Kalijaga. Co – Ramadan selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Suasana sahur yang hangat, lantunan ayat suci Al-Qur’an, hingga momen berbuka puasa bersama keluarga menjadi satu hal tradisi yang melekat setiap tahunnya. Kehangatan itu sering menjadi momen yang sangat bahagia dan sulit tergantikan.
Namun, berbeda bagi mahasiswa baru yang tengah menempuh pendidikan di kota perantauan. Jarak yang memisahkan dari orang tua dan keluarga membuat suasana bulan suci Ramadan kali ini begitu berbeda.
Ramadan pertama di tanah rantau, menjadi pengalaman emosional sekaligus pembelajaran yang berharga. Di satu sisi, ada rasa rindu terhadap keluarga di rumah. Di sisi lain, ini menjadi momen bagi kita untuk melatih kemandirian, mulai dari mengatur waktu, menyiapkan kebutuhan sahur dan buka, hingga tetap menjaga ibadah meskipun tanpa pengawasan keluarga.
Bagi Silmi (20), mahasiswa semester dua yang berasal dari NTT, Ramadan pertamanya di kota perantauan menghadirkan rasa campur aduk, ia mengaku merindukan momen sahur dan berbuka bersama teman di pesantren.
“Kalau ditanya soal pertama kali merasakan Ramadan di perantauan, jujur itu rasanya campur aduk banget. Soalnya sebelumnya aku kan dari pesantren. Di sana suasana Ramadannya hidup banget. Sahur dibangunin pengurus, terus makan bareng temen-temen satu asrama. Buka puasa juga bareng. Nah kalau sekarang rasanya tuh beda semuanya harus sendiri, tapi itu juga menjadi sebuah pelajaran bagi aku bahwa hidup itu ngak harus bergantung pada orang lain,” ujar Silmi pada Minggu (18/02/2026)
Bagi Dinda (20), mahasiswa semester dua yang berasal dari Makassar, yang juga menjalani puasa pertama kali jauh dari orang tua. Menurutnya, tantangan terbesarnya adalah ketika jadwal kuliah yang padat dan juga harus menahan lapar serta haus.
“Jujur dalam dunia perkuliahan itu sangat melelahkan karena ketika jadwal kuliah yang padat juga menahan lapar dan haus ,tetapi justru dari rasa lelah itulah yang menjadi sumber energi dan katanya dapat melipat gandakan pahala,” ujar Dinda
Ramadan di tanah perantauaan menjadi pengalaman yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran berharga bagi mahasiswa baru, meskipun harus menghadapi rasa rindu terhadap keluarga mereka justru belajar untuk lebih mandiri dalam mengatur waktu terutama di tengah padatnya jadwal perkuliahan.
Reporter Hijra Tul Adawiya | Editor Qisthiyatun Nafi’ah