Kalijaga.co – Aktivitas pemahatan patung di Desa Tamanagung dipastikan tidak mengganggu kenyamanan warga sekitar. Proses produksi patung yang telah berlangsung puluhan tahun dianggap wajar dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa.
Salah satu pengrajin patung, Irwadi (40), menyatakan bahwa selama menjalankan proses produksi pemahatan, ia selalu menjaga agar proses pemahatan tidak mengganggu masyarakat sekitar. Menurutnya, aktivitas tersebut telah lama menjadi mata pencaharian warga desa.
Irwadi menyatakan, dirinya telah menekuni usaha pembuatan patung selama kurang lebih 28 tahun. Ia menyebutkan bahwa awalnya di Desa Tamanagung cukup banyak pengrajin patung, sehingga warga sudah terbiasa dengan aktivitas tersebut. Meskipun kini jumlah pengrajin patung semakin sedikit, kegiatan produksi yang dilakukan Irwadi tetap dianggap wajar oleh masyarakat.
“Saya rasa kegiatan ini tidak mengganggu masyarakat. Dari dulu memang sudah seperti ini dan juga menjadi mata pencaharian orang disini. Tapi balik lagi ke individu masing-masing. Menurut saya, ini tidak mengganggu aktivitas warga yang lain,” ungkap Irwadi, saat ditemui di rumahnya, Ahad (16/11).
Irwadi sebagai pengrajin berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada pengrajin lokal, misalnya dengan memberi dukungan pelatihan atau bantuan alat produksi, agar usaha pembuatan patung ini tetap bertahan dan tidak semakin berkurang. Ia juga berharap masyarakat tetap menghargai keberadaan para pengrajin yang sudah lama menjadi bagian dari desa.
Pendapat serupa hadir dari salah satu pemuda desa, Rifki Hasbi (25). Rifki mengatakan bahwa aktivitas pemahatan tidak mengganggu warga karena sebagian besar pengrajin patung berlokasi di pinggir jalan, sehingga tidak berdekatan dengan pemukiman warga. Maka dari itu, proses pemahatan tidak mengganggu aktivitas warga sehari-hari.
Ia juga mengatakan bahwa keberadaan pengrajin patung sudah ada sejak ia kecil, namun jumlah pengrajin dahulu lebih banyak dibandingkan saat ini.
“Pengrajin patung di sini sudah ada sejak saya kecil dan dulu jumlahnya jauh lebih banyak dari sekarang. Jadi saya rasa aktivitas mereka tidak mengganggu warga, karena dari dulu memang sudah seperti itu,” ujar Rifki Hasbi.
Rifki berharap pengrajin patung di desanya tidak semakin berkurang. Ia menilai perlu adanya regenerasi atau pelatihan untuk anak muda agar keterampilan membuat patung tidak hilang. Ia juga berharap usaha ini dapat berkembang dan menjadi ciri khas desa yang dapat menarik perhatian wisatawan.
Sementara itu, Ketua RT setempat, Mindarsih, (55), menyatakan bahwa aktivitas pengrajin patung belum terlihat saat ia masih kecil, namun mulai muncul setelah dirinya kembali dari luar kota. Pada saat itu jumlah pengrajin sudah mulai banyak.
“Waktu saya kecil pengrajin patung belum ada, nah setelah saya pulang dari luar kota, baru terlihat banyak pengrajin patung,” ujar Mindarsih.
Mindarsih juga mengatakan bahwa selama ini ia belum pernah mendengar keluhan warga tentang aktivitas pengrajin patung.
“Saya belum pernah mendapat keluhan dari warga terkait ini, mungkin karena sudah lama, jadi warga sudah terbiasa,” ujarnya.
Mindarsih juga berharap untuk para pengrajin tetap terus berkarya serta hubungan antara masyarakat dan pengrajin tetap terjaga secara harmonis.
Penulis: Sofwah Fillah Soffah | Editor: Nayla Nur Hidayah
- 7 MASJID DI JOGJA SEDIAKAN BUKA PUASA GRATIS - 2 Maret 2026
- Aktivitas Pengrajin Patung di Desa Tamanagung Tak Ganggu Warga - 14 Januari 2026