crossorigin="anonymous">

Antara Makeup Waterproof dan Kesempurnaan Wudu : Dilema Kecil Seorang Muslimah

Di tengah rutinitas yang serba cepat, seorang muslimah seringkali dihadapkan pada satu situasi yang rasanya sederhana, tapi cukup membuat keresahan, dimana makeup yang sudah rapi sejak pagi harus berhadapan dengan kewajiban wudu yang tidak hanya sekali dalam sehari. Di satu sisi, tampil on point bukan hanya tentang penampilan, tapi juga tentang rasa percaya diri dalam beraktivitas di ruang publik, seperti kuliah, bekerja, dan lain sebagainya. Namun di sisi lain, ada kesadaran bahwa kesempurnaan wudu itu merupakan syarat sah ibadah yang tidak bisa ditawar, sementara lapisan makeup seringkali justru berpotensi menjadi penghalang air menyentuh kulit.

Perlu diketahui, makeup sendiri memiliki berbagai jenis dan formulasi, seperti waterproof, transferproof, smudgeproof, dan long lasting yang tentunya masing-masing dirancang untuk suatu kebutuhan atau kondisi tertentu. Diantara berbagai jenis tersebut, dalam tulisan ini akan lebih berfokus pada makeup waterproof melihat kemampuannya yang tahan terhadap air, tidak luntur oleh keringat, tidak geser karena hujan, dan tetap rapi tanpa “nge-crack” meski aktivitas padat seharian. Bagi banyak perempuan, terutama yang lebih banyak beraktivitas di luar ruangan, jenis kosmetik ini mungkin adalah sebuah penyelamat karena formulasi yang cocok dengan kebutuhan sehari-harinya.  

Namun, bagi perempuan muslimah, keunggulan makeup waterproof ini justru menimbulkan dilema tersendiri. Saat adzan berkumandang dan kita sebagai seorang muslim harus segera mengambil air wudu, dilema itu sangat terasa. Di saat makeup kita yang rasanya lagi on point banget, tapi harus segera dihapus, tentunya ada rasa galau yang datang, antara dibiarkan saja makeupnya karena ‘sayang’ kalau dihapus, atau menghapusnya karena jika tidak dihapus air yang seharusnya menyentuh kulit justru tertahan oleh lapisan kosmetik yang sengaja dibuat anti air.

Salah satu kosmetik yang sering aku pakai dengan jenis yang waterproof yaitu eye liner. Yap, bagi perempuan-perempuan mungkin sudah tidak asing lagi dengan makeup satu ini. Kalian juga pasti tahu sendiri bagaimana sulitnya membuat garis eye liner yang lurus dan tidak miring antara mata kanan dan kiri. Sekalinya lagi bagus-bagusnya eye liner kita, tiba-tiba wudhlu mengharuskan kita untuk menghapusnya. Memang, rasanya ‘sayang’ banget. Tapi, mau bagaimana lagi sekecil garis eye liner pun jika menghambat masuknya air wudu ke kulit di baliknya, akan tetap merusak kesempurnaan wudu kita.

Aku adalah salah satu orang yang sering menggunakan makeup dalam aktivitas sehari-hariku. Sebelumnya, aku termasuk orang yang kurang memperhatikan apakah makeup yang aku gunakan akan menghalangi air wudu atau tidak. Yang terpikirkan setiap akan wudu itu ya hanya “Ah yang penting kan ngerjain rukun wudhlunya.”

Semua rasanya biasa saja, sampai belakangan muncul kegelisahan kecil yang cukup mengganggu, seperti “Kok rasanya eye liner sama lipstikku ga berubah ya walaupun kena air wudu?” ”Berarti makeup ku ngehalangin air wudu masuk ke kulit dong?” terus “Loh kalau makeup ku ngehalangin air wudu masuk ke kulit, bukannya wudu ku nggak sah ya?” “Kalau wudu ku nggak sah, apalagi salatku?”

