crossorigin="anonymous">

“Tadarus Puisi” Teater Eska Angkat Tema Kesadaran Diri Manusia Lewat Pementasan Taskhir

Kalijaga.co – Teater Eska menggelar pementasan bertajuk Tadarus Puisi pada Sabtu, 7 Maret 2026 di Gelanggang Teater Eska. Kegiatan yang rutin diadakan setiap bulan Ramadhan ini menghadirkan pembacaan puisi yang dipentaskan dalam bentuk teater dengan tema-tema religi yang berkaitan dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis.

Pada tahun ini, pementasan mengangkat naskah berjudul Taskhir yang terinspirasi dari puisi “Penaklukan Alam” karya Muhammad Iqbal. Pertunjukan tersebut membahas kegelisahan manusia modern yang hidup di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, perlahan kehilangan kesadaran akan dirinya sendiri.

Sutradara pementasan, Angelita Puspa Rachmawati, menjelaskan bahwa pertunjukan ini mengangkat tema besar kebahagiaan manusia dengan gagasan utama taskhir, yaitu upaya manusia menaklukkan alam demi kebermanfaatan. Konsep tersebut dipadukan dengan filsafat khudi dari Muhammad Iqbal yang menekankan pentingnya kesadaran diri manusia.

“Dalam konsep khudi ada empat tahapan, yaitu kesadaran awal, pergulatan batin, cinta, dan tindakan. Tahapan itu menjadi struktur perjalanan manusia dalam memahami dirinya,” papar Angelita selaku sutradara pertunjukan Tadarus Puisi ini.

Ia menambahkan, gagasan tersebut di-framing melalui pendekatan kehidupan modern yang dekat dengan keseharian masyarakat, seperti perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, teknologi semestinya diciptakan manusia untuk membantu kehidupan. Namun, dalam praktiknya justru ciptaan tersebut malah mengendalikan pembuatnya.

“Padahal Iqbal menekankan bahwa manusia harus memanfaatkan ilmu pengetahuan, bukan malah diperbudak olehnya,” imbuh Angelita.

Pimpinan produksi, Nafis Alfa Dzikri, menekankan bahwa tema kesadaran diri dipilih karena dinilai dekat dengan realitas manusia yang sering mengejar kebahagiaan semu.

“Tidak sedikit orang mengejar kebahagiaan yang sebenarnya hanya bersifat sementara, padahal ada kebahagiaan hakiki yang sering terlupakan,” ujar Nafis, selaku Pimpinan Produksi pementasan Tadarus Puisi.

Perihal mempromosikan acara tersebut, panitia memanfaatkan media sosial, khususnya Instagram. Mereka membagikan berbagai konten pengantar seperti penjelasan tentang konsep khudi, gagasan taskhir, serta tokoh Muhammad Iqbal sebelum pementasan berlangsung.

Selain itu, panitia juga menggandeng sejumlah media partner dan mencari dukungan sponsor untuk memastikan kebutuhan logistik acara terpenuhi. Meski demikian, tantangan tetap muncul selama proses persiapan, terutama dalam hal koordinasi tim.

“Hal yang menjadi tantangan besar yakni komunikasi. Hal tersebut dikarenakan banyaknya yang terlihat dalam acara, sehingga harus menyelaraskan isi kepala,” ucap Nafis.

Pementasan tersebut mendapat respons positif dari penonton. Satu di antara penonton mengaku terkesan dengan konsep tadarus puisi yang memadukan pembacaan puisi dengan pertunjukan teater.

“Ini pertama kali saya menonton tadarus puisi. Menarik sekali karena puisinya dipentaskan secara teaterikal. Para pemain juga sangat totalitas, didukung backsound dan lighting yang kompak,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa gerakan para aktor menjadi bagian paling membekas dari pertunjukan tersebut karena disajikan dengan ekspresi yang kuat dan penuh energi.

Melalui pementasan Tadarus Puisi Taskhir, Teater Eska berharap penonton dapat merefleksikan kembali posisi manusia di tengah perkembangan dunia modern serta menyadari pentingnya mengenal dan menundukkan diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *