Kalijaga.co – Dunia media dan komunikasi sering dipandang sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja. Kreativitas, kemampuan berbicara, dan ide-ide segar menjadi kunci utama untuk berkembang. Dalam gambaran ideal, industri ini terlihat inklusif tidak lagi mempersoalkan latar belakang, termasuk gender. Namun, di balik kesan tersebut, muncul pertanyaan yang layak diajukan: apakah peluang karier di dunia media benar-benar sudah setara, atau hanya tampak setara di permukaan?
Jika dilihat sekilas, perempuan memiliki kehadiran yang cukup kuat di industri media. Mereka bekerja sebagai jurnalis, penyiar, content creator, hingga praktisi komunikasi di berbagai platform. Bahkan, di beberapa bidang, jumlah perempuan terlihat hampir seimbang dengan laki-laki. Kondisi ini sering dianggap sebagai tanda bahwa kesetaraan gender sudah mulai terwujud.
Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Berdasarkan riset dari McKinsey & Company, perempuan memang cukup banyak berada di level awal karier dalam industri media. Akan tetapi, seiring meningkatnya jenjang jabatan, jumlah tersebut justru semakin berkurang. Posisi strategis seperti manajer, direktur, hingga pimpinan masih didominasi oleh laki-laki. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya soal akses untuk masuk, tetapi juga tentang kesempatan untuk berkembang.
Kondisi ini sering diibaratkan sebagai “batas tak terlihat” yang menghambat perempuan untuk naik ke posisi lebih tinggi. Hambatan tersebut tidak selalu berupa aturan yang jelas, melainkan hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti penilaian yang subjektif, stereotip terhadap kemampuan perempuan, hingga budaya kerja yang belum sepenuhnya mendukung kesetaraan. Dalam situasi seperti ini, perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama.
Temuan tersebut juga diperkuat oleh penelitian dari City, University of London yang menunjukkan bahwa ketimpangan gender di industri media tidak hanya terlihat dari struktur jabatan, tetapi juga dari pengalaman kerja sehari-hari. Banyak perempuan mengaku menghadapi hambatan yang lebih besar, mulai dari perlakuan yang tidak setara hingga keterbatasan peluang untuk berkembang. Dalam jangka panjang, kondisi ini memengaruhi tingkat kepuasan kerja dan bahkan mendorong sebagian dari mereka untuk keluar dari industri.
Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan yang terlihat di permukaan belum tentu mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Di satu sisi, perempuan diberi ruang untuk masuk ke dunia media. Namun di sisi lain, perjalanan mereka untuk bertahan dan berkembang masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Inilah yang membuat kesetaraan di industri media terasa seperti ilusi ada, tetapi belum sepenuhnya nyata.
Selain itu, standar penilaian di dunia media juga sering kali berbeda. Perempuan tidak jarang dinilai tidak hanya dari kemampuan, tetapi juga dari aspek lain seperti penampilan, cara berbicara, bahkan sikap. Sementara itu, laki-laki cenderung lebih fokus dinilai berdasarkan kompetensi dan hasil kerja. Perbedaan standar ini secara tidak langsung memengaruhi peluang karier, terutama ketika memasuki posisi yang membutuhkan otoritas dan kepemimpinan.
Di sisi lain, media memiliki peran yang cukup kompleks dalam persoalan ini. Media bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang yang membentuk cara pandang masyarakat. Ketika posisi pengambil keputusan masih didominasi oleh laki-laki, maka perspektif yang dihasilkan pun berpotensi tidak sepenuhnya mencerminkan keberagaman. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi bagaimana perempuan diposisikan, baik di dalam industri maupun di ruang publ
Menariknya, ketimpangan ini sering kali tidak disadari. Banyak institusi media yang secara formal sudah mengusung nilai kesetaraan. Namun, dalam praktiknya, kesempatan untuk promosi, akses terhadap proyek penting, hingga ruang untuk menunjukkan kemampuan masih belum sepenuhnya merata. Kondisi ini membuat kesetaraan terlihat ada, tetapi belum benar-benar dirasakan.
Di era digital, sebenarnya peluang untuk menciptakan perubahan semakin terbuka. Media tidak lagi terbatas pada institusi besar, tetapi juga hadir dalam bentuk platform digital yang lebih fleksibel. Perempuan kini memiliki ruang yang lebih luas untuk membangun karier secara mandiri, menyampaikan gagasan, dan menjangkau audiens tanpa harus selalu bergantung pada struktur lama.
Namun demikian, tantangan tetap tidak bisa diabaikan. Tekanan untuk selalu tampil sempurna, ekspektasi sosial yang berbeda, serta persaingan yang semakin ketat menjadi hambatan tersendiri. Tanpa adanya kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih adil, peluang yang ada bisa saja tidak cukup untuk mengubah keadaan secara signifikan.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang kesetaraan gender di dunia media tidak bisa dijawab dengan sederhana. Di satu sisi, kemajuan memang telah terjadi dan patut diapresiasi. Namun di sisi lain, masih ada kesenjangan yang perlu diperbaiki, terutama dalam hal kesempatan untuk berkembang dan mencapai posisi strategis.
Maka, yang perlu kita renungkan bukan hanya apakah dunia media sudah terbuka bagi semua gender, tetapi juga apakah sistem di dalamnya benar-benar memberikan ruang yang adil. Sebab, kesetaraan yang sejati bukan hanya tentang kehadiran, melainkan tentang kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkontribusi, dan dihargai secara setara.
Penulis: Muhammad Achyar | Editor: Ahmad Nuryogi Ardiansyah