Kalijaga.co – Mahasiswa Komunikasi penyiaran islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga, raih penghargaan pada perlombaan festival film pendek teman anak yang diadakan oleh ecpat indonesia pada Rabu (12/2/2025). Pasalnya, film yang diberi judul “Kancing” itu di produksi sejak bulan November 2024, dan mengangkat isu cyberbullying yang kerap terjadi dikalangan pelajar.
Menanggapi hal tersebut, Saptoni, selaku ketua prodi KPI turut mengapresiasi penghargaan yang diraih oleh mahasiswanya.
“Kalau saya menganggap kejuaran-kejuaran yang kalian dapatkan itu, itu baru latihan-latihan saja, itu prestasi yang luar biasa untuk setingkat mahasiswa,” jelas Saptoni, Kamis (13/02/2025).
Dalam wawancaranya ketika Saptoni ditanyai mengenai apresiasi khusus bagi mahasiswa berprestasi, mengatakan bahwa tidak ada apresiasi khusus semacam dana yang diberikan dari pihak prodi.
“Selama ini prodi tidak ada dana khusus, semua yang terkait dengan mahasiswa itu masuknya dibawah Wakil Dekan 3”, jelas Saptoni.
Ia berharap untuk kedepannya para mahasiswa KPI, dapat menjadikan kejuaraan semacam ini sebagai media untuk terus mengasah kemampuan ke level yang lebih tinggi. Ia juga berharap mahasiswa mampu untuk terus mengembangkan kreativitasnya.
“Teman-teman jangan terbebani dengan banyak hal yang sifatnya administratif, ada dana ya kreatif, ngga ada dana ya tetap kreatif, jangan materi jadi modal utama”, ujar Saptoni.
Menurut Davi, selaku sutradara, film pendeknya bertujuan menyuarakan kasus Cyberbullying dan memberikan solusi bagi para korban.
“Enggak harus ngelawan mereka, cukup kendalikan diri sendiri. intinya film ini masih enak banget ditonton dan dicerna, karena pesannya yang mudah diterima dan pembungkusan filmnya yang sangat fiktif, unik dan kreatif, namun membawa makna kuat disetiap scenenya”, ujar Davi.
Davi juga mengungkapkan harapan untuk dirinya serta seluruh teman-teman crew yang ada, agar jangan pernah puas untuk haus dan terus belajar.
Akmal Ihsan, selaku pengamat film sekaligus ketua Jamaah Cinema Mahasiswa 2024 mengatakan bahwa konsep dan ide dari film “kancing” ini sangat menarik. Ia merefleksikan film ini dari sebuah pepatah yang mengatakan, “Kebaikan akan terkalahkan oleh kejahatan yang terorganisir”.
“Dengan mengorganisir para korban bullying untuk menyuarakan haknya adalah salah satu langkah yang baik untuk melawannya, dan dari segi cerita, film ini menjadi kreatif”, ujar Akmal.
Akmal juga menambahkan bahwa alur cerita film “kancing” yang mengangkat isu seputar anti cyber bullying ini, cukup menjelaskan bentuk dan kondisinya. Akan tetapi menurut akmal ada salah satu scene yang menjadi poin minus bagi dirinya.
Pasalnya, didalam filmnya terdapat sebuah scene dari salah satu korban bullying yang ditertawakan akibat kencing di celana oleh rekan sesama korban bullying juga. Ia menilai bahwa hal itu menunjukan ketidakkonsistenan posisi mereka.
“Rasanya tidak perlu ada atau bisa diganti dengan adegan lain, karena menjadi ketidak konsistenan posisi mereka. Bisa menimbulkan pembenaran persepsi bahwa pembully adalah korban bully yang menunggu sasarannya saja, yaitu yang bisa ditindas olehnya”, ungkapnya.
Di akhir wawancara akmal mengungkapkan apresiasi kepada seluruh crew yang terlibat serta harapan dari film ini kepada masyarakat luas.
“Aku sangat mengapresiasi jerih payahnya untuk para cast, crew, dan semua yang terlibat dalam keseluruhan produksi film ini. Semoga menjadi amal jariyah dan manfaat untuk banyak orang”.
Reporter Ahmad Al Hafidz dan Fatah Elhusein | Editor Adelia Mehra Fakhrina
- Kapan 1 Ramadhan 1447 H? Ini Penetapan Muhammadiyah dan Jadwal Sidang Isbat Pemerintah - 16 Februari 2026
- Menjadi Perokok yang Baik: Sebuah Renungan untuk Menghargai Ruang Bersama - 4 Agustus 2025
- Negosiasi Tingkat Tinggi: Gua dan Koloni Semut - 4 Agustus 2025