crossorigin="anonymous">

Ramadhan di kota istimewa: Antara Rindu dan Ilmu

Banyak orang mengatakan bahwa Jogja adalah kota istimewa. Kota yang penuh cerita, penuh kenangan, dan selalu punya cara untuk membuat orang jatuh hati. Dan benar, sekarang aku berpijak di kota itu Jogja. Kota yang mengharuskanku meninggalkan rumah, meninggalkan tempat lahirku, untuk melanjutkan pendidikan di UIN Sunan Kalijaga. Namun bagiku, Jogja bukan hanya tentang bangunan bersejarah atau suasana senjanya yang sering dipuji orang-orang. Jogja adalah tempat aku belajar menjadi lebih dewasa, terutama saat Ramadhan datang dan aku harus menjalaninya jauh dari keluarga.

Aku bukan hanya seorang mahasiswi. Selain kuliah, aku juga tinggal dan mengaji di Pondok Pesantren Wahid Hasyim Al-Hikmah. Di sinilah hari-hariku berjalan, termasuk Ramadhan yang penuh makna itu. Menjadi anak rantau saja sudah cukup menantang, apalagi ketika harus menjalani puasa di kota orang tanpa kehadiran keluarga di sisi. Ada rasa sepi yang kadang muncul diam-diam, terutama ketika waktu sahur tiba atau menjelang berbuka puasa.

Biasanya di rumah, sahur dibangunkan dengan suara ibu yang lembut, atau suara peralatan dapur yang sudah ramai sejak dini hari. Di sini, sahur dibangunkan oleh alarm atau teman kamar yang saling mengingatkan. Suasananya berbeda, rasanya pun berbeda. Tidak ada masakan khas buatan rumah yang selalu kurindukan. Semua terasa lebih sederhana. Tapi justru dari kesederhanaan itu aku belajar untuk menerima dan mensyukuri apa yang ada.

Ramadhan di pesantren memiliki ritme yang tidak sama dengan Ramadhan di rumah. Kegiatannya lebih padat dan teratur. Setiap pagi dan malam kami memiliki jadwal setoran hafalan yang biasa kami sebut undaan. Di situlah kami menyetorkan hafalan atau bacaan yang sudah dipersiapkan. Tidak jarang rasa kantuk masih terasa, apalagi setelah sahur dan sholat Subuh. Namun kewajiban tetap harus dijalankan. Selain itu, setelah sholat tarawih kami melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an bersama yang kami sebut deresan. Suara lantunan ayat-ayat suci menggema di ruang pesantren, menciptakan suasana yang khusyuk dan menenangkan.

Sebagai mahasiswi sekaligus santriwati, tentu ada rasa lelah yang tidak bisa dipungkiri. Di siang hari tetap harus mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, dan memenuhi tanggung jawab akademik. Malamnya harus kembali fokus pada kegiatan pesantren. Kadang tubuh terasa capek, pikiran terasa penuh. Bahkan ada momen ketika aku bertanya pada diri sendiri, “Kuat tidak ya menjalani semua ini?” Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, selalu ada jawaban yang mengikuti: ini adalah pilihan, dan setiap pilihan punya konsekuensinya.

Yang paling berat sebenarnya bukan jadwal yang padat, melainkan rasa rindu yang datang tanpa bisa ditolak. Rindu itu bukan tentang rumah sebagai bangunan, tapi tentang keluarga yang ada di dalamnya. Tentang kebersamaan saat berbuka, tentang canda kecil setelah tarawih, tentang kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Ada kalanya aku merasa ingin sekali pulang, sekadar untuk duduk bersama mereka meski hanya sebentar. Namun jarak dan keadaan membuatku harus menahan keinginan itu.

Di titik itulah aku mulai memahami bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, Ramadhan adalah tentang menahan keinginan, menahan rindu, dan belajar ikhlas menjalani keadaan. Aku belajar bahwa dewasa bukan berarti tidak merasakan sedih atau rindu, tetapi tetap mampu menjalani tanggung jawab meskipun perasaan itu ada.

Jogja mungkin disebut kota istimewa oleh banyak orang karena keindahannya. Tapi bagiku, keistimewaan Jogja terletak pada proses yang sedang kujalani di dalamnya. Di kota ini aku belajar membagi waktu, belajar mandiri, belajar bertahan di tengah rindu, dan belajar menguatkan niat ketika semangat mulai goyah. Di pesantren ini aku belajar bahwa ibadah bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang konsistensi dan komitmen.

Setiap kali selesai deresan dan duduk dalam diam, aku sering merenung. Mungkin inilah cara Tuhan yang selalu baik mendidikku menjauhkan sejenak dari kenyamanan rumah agar aku belajar berdiri dengan kakiku sendiri. Mungkin rindu ini bukan untuk dihilangkan, tapi untuk mengingatkanku bahwa aku punya tempat untuk pulang dan orang-orang yang menunggu keberhasilanku.

Menjadi anak rantau saat Ramadhan memang terasa berbeda. Ada air mata yang kadang jatuh diam-diam, ada keluhan kecil yang terucap pelan. Tapi di balik itu semua, ada kekuatan yang tumbuh perlahan. Aku belajar bahwa tanggung jawab tidak boleh kalah oleh perasaan. Aku belajar bahwa doa dan usaha harus terus berjalan beriringan. Dan aku belajar bahwa setiap lelah yang dijalani dengan niat baik tidak akan pernah sia-sia.

Ramadhan di Jogja mungkin tidak sama seperti Ramadhan di rumah. Namun di sinilah aku sedang membentuk diriku sendiri. Dengan segala rindu, lelah, dan doa yang menyertainya, aku percaya bahwa suatu hari nanti aku akan melihat masa ini sebagai bagian penting dari perjalanan hidupku. Kota istimewa ini bukan hanya menyimpan kenangan, tapi juga menyimpan proses pendewasaanku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *