Kalijaga.co – Sore itu, langit Yogyakarta tampak sedikit meredup, namun suhu udara masih menyisakan sisa-sisa panas yang cukup menyengat. Di depan gedung Multi Purpose (MP), suasana jauh dari kata tenang. Setelah jam perkuliahan yang melelahkan usai, pelataran gedung itu beralih fungsi menjadi titik kumpul yang riuh.
Aku berdiri di sana, di antara teman-teman pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMPS KPI) yang tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sibuk memastikan jumlah kotak makanan, ada yang sedang menata barang-barang bawaan, dan ada pula yang sedang sibuk menghubungi anggota lainnya.
Rasa penat yang biasanya membuatku ingin segera pulang ke rumah dan merebahkan diri, sore itu seolah menguap begitu saja. Ada energi berbeda yang menyelimuti kami semua. Nama organisasi yang kami bawa bukan sekadar nama yang tertera, melainkan sebuah simbol tanggung jawab besar yang tengah kami pikul.
Sore itu bukan soal mengejar nilai atau berdebat tentang teori di ruang kelas, tapi tentang janji kemanusiaan yang akan kami tunaikan di Panti Hafara.
Sebelum roda motor mulai berputar, kami semua baris melingkar di satu titik. Di tengah bisingnya lalu lintas jalanan kampus dan hiruk-pikuk mahasiswa lain yang berlalu-lalang, kami menundukkan kepala sejenak. Keheningan merayap saat doa dipanjatkan. Dalam diam itu, aku membatin, memohon agar perjalanan dan niat baik kami diberi kelancaran.
Namun, suasana yang tadinya khidmat langsung pecah dan berubah menjadi kobaran semangat saat kami melakukan ‘tes ombak’. Suara jargon HMPS KPI yang kami teriakkan bersama-sama bukan sekadar teriakan formalitas. Bagiku, itu adalah cara kami menyatukan frekuensi, memompa nyawa ke dalam niat masing-masing agar saat sampai di sana nanti, kami membawa energi positif yang utuh dan tulus.
Setelah persiapan tuntas, instruksi untuk berangkat pun diberikan. Aku dan teman-teman mulai beranjak menuju kendaraan masing-masing sesuai dengan pembagian boncengan yang telah disusun rapi oleh panitia.
Ada pemandangan yang menyentuh hatiku saat itu, setiap motor tidak hanya membawa dua orang manusia, tetapi juga membawa suatu amanah. Hampir setiap motor membawa setidaknya satu barang titipan di sela-sela pijakan kaki atau dipangku oleh rekan yang dibonceng. Entah itu kardus berisi logistik, kantong plastik berisi konsumsi, atau bingkisan lainnya.
Barang-barang itu menjadi saksi bahwa setiap dari kami memiliki peran penting dalam perjalanan ini. Kami membelah jalanan Yogyakarta yang mulai padat, bergerak dalam iring-iringan kecil menuju satu tujuan yang pasti.
Setibanya di Panti Hafara, rasa lelah akibat perjalanan dan kemacetan seketika luntur tanpa sisa. Aku tertegun saat melangkahkan kaki memasuki area panti. Ternyata, Oma dan Opa sudah berkumpul di sana. Mereka tidak hanya sekadar menunggu, tapi terlihat sangat bersemangat menyambut kedatangan kami.
Saat aku mulai memasuki tempat acara, mataku beradu pandang dengan wajah-wajah yang guratan usianya bercerita tentang banyak pengalaman hidup. Sambutan mereka yang begitu tulus, diiringi senyuman lebar yang menghiasi keindahan raut wajah itu, langsung menyergap hatiku dengan kehangatan yang sulit dijelaskan. Di detik itu juga, sebuah perasaan syukur yang mendalam menyusup ke palung hati.
Acara pun dimulai, dan momen yang paling membekas bagiku adalah saat memasuki sesi ruang kreatif. Kami semua duduk melingkar, membaur tanpa sekat dengan Oma dan Opa. Di tangan kami masing-masing, sudah tersedia kawat bulu berwarna-warni yang akan kami rangkai menjadi bunga.
Aku duduk berhadapan langsung dengan salah satu Opa, mencoba membantunya meliukkan kawat-kawat kecil itu menjadi kelopak bunga yang indah. Jemari mereka mungkin sudah tidak selincah dulu, namun semangat yang mereka tunjukkan justru membuatku malu jika aku sendiri merasa lelah.
Waktu berlalu begitu cepat hingga azan Maghrib berkumandang. Kami sejenak berhenti dari segala aktivitas untuk menikmati hidangan berbuka puasa. Saat itulah, dalam suasana yang lebih santai sambil menyantap minuman berbuka, aku menyempatkan diri untuk berbincang dengan teman-teman di sebelahku .
Aku melihat ke arah Daris, Gusti, Tari, dan Nisa yang duduk tak jauh dariku. Wajah mereka tampak tenang namun memancarkan binar yang berbeda dari biasanya.
“Gimana perasaan kalian hari ini?” tanyaku pelan di sela-sela tegukan minuman kami.
Daris menghela napas panjang, sebuah senyuman kecil menghiasi wajahnya. Ia mengaku merasa sangat terharu bisa melihat langsung kebahagiaan Oma dan Opa. Gusti dan Tari pun mengangguk setuju, mereka merasa bahwa kelelahan setelah seharian di kampus terbayar lunas dengan satu senyuman tulus yang kami dapatkan di sini.
Sementara Nisa menambahkan bahwa ia merasa penuh akan rasa syukur. Ternyata, kami semua merasakan hal yang sama yaitu kebahagiaan yang sangat murni dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kami yang awalnya datang dengan niat untuk menghibur, justru merasa kamilah yang sedang dihibur dan dikuatkan oleh mereka.
Melalui kegiatan “HMPS KPI Berbagi Kasih” ini, aku mendapatkan sebuah pelajaran berharga tentang makna kehidupan. Sebagai mahasiswa, sering kali aku terlalu fokus pada pencapaian akademis dan ambisi pribadi.
Namun di Panti Hafara, aku belajar bahwa ada sisi dunia yang berjalan dengan lebih jujur dan tabah. Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari hal-hal besar, melainkan bisa lahir dari hal-hal sesederhana seulas senyuman tulus atau seikat bunga dari kawat bulu yang dibuat bersama-sama.
Sore itu, ketika matahari benar-benar tenggelam dan kami harus berpamitan, aku merasa membawa “oleh-oleh” yang sangat berharga dalam batinku. Bunga kawat yang kami buat mungkin tertinggal di panti itu, tapi kenangan akan binar mata Oma dan Opa serta kebersamaan dengan HMPS KPI akan terus kusimpan dengan rapi.
Kami pulang dengan hati yang jauh lebih penuh. Perjalanan ke Hafara sore itu bukan sekadar program kerja organisasi, melainkan sebuah perjalanan pulang menuju sisi kemanusiaan kami yang paling dasar.
Penulis: Raisya Pun Syahdillah | Editor: Linda Setiyani