Kalijaga.co – Langit Solo sore itu sedang tak bersahabat. Awan gelap yang menggantung akhirnya menumpahkan rintik hujan membasahi tanah. Di balik tenda-tenda besar yang memisahkan laki-laki dan perempuan, aku duduk bersama ratusan orang lainnya menunggu waktu suci yakni berbuka puasa.
Menunggu beduk maghrib di Masjid Raya Syekh Zayed itu bukan soal adu sabar menahan lapar. Jikalau kita perhatikan bungkusan takjil di tangan, di situ tersimpan cerita tentang dapur-dapur kecil yang tengah berjuang. Tak sedikit yang menyangka ribuan paket nasi ini datang dari perusahaan katering besar. Padahal, ceritanya jauh lebih sederhana dan hangat. Pihak masjid justru sengaja menggandeng UMKM lokal di sekitar Solo Raya.
“Jadi, takjil ini datangnya enggak semata-mata langsung ada, ya. Kita bekerja sama dengan UMKM itu pasti, karena kita pingin memperdayakan UMKM. Kita membeli produk-produk mereka, kemudian dibagikan secara gratis,” ujar Farid Hidayat, salah satu Humas Masjid Raya Syekh Zayed Solo.
Sehingga yang menyiapkan makanan kita bukanlah mesin pabrik. Melainkan para pelaku usaha rumahan yang memang sehari-harinya menyambung hidup dari jualan nasi.
Bayangkan, setiap kotak makanan yang kita buka adalah hasil kerja keras dari dapur rumah warga. Pengurus masjid tidak sekadar membeli putus, melainkan mereka melakukan inspeksi langsung ke dapur-dapur UMKM untuk memastikan kebersihan dan kelayakan bahan. Tidak ada ruang main-main, karena ini bukan sekadar urusan perut, tapi urusan menjaga amanah dari tanah Arab.
Pada pangkuan kami, sebuah kotak iftar tampak begitu kokoh. Ini bukan sekadar nasi bungkus biasa, tapi di dalamnya ada standar yang harus “tuntas”. Ada nasi yang mengepul, lauk hewani yang pas, sayur, sambal, hingga buah sebagai pencuci mulut.
Namun, yang lebih menarik bukan hanya isinya, tetapi cerita di baliknya. Bayangkan, ada “dapur raksasa” yang melibatkan 125 pelaku UMKM hanya untuk urusan takjil, ditambah 36 vendor lainnya yang bertaruh nasib pada menu berat. Mereka tidak bisa datang, setor, lalu hilang begitu saja. Ada sistem kurasi yang cukup bikin jantung berdebar riuh. Begitu rasa berubah hambar atau bobot nasi menyusut sedikit saja, kontrak mereka taruhannya. Posisi mereka bisa langsung digantikan oleh antrean vendor lain yang sudah siap siaga di periode berikutnya.
“Semua makanan itu harus memenuhi syarat bergizi di mata kami. Misalnya harus ada lauk hewani, kemudian lauk pendamping, ada sambal, ada sayur, nasi, dan buah,” ucap Farid Hidayat.
Oleh karena itu, setiap sore, yang tersaji di hadapan kami sebenarnya adalah hasil dari sebuah kompetisi sunyi. Para pedagang kecil ini berlomba-lomba memberikan yang terbaik. Tak hanya mengejar keuntungan, tapi demi sebuah kehormatan. Puncaknya nanti di malam Nuzulul Qur’an, mereka yang paling konsisten menjaga rasa akan dipanggil untuk menerima penghargaan sebagai penyedia terbaik.
Sembari menyuap nasi, saya tersadar bahwa di balik nikmatnya berbuka, ada perjuangan UMKM yang menjaga kualitas dengan sepenuh hati. Seolah-olah setiap kotak yang mereka antar adalah tiket menuju keberkahan yang lebih besar.
Di balik tenda-tenda distribusi, kita akan melihat senyum tulus para relawan yang cekatan. Dana dari pemerintah Uni Emirat Arab melalui Zayed Foundation tidak berhenti di angka-angka statistik, tapi menjelma menjadi ribuan piring kebahagiaan yang menyatukan si kaya dan si miskin dalam satu barisan saff yang sama.
Sebagai rumah ibadah, Masjid Raya Syekh Zayed Solo juga butuh waktu untuk “bernapas”. Pengelola sengaja tidak membukanya selama 24 jam penuh pada hari biasa demi menjaga keawetan fasilitas, terutama sistem AC sentral yang butuh waktu istirahat agar tetap prima. Biasanya, gerbang akan perlahan tertutup begitu lantunan tadarus usai.
Namun, suasana akan berubah total saat memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Inilah momen di mana masjid benar-benar “hidup” sepanjang hari bagi para pemburu Lailatul Qadar. Meski pengelola tidak menyediakan hidangan sahur, antusiasme jamaah untuk i’tikaf tak pernah surut. Mereka biasanya beristirahat sejenak di tenda-tenda yang disediakan sebelum akhirnya diperbolehkan masuk ke ruang utama pada pukul dua dini hari.
Terselip aturan ketat yang harus dipatuhi di balik kemegahan, sebagai penghormatan terhadap tradisi UEA. Seperti kewajiban menutup aurat atau minimal mengenakan penutup kepala bagi perempuan. Walau terkadang menjadi tantangan bagi turis mancanegara, ketegasan ini justru yang membuat kesucian masjid ini tetap terjaga di tengah hiruk-pikuk kunjungan wisata. Dengan demikian, setiap suapan iftar di sini terasa berbeda. Ada rasa syukur yang berpadu dengan kebanggaan lokal Solo dan dari tangan-tangan tetangga kita sendiri. Sebuah diplomasi kemanusiaan tingkat dunia sedang dirayakan dengan penuh khidmat.
Penulis: Izza Aziza Queen Sophia , Agna Niha Azzahra, Dinda Ayu Oktaviani, dan Ilma N’matul Fahmi | Editor: Zahrah Suci Al Aliyah