crossorigin="anonymous">

Musik Tak Pernah Cukup Untuk Menjadi Alat Ukur Klasifikasi Sosial 

Kalijaga.co – Di media sosial, manusia semakin sering dikenali bukan dari percakapan, melainkan dari potongan-potongan kecil berupa foto profil,  unggahan singkat, dan belakangan playlist musik. Dari situ, penilaian cepat-pun muncul. Mereka yang mendengarkan musik indie kerap dibaca sebagai sosok “punya selera”, reflektif eksklusif, atau bahkan disebut tidak pasaran. Sementara yang menyukai musik populer kerap dianggap ikut arus, ringan , mudah terpengaruh, bahkan dangkal. Seolah-olah selera musik cukup untuk merangkum cara seseorang berpikir, bersikap, dan  membangun hubungan dengan orang lain. Kesan ini tentu tidak sepenuhnya mengada-ada. 

Musik memang sering menjadi media ekspresi diri. Psikologi pun menemukan bahwa preferensi musik kadang berkaitan dengan beberapa  dimensi kepribadian seperti keterbukaan pada pengalaman baru, kecenderungan ekstroversi, atau cara seseorang mengolah suasana hati. Namun, sejauh yang bisa dibuktikan, hubungan tersebut hanyalah kecenderungan, bukan kepastian. Masalah muncul ketika kecenderungan itu dianggap  sebagai kesimpulan matang. Media sosial dengan segala kecepatannya, mendorong cara berpikir yang ringkas dan serba instan. 

Konten-konten dengan pola dialog seperti kalimat “kalau kamu dengar ini, berarti kamu begini,” terasa ringan dan menghibur. Namun dibalik itu ada  proses yang lebih serius yaitu penyederhanaan manusia menjadi kategori-kategori yang mudah dikonsumsi dan mudah dinilai. Yang sering  luput disadari, klasifikasi sosial semacam ini tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dibangun dan dipelihara oleh kita sendiri.  

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, melalui gagasan tentang konstruksi sosial atas realitas, menjelaskan bahwa dunia sosial dibentuk oleh  kebiasaan dan pengulangan yang dilakukan manusia. Cara kita memberi label, mengelompokkan, dan menamai sesuatu termasuk selera musik  adalah hasil kerja kolektif kita sendiri. Dalam konteks media sosial, apa yang ditampilkan bukan sekadar ekspresi personal, tetapi juga partisipasi dalam membangun sistem klasifikasi itu. Pilihan tentang apa yang diunggah, lagu apa yang dibagikan, dan citra apa yang ingin  ditunjukkan, semuanya ikut memperkuat kategori-kategori yang kemudian dipakai untuk membaca orang lain. 

Pierre Bourdieu menunjukkan bahwa selera bukan sesuatu yang sepenuhnya netral. Selera sering berfungsi sebagai penanda posisi sosial  dan secara halus menjadi alat pembeda. Dari sini, bisa dipahami mengapa perbincangan tentang musik jarang benar-benar bebas dari muatan  nilai. Didalamnya, kerap tersembunyi keinginan untuk merasa lebih paham atau lebih terkesan berkelas. Dalam praktik sehari-hari, ini tampak  dari label-label yang beredar anak indie, anak hardcore, anak pop, anak chart, anak underground. Label memang memudahkan percakapan,  tetapi juga terbukti membawa penilaian. Pelan-pelan, terbentuklah hierarki kecil berbasis selera namun bukan karena ada niat jahat,  melainkan karena kebiasaan menyederhanakan. 

Padahal, berbagai kajian juga menunjukkan bahwa hubungan antara selera musik dan kepribadian tidak cukup kuat untuk menilai seseorang  secara utuh, apalagi memprediksi kualitas hubungan sosialnya. Cara seseorang berelasi dibentuk oleh banyak faktor. Beberapa diantaranya adalah pengalaman hidup, pendidikan, lingkungan, dan proses panjang belajar mengelola emosi. Ironisnya, musik yang  seharusnya berfungsi sebagai ruang perjumpaan justru kerap dipakai sebagai alat ukur klasifikasi sosial. Banyak pengalaman manusia yang memperlihatkan sebaliknya, musik bekerja paling kuat ketika dibagikan. Bernyanyi bersama, berbagi lagu di masa sulit, atau sekadar  duduk mendengarkan satu lagu sampai selesai. Dalam momen-momen seperti itu, yang penting bukan kesamaan selera, melainkan pengalaman  bersama. 

Namun di ruang digital, logika seringkali bergeser. Playlist musik berubah menjadi pernyataan identitas. Tidak ada yang keliru dengan itu,  sampai identitas tersebut dipakai sebagai alat penanda seseorang memiliki nilai. Algoritma memperkuat kecenderungan ini dengan menciptakan ruang  gema. Pengguna lebih sering disuguhi konten yang sejalan dengan seleranya sendiri. Lama-kelamaan, muncul ilusi bahwa cara menikmati  musik tertentu adalah cara yang lebih tepat. Dari sini, kategori-kategori yang semula cair makin mengeras. Sementara itu, kecakapan sosial  empati, kedewasaan, kemampuan mendengarkan tidak pernah ditentukan oleh genre. Semua itu tumbuh dari proses panjang berinteraksi dan  belajar memahami orang lain. Mengaitkannya dengan satu faktor tunggal adalah penyederhanaan yang tidak adil. Penyederhanaan ini  membuat relasi sosial menjadi lebih sempit. Orang lebih cepat merasa satu frekuensi atau tidak satu frekuensi hanya dari potongan identitas.  Banyak kemungkinan perjumpaan yang gugur, bahkan sebelum sempat dimulai. 

Perlu ditegaskan kembali, ini bukan soal indie atau pop. Semua genre sah sebagai cara manusia merawat perasaannya. Namun, yang perlu dikritik  adalah kebiasaan mengubah selera menjadi identitas kaku, lalu memakai identitas itu untuk mengukur manusia lain. Pada akhirnya, yang  menentukan kualitas hubungan sosial bukanlah apa yang didengarkan seseorang, melainkan bagaimana ia memperlakukan orang lain. Playlist  musik bisa menjadi pintu masuk percakapan, tetapi tidak pernah cukup untuk merangkum kepribadian seseorang. Mungkin sudah waktunya  kebiasaan mengklasifikasikan ini diperlambat. Manusia bukan ringkasan, bisa dibilang ia adalah cerita yang panjang. Cerita tidak pernah bisa dipahami hanya dari satu potong lagu. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *