan program One Day One Juz. Segala kegiatan tersebut pasti berorientasi pada satu faktor yang sama, yakni upaya peningkatan spiritualitas diri setiap muslim.
Terdapat satu problematik penting yang menyasar pada program tadarus One Day One Juz. Problematik yang didasari oleh paradigma masyarakat mengenai target yang sering diagung-agungkan pada program One Day One Juz Ramadan, yakni khatam 30 juz. Target tersebut terkadang menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan, mengenai apakah program tersebut telah keluar dari esensi tujuan spiritual atau hanya sebatas pada formalitas yang di tengarai dengan eksekusi intensif untuk mengejar taget khatam.
Dari sini pertanyaan selalu muncul, mengapa kita harus membaca Al-Qur’an jika tidak dengan dibarengi pemahaman serta peningkatan pengetahuan yang signifikan. Hal ini kemudian memunculkan beberapa sikap dari individu muslim yang seakan tidak suka atau mempertanyakan esensi pelaksanaan yang sebenarnya dari program tadarus One Day One Juz di bulan Ramadan itu sendiri.
Mungkin memang benar jika pada dewasa ini, eksekusi yang berjalan di masyarakat luas mengenai program tadarus Al-Qur’an One Day One Juz di bulan Ramadan telah bergeser dari esensinya. Eksekusi yang hanya berfokus pada mengejar target khatam tanpa menyadari program tersebut sebenarnya dilakukan sebagai wadah peningkatan jiwa spiritual individu muslim. Eksekusi yang keluar dari tujuan dilaksanakannya program ini. Eksekusi inilah yang kemudian berakar pada orientasi eksekusi itu sendiri.
Orientasi yang keliru dalam pelaksanaan program tadarus Al-Qur’an One Day One Juz dapat menghilangkan esensi program itu sendiri. Hal tersebutlah yang kemuadian memunculkan sikap-sikap anti-program berbasis penilaian. Karena pada dasarnya, capaian target bukanlah hal yang seharusnya di tuju, melainkan bagaimana spiritualitas individu dapat terbangun melalui pendekatan mereka terhadap Al-Qur’an.
Problematik yang bermula dari kesalahan orientasi pelaksanaan program ini memunculkan kompleksivitas permasalahan yang muncul di tengah masyrakat. Program yang seharusnya memliki esensi pelaksanaan serta tujuan yang jelas, malah bergeser pada sebatas bentuk formalitas tradisi yang kosong.
Namun dibalik semua problematik tersebut, kekeliruan orientasi dalam melakukan esensi serta tujuan program One Day One Juz tidak serta-merta dapat dipandang sebagai kejanggalan praktik yang kehilangan esensi nilai spiritualnya. Pada titik tertentu, program One Day One Juz seolah menjadi venue bagi para individu muslim untuk membangun kedekatan serta kebiasaannya membaca Al-Qur’an. Hal ini seolah menjadi titik balik serta hikmah dari munculnya berbagai problematik cara pandang seseorang mengenai orientasi pelaksanaan program.
Permasalahan yang sesungguhnya adalah cara pandang individu dalam memaknai esensi dibalik berjalannya program One Day One Juz Ramadan. Ketika program tersebut dipandang sebagai ajang formalitas untuk mencapai target bacaan, maka hasil yang diterima hanyalah sebatas kepuasan kuantitatif tanpa signifikasi peningkatan spiritualitas bagi mereka yang melaksanakannya. Sebaliknya, jika program tersebut dipandang serta dilaksankan berdasarkan pada orientasi yang benar dengan upaya-upaya pemahaman serta refleksi makna, maka program tadarus Al-Qur’an One Day One Juz berubah menjadi ajang penguatan spiritual dengan signifikansi yang masif.
Penulis: Aprilda Sabtiyan Achmad | Editor: Nayla Nur Hidayah