crossorigin="anonymous">

Merosotnya Minat Masyarakat Terhadap Kain Batik

Kalijaga.co- Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki kekayaan berupa warisan budaya, salah satu warisan budaya itu adalah batik, tapi sangat disayangkan karena saat ini kain batik sedang tidak baik baik saja, para peminat kain batik sedang anjlok.

Akhir-akhir ini kita sering menjumpai pemuda lebih gemar memakai baju bercorak ala korea dan style lainnya, sebenarnya Indonesia tidak kekurangan corak soal stel pakaian, apalagi dibidang motif batik selain itu natik juga mempunyai kekayaan makna filosofisnya, tapi semua itu terasa hambar karena masyarakat nya sendiri kurang peduli terhadap warisan budaya tersebut.

Kata batik sendiri dalam kutipan bukunya Herry Lisbijanto berasal dari bahasa jawa yaitu “amba” dan “titik”. Amba sendiri artinya menulis dan titik yang berarti titik. Dalam proses pembuatan kain batik melalui sebuah tulisan atau ukiran dan sebagian nya lagi ditambahi titik-titik.

Mohammad Ridwan pengusaha muda toko kelontong asal Madura menjelaskan bahwa sebenarnya kita punya kewajiban untuk menjaga budaya leluhur, akan tetapi dirinya sendiri sampai saat ini kurang srek dengan corak batik sehingga lebih memilih produk luar negeri.

“Saya sangat bangga memiliki warisan batik tapi saya sendiri kurang suka ketika memakai baju batik, dikarenakan kelihatan seperti orang tua juga kelihatan formal” ucapnya saat diwawancarai 28, 09,24

Ridwan juga menyampaikan bahwa sebenarnya dia sedikit memahami soal batik tersebut, batik Indonesia itu kaya akan filosofi masyarakat itu sendiri seperti halnya yang diungkapkan oleh S.K Sewan Susanto dalam bukunya, batik Indonesia dinilai kaya akan teknik, simbol, filosofi, dan budaya yang terkait dengan kehidupan masyarakat. Tuturnya

Salah satu pengrajin batik, siti aminah mengeluhkan soal rendahnya minat masyarakat terhadap kain batik perlu, dan dia sangat kesulitan untuk menawarkan batiknya. Saya sudah tidak tahu lagi gimana caranya agar masyarakat bisa suka batik, jujur akhir-akhir ini pesanan saya menurun sekali, biasanya seminggu sekali itu ada 2-5 orang yang mesan, tapi sekarang harus nunggu acara-acara tertentu seperti pernikahan atau wisuda. Ungkapnya saat di wawancarai dikediaman nya 29, 09,24

Aminah juga menjelaskan bahwa dia sangat sedih dan bingung karena jika terus-terusan seperti ini usahanya bisa tutup. Saya hanya bisa berusaha dan berdoa, tapi jika masih saja seperti ini mungkin saya akan cari peluang lain, usaha batik ini saya tutup. Saya hanya berharap semoga pemerintah lebih bisa memperhatikan para pelaku usaha batik ini, karena saya rasa mereka para pengrajin batik bukan sekedar numpang hidup lebih dari itu, Mereka juga berniat untuk menjaga melestarikan batik Nusantara.Tuturnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *