Kalijaga.co – Perkembangan dunia fashion saat ini telah menunjukkan perubahan yang cukup signifikan, terutama dalam keterlibatan laki-laki pada penampilan. Jika dahulu fashion lebih identik dengan perempuan, kini telah berubah, banyak laki-laki yang sudah mulai menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup. Mereka tidak lagi hanya berpakaian sekadar rapi, tetapi juga memperhatikan estetika, warna, hingga detail penampilan.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi lewat. Data menunjukkan bahwa minat laki-laki terhadap fashion terus mengalami peningkatan. Di Australia, penjualan busana pria tercatat meningkat sebesar 3 persen, lebih tinggi dibandingkan busana perempuan yang hanya 2 persen, begitu juga fashion yang ada di Indonesia, dengan berbagai trend yang muncul dari benua luar. Hal ini menunjukkan bahwa fashion kini tidak lagi didominasi oleh satu gender, melainkan menjadi ruang yang lebih terbuka bagi siapa saja.
Bagi sebagian laki-laki, terutama mahasiswa, fashion bukan hanya soal gaya, tetapi juga cara untuk mengekspresikan diri. Pakaian menjadi bentuk komunikasi non-verbal yang mencerminkan kepribadian, kepercayaan diri, bahkan cara pandang seseorang terhadap dunia. Dalam konteks ini, fashion bukan lagi sekadar penampilan luar, melainkan bagian dari identitas, jika dia bersih dan rapi maka akan lebih terlihat menawan dibandingkan sebaliknya
Pandangan bahwa fashion merupakan bentuk ekspresi diri juga disampaikan oleh pelaku industri. Dika, pendiri dan Direktur Kreatif Studio Moral sekaligus Direktur Kreatif Jakarta Fashion Week, menyebut bahwa pakaian pada dasarnya tidak memiliki batasan gender. “Baju itu genderless; tak ada batasan baju untuk laki atau perempuan. Siapa pun bisa memakainya asal merasa nyaman,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pilihan pakaian merupakan bentuk ekspresi diri dari pemakainya.
Seiring perkembangan zaman, makna maskulinitas juga mengalami perubahan. Jika dulu laki-laki identik dengan penampilan sederhana dan tidak terlalu memperhatikan detail bahkan pada kerapiannya, kini hal tersebut tidak lagi mutlak. Laki-laki modern cenderung lebih fleksibel dalam mengekspresikan diri, termasuk melalui pilihan fashion yang semakin beragam, mulai dari warna style dan lainnya.
Fenomena ini sekarang juga sudah sering terlihat di lingkungan kampus , di mana semakin banyak mahasiswa laki-laki yang berani tampil lebih ekspresif dalam berbusana. Gaya yang ditampilkan pun beragam, mulai dari yang sederhana hingga yang mengikuti tren, seperti starboy, skena, bahwa ustadz modern. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki keberanian untuk keluar dari batasan-batasan yang sebelumnya dianggap umum.
Namun, perubahan ini tidak sepenuhnya berjalan tanpa hambatan . Di tengah keterbukaan yang mulai berkembang, masih ada norma sosial yang kuat dalam masyarakat. Norma ini tidak selalu tertulis, tetapi membentuk cara pandang tentang bagaimana laki-laki “seharusnya” tampil. Standar tersebut kemudian menjadi acuan dalam menilai seseorang.
Akibatnya, laki-laki yang tampil lebih ekspresif dalam dunia fashion sering kali mendapatkan stigma. Mereka bisa dianggap berlebihan karena tidak sesuai dengan kaedah lelaki pada umumya, bahkan dinilai kurang maskulin. Penilaian seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya siap menerima perubahan yang sedang terjadi.
Di lingkungan kampus, stigma ini juga tidak jarang muncul. Mahasiswa laki-laki yang memiliki minat di dunia fashion terkadang harus menghadapi komentar atau pandangan yang kurang menyenangkan. Padahal, apa yang mereka lakukan pada dasarnya adalah bentuk ekspresi diri dan bisa meningkatkan minat mereka dalam berseni pada penampilan, dam hal ini juga tidak merugikan orang lain.
Di sisi lain, masyarakat tentu memiliki nilai-nilai yang telah lama dijaga. Dalam beberapa pandangan, termasuk perspektif keagamaan, terdapat penekanan untuk menjaga perbedaan antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam hal penampilan. Hal ini kemudian memunculkan perdebatan, terutama ketika batas antara maskulin dan feminin dalam fashion mulai terlihat semakin kabur.
Melihat fenomena ini, penting untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian. Masalahnya bukan hanya pada apa yang dikenakan, tetapi juga pada bagaimana masyarakat memberi makna terhadap penampilan tersebut. Ketika seseorang dinilai hanya dari cara berpakaian, maka yang terjadi adalah penyederhanaan terhadap identitas yang sebenarnya lebih kompleks.
Sebagai mahasiswa, diperlukan sikap yang lebih bijak dalam menyikapi fenomena ini. Kebebasan dalam berekspresi memang begitu sangat penting, tetapi juga perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap norma sosial yang ada. Begitu pula sebaliknya, masyarakat perlu lebih terbuka dalam memahami perubahan yang ada, tanpa langsung memberikan stigma terhadap hal yang berbeda, karena di era sekarang justru semakin meningkat.
Peran media sosial juga tidak bisa diabaikan dalam membentuk cara pandang terhadap fashion laki-laki saat ini. Platform seperti Instagram dan TikTok memberikan ruang yang luas bagi siapa saja untuk menampilkan gaya berpakaian mereka, termasuk laki-laki dengan gaya yang lebih ekspresif. Melalui media sosial, berbagai tren dengan cepat menyebar dan mempengaruhi cara berpikir generasi muda tentang penampilan. Di satu sisi, hal ini membuka peluang bagi laki-laki untuk lebih bebas mengekspresikan diri. Namun di sisi lain, media sosial juga dapat memperkuat standar tertentu yang justru menciptakan tekanan baru dalam berpenampilan.
Pada akhirnya, keseimbangan antara kebebasan individu dan norma sosial menjadi kunci dalam menyikapi fenomena ini. Dengan adanya sikap saling memahami, ruang untuk berekspresi tetap dapat terbuka tanpa harus menimbulkan konflik yang berlebihan. Karena pada dasarnya, setiap individu memiliki cara masing-masing untuk menunjukkan dirinya, dan hal tersebut merupakan bagian dari dinamika kehidupan sosial yang terus berkembang.
Penulis: Muhammad Achyar