Jujur itu cukup mengusik. Setelah itu, aku mulai mencoba untuk membersihkan makeupku sebelum berwudu, karena kalau dipikir-pikir lagi wudu itu kan syarat sahnya salat dan kalau wuduku tidak sah, apalagi salatnya kan?

Keresahan-keresahan tadi ternyata mendorongku untuk mencari jawaban yang lebih pasti, relevan, dan masuk akal, baik secara ilmiah maupun keagamaan. Tujuannya untuk memastikan apakah kekhawatiran itu memiliki dasar yang kuat atau hanya sekadar perasaanku saja.

Dalam satu jurnal kecantikan disebutkan bahwa kandungan yang umumnya digunakan pada kosmetik waterproof adalah dimethicone, merupakan salah satu bentuk dari silikon. Silikon ini kerap digunakan karena memiliki substansi yang membuat formulasi produk semakin lembut, sehingga mudah untuk dibaurkan.

Silikon juga dapat mengisi celah maupun kerak-kerak, termasuk keriput pada kulit juga membentuk lapisan segel di atas kulit sehingga menghasilkan tampilan kulit yang lebih lembut, halus, dan flawless. Sifatnya yang water-resistant menjadikan ‘lapisan’ yang terbentuk oleh silikon memang dibuat untuk memperkuat ketahanan warna makeup juga mencegah riasan luntur karena keringat. Dengan kata lain jenis kosmetik ini memang sengaja dibuat tahan air.

Dilihat dari segi agama pun, sudah diterangkan dalam salah satu kitab fiqih mengenai hail yaitu sesuatu (benda) yang menghalangi sampainya air pada anggota wudu. Kriteria suatu benda dikatakan  hail ini jika dijelaskan oleh para ulama yaitu ketika apabila benda itu kita coba ‘kerik’, benda itu akan terangkat, maka hal itu menandakan ‘ain (benda) nya, bukan hanya sekedar bekas.

Sebagai contoh, saat kita menggunakan maskara waterproof, ketika kita coba ‘kerik’ menggunakan kuku jari tangan langsung, maskara yang kita pakai akan mengelupas dari bulu mata kita. Hal ini menandakan maskara waterproof tadi termasuk hail dan ketika akan wudu kita perlu membersihkannya terlebih dahulu.

Nah, membersihkan jenis kosmetik waterproof ini tidak semudah jenis kosmetik biasanya. Berbeda dengan jenis kosmetik lain yang mungkin hanya dengan membasuhnya dengan air bisa langsung luntur, membersihkan makeup waterproof perlu menggunakan cleansing oil, cleansing balm, atau micellar water khusus (oil-infused), yang bisa melunturkan tanpa perlu menggosok terlalu kuat.

Mungkin setelah itu akan muncul pertanyaan, “Kalau setiap hari bawa micellar water atau clenasing oil yang ukuran botolnya nggak kecil bakal ribet nggak sih?” Benar, memang terdengar ‘riweh’ rasanya kalau setiap saat kita harus membawanya. Tapi sekarang, sudah banyak brand-brand yang mengeluarkan produk micellar cleansing wipes yang simpel, ukurannya kecil, dan mudah dibawa kemana saja. Mungkin, benda ini bisa menjadi solusi untuk kita perempuan-perempuan muslim yang punya kebutuhan untuk selalu tampil on point tanpa harus merusak kebutuhan ibadah kita.

Pada akhirnya, dilema antara menjaga penampilan dan menyempurnakan ibadah bukan soal memilih salah satunya, melainkan tentang menempatkan prioritas dan kesadaran. Makeup waterproof boleh menunjang kepercayaan diri, tetapi ketika ia berpotensi menghalangi sahnya wudhu, maka kesediaan untuk membersihkannya menjadi bentuk tanggung jawab seorang muslimah terhadap ibadahnya. Dengan pemahaman yang tepat serta solusi yang kini semakin praktis, muslimah masih bisa tampil menarik tanpa harus mengorbankan kesempurnaan wudu dan salatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *