crossorigin="anonymous">

Dari Pemilahan Sampah Hingga Kerajinan: Inovasi Pengelolaan Sampah di Dusun Nglawisan

Kalijaga.coWarga Dusun Nglawisan, kabupaten Magelang, secara aktif mengelola sampah rumah tangga untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Upaya ini masih kerap dilaksanakan setiap minggunya untuk mengurangi sampah plastik maupun organik, berdasarkan pernyataan warga pada Minggu (16/11).

Pengelolaan sampah rumah tangga Dusun Nglawisan sudah dilakukan sejak tahun 1980-an. Meski setiap RT memiliki pengelolaan yang berbeda, para warga tetap berkomitmen untuk memilah sampah secara mandiri, memisahkan sampah organik hingga anorganik.

Perbedaan pengelolaan sampah antar-RT tidak mengurangi kepedulian warga tentang isu sampah sekitar. Budi, Ketua Rukun Tetangga (RT) 03, menyatakan para warga RT 03 rutin membayar petugas kebersihan yang bertugas mengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setiap hari.

“Untuk pengelolaan sampah, memang kami bayar untuk setiap bulan petugas sampah tersebut, selain petugas sampah kami juga melibatkan warga masyarakat, kami bayar setiap bulan, kami buang ke TPA yang ada,” ujar Budi, Ketua RT 03.

Sementara itu, di RT 01 dan RT 04, warga menerapkan sistem iuran sukarela dengan nominal minimal 3 ribu. Sampah yang sudah dipilah akan diambil oleh pengepul yang kemudian memberi imbalan berupa uang, dimana uangnya akan kembali ke warga lagi. Sampah-sampah itu diambil setiap hari Jum’at dan Minggu.

Titik Indrayani, yang merupakan salah satu warga Dusun Nglawisan menyatakan bahwa biasanya akan ada pengepul yang datang dan menghitung hasil uang yang didapat dari pengumpulan sampah setiap bulannya.

“Nanti akan ada pengepul yang datang ke sini. Dalam sebulan dihitung total hasilnya, lalu biasanya dana tersebut di akhir tahun digunakan untuk kegiatan bersama,” ucap Titik Indrayani salah seorang warga Dusun Nglawisan.

Selain memilah sampah, beberapa warga memanfaatkan sampah organik rumah tangga untuk membuat pupuk kompos. Sampah seperti sisa sayuran, daun kering, dan sampah dapur lainnya diolah menjadi pupuk yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman kebun warga.

“Kalau sampah organik mah cuman ditaruh di pohon-pohon atau tanaman,” ucap Titik Indrayani lagi.

Adapun, Siti Maryati selaku pengurus Pemberdayaan dan Kesejahteraan keluarga (PKK), mengatakan bahwa beberapa warga juga memanfaatkan sampah organik untuk membuat kompos hingga membuat Pupuk Organik Cair (POC).

“Untuk sampah organik, itu kita buat kompos, tapi itu biasanya yang berkebun yang membuat seperti itu, kalau saya itu tak buat POC, pupuk organik cair,” ujar Siti Maryati selaku pengurus PKK.

Di RT 04, sampah kardus dan botol plastik, yang dapat didaur ulang dikumpulkan secara mingguan, sampah-sampah tersebut akan dibuat kerajinan oleh warga yang memiliki waktu luang. Kerajinan yang dibuat adalah lentera, vas bunga, tas, dan keterampilan lainnya.

kemudian, keterampilan tersebut ada sebagian yang disimpan dan dijual. Uang hasil penjualan akan disimpan oleh Dasawisma, kelompok kecil PKK di tingkat RT yang beranggotakan beberapa Kepala Keluarga.

Meski demikian, kesadaran pengelolaan sampah belum sepenuhnya merata. Masih ditemukan beberapa warga yang enggan membuang sampah di TPA dengan alasan sibuk, bahkan mereka lebih memilih untuk membakar sampah yang berpotensi mencemari lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *