crossorigin="anonymous">

Bertahan Menjadi Pemahat di Tengah Zaman yang Berubah

Kalijaga.coPemahat patung di Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, semakin berkurang Minggu (16/11/2025). Dari yang dulunya menjadi mata pencaharian warga lokal. Namun seiring berjalannya waktu, profesi ini mulai ditinggalkan dan hanya beberapa warga yang masih bertahan hingga sekarang.

Salah satu pemahat yang masih bertahan adalah Saroyo (40). “Dulu,  kan disini banyak pemahat, tapi sekarang tinggal sedikit” ungkapnya. Ia sudah belajar membuat patung sejak  masih duduk di bangku sekolah dasar. Hingga kemudian ia mulai menekuni pekerjaan sebagai pemahat patung kurang lebih 10 tahun sejak 2014.

Menurut Saroyo, mempelajari seni itu tidak bisa hanya sekali atau sebulan proses belajar. seperti halnya ia yang sudah mempelajari cara pembuatan patung ini sejak ia masih berada dibangku sekolah dasar.

Saroyo mengungkapkan bahwa kualitas bahan mengalami perubahan. Dari yang dulunya bagus sekarang sudah mulai menurun kualitasnya. Hal itu dikarenakan semakin sedikitnya batu yang berada di sekitar tanah Merapi. Sehingga, bahan baku patung sekarang diambil dari sungai dekat Merapi.

Ternyata,  hal ini juga berdampak pada proses pemahatan patung. Saroyo merasa bahwa bahan sekarang lebih sulit untuk dipahat karena teksturnya yang lebih padat dan keras sehingga lebih sulit dan perlu tenaga ekstra untuk memahatnya.

Untungnya, di zaman sekarang sudah mengalami perkembangan teknologi sehingga ia merasa terbantu dengan adanya gerinda. Alat seperti gerinda membuat pekerjaan menjadi lebih ringan dibandingkan dulu ketika semua harus dikerjakan dengan alat manual. Dengan alat modern, beberapa bagian patung bisa dibentuk lebih cepat sehingga proses pemahatan menjadi sedikit lebih mudah.

Untuk membuat patung kecil, Saroyo biasanya membutuhkan waktu dua sampai tiga hari. Sedangkan patung berukuran besar bisa memakan waktu lebih dari satu minggu. Lama pengerjaan sangat dipengaruhi oleh ukuran patung dan kerasnya batu yang digunakan.

Patung yang paling banyak dipesan adalah patung Buddha. Hal ini karena desa mereka berada tidak jauh dari Candi Borobudur, sehingga banyak wisatawan atau pembeli yang mencari patung dengan tema tersebut. Tantangannya ketika pengrajin harus membuat patung sesuai dengan gambar yang diinginkan pembeli, tetapi tidak ada detail bagian samping dan belakangnya sehingga pengrajin harus mencari detail itu sendiri agar patung yang dibuat tetap sesuai dengan harapan pembeli.

Kerajinan patung dari Desa Tamanagung tidak hanya dijual di sekitar Muntilan. Banyak patung yang dikirim ke luar Jawa seperti Bali, bahkan sampai ke luar negeri. Untuk pengiriman, para pemahat bekerja sama dengan agen agar proses distribusi lebih mudah dan aman.

Menurut Saroyo, ia tetap bertahan sebagai pemahat karena pekerjaan ini memiliki waktu yang fleksibel. Ia tidak terikat jam kerja seperti orang lain. Walaupun Saroyo beragama Islam tetapi menurut prinsip kerjanya, selama pekerjaan tidak merugikan orang lain, pekerjaannya tetap baik. Soal bagaimana patung digunakan, ia menyerahkan sepenuhnya kepada kepercayaan pembeli.

Sementara itu, Wakil Ketua Karang Taruna, Rifki Hasbi (25), mengatakan bahwa kerajinan patung sudah menjadi identitas desa. Karang Taruna sangat mendukung agar kerajinan ini tetap lestari dan tidak hilang. Walaupun mereka belum sempat mempromosikan UMKM kerajinan patung melalui media sosial, Rifki berharap ke depan promosi bisa lebih aktif. Ia mengatakan bahwa Karang Taruna berencana membuat konten dan menyebarkannya di media sosial agar kerajinan patung Taman Agung semakin dikenal dan bisa berkembang lebih besar lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *