Kalijaga.co – Di tengah masifnya promosi musik hari ini, media musik independen dinilai masih memiliki peran penting dalam memperkenalkan karya musisi kepada publik. Bagi musisi yang baru memulai karier, kehadiran media musik independen menjadi salah satu ruang publikasi yang membantu karya mereka untuk menjangkau pendengar yang lebih luas. Pandangan tersebut mengemuka dari hasil wawancara bersama seorang musisi, pengelola media musik independen, dan pendengar musik hari ini.
Laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal mencatat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada awal 2025. Angka tersebut menunjukkan besarnya penggunaan media sosial sebagai saluran penyebaran informasi, termasuk untuk memperkenalkan karya musik kepada masyarakat.
Meski media sosial memudahkan musisi mempromosikan karya secara mandiri, gitaris band Countsand, Satura, menilai perjalanan musisi yang baru merintis masih menghadapi tantangan. Menurut Satura, persoalan tidak hanya terletak pada proses kreatif produksi, tetapi juga keterbatasan peralatan musik yang mempengaruhi kualitas penampilan maupun karakter suara yang ingin dihasilkan.
Satura juga menilai perkembangan ekosistem musik membutuhkan dukungan dari pihak diantaranya dukungan sesama musisi dan juga audiens. Dukungan tersebut dapat diwujudkan dengan mendengarkan lagu melalui platform streaming legal, membeli merchandise orisinal, hingga membantu menyebarluaskan karya melalui media sosial.
Menurut Satura, media musik independent juga masih menjadi salah satu pihak yang berperan dalam memperkenalkan band-band baru kepada publik.
“Membantu banget sih. Sepengamatanku band-band yang baru merintis banyak yang naik lewat media platform seperti itu. Kayak di Vix.tape, band-band hanya bermodal memberi audio fisik seperti kaset dan dibahas oleh Vix.tape di YouTube-nya. Itu jadi salah satu sumber pengetahuan band baru juga buat aku sih,” ungkap Satura (25/07).
Pandangan tersebut sejalan dengan yang disampaikan Fadhlilah Winnar Prayitno, pengelola media musik independen Amazine.id melalui akun Instagram @amazinee.id. Menurut Fadhlilah, media musik independen hadir untuk membantu publikasi musisi yang masih under radar dan belum memiliki kemampuan maupun jangkauan promosi yang memadai.
“Peran media dalam ekosistem musik saat ini cukup penting. Mengingat Amazine.id adalah media independen yang berfokus untuk membantu publikasi musisi-musisi independen yang masih under radar. Musisi-musisi ini biasanya belum memiliki kemampuan yang cukup dalam publikasi karya-karya mereka, maka dari itulah media berperan penting untuk publikasi,” ujar Fadhlilah (25/07).
Fadhlilah menjelaskan bahwa tantangan media musik independen saat ini bukan hanya membangun media sejak awal, tetapi juga memperluas jangkauan agar konten yang dipublikasikan dapat menjangkau lebih banyak audiens. Fadhlilah juga menilai ekosistem musik tidak hanya dibangun oleh musisi, melainkan turut didukung oleh fanbase, kolektif musik, penyelenggara acara, hingga para penikmat musik itu sendiri.
Pandangan tersebut turut diamini oleh pendengar musik hari ini, Ivanda Danu Purnomo. Ivanda mengaku lebih sering menemukan band atau lagu baru melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram, juga rekomendasi platform streaming Spotify, maupun unggahan pada akun pribadi band dan akun media musik independen. Bagi Ivanda, media music independen tidak hanya memperkenalkan karya, tetapi juga membuka akses bagi pendengar untuk mengenal sosok di balik karya tersebut.
Ivanda mengungkap jika mengenal Farid Stevy Asta, vokalis FSTVLST, melalui salah satu liputan media musik di Instagram. Sebelumnya, Ivanda hanya mengetahui lagu-lagu FSTVLST tanpa mengenal personel band tersebut.
“Tentu tetap penting, karna ya itu sangat membantu Musisi/band yang belum banyak orang tahu,” tandas Ivanda (25/07).
Derasnya arus promosi digital, ketiga narasumber sama-sama memandang bahwa media musik independen masih memiliki ruang dalam ekosistem musik. Perannya memang tidak lagi menjadi satu-satunya gerbang publikasi, namun tetap menjadi penghubung antara musisi dan pendengar, terutama bagi karya-karya yang belum sempat memperoleh sorotan luas.
Fadhlilah berharap musik-musik independen dapat menjangkau lebih banyak pendengar di Indonesia. Karya-karya yang lebih variatif dan eksperimental juga seharusnya layak memperoleh ruang yang lebih besar agar dapat dikenal masyarakat. Selain itu Fadhlilah juga berharap genre yang telah mengakar, seperti rock dan hip-hop, semakin mendapat tempat melalui berbagai ruang publikasi yang tersedia.
Reporter Reganessa Diosalwa Wisanggeni | Editor Qisthiyatun Nafi’ah