crossorigin="anonymous">

Luka di Lutut, Bukan di Hati

Merenungi…

Sudut mata yang lelah memandang dunia,

Menyimpan satu rahasia yang tak pernah menua.

Kala itu waktu bukan tentang angka dan lari,

Tapi tentang berapa lama kita bisa mengejar matahari.

Aku merindukan aroma tanah setelah hujan turun,

Saat kaki tanpa alas menari di atas rumput yang rimbun.

Tak ada beban di pundak, selain tas sekolah yang usang,

Dan satu-satunya luka hanyalah goresan di lutut yang meradang.

Dahulu…

Dunia terasa selebar lapangan di depan rumah,

Langit adalah atap biru yang selalu ramah.

Satu butir kelereng terasa seperti permata berharga,

Canda tawa kita adalah musik yang paling nyata.

Kini, canda tawa itu teredam deru mesin dan ambisi,

Kita tumbuh menjadi dewasa yang lupa caranya bermimpi.

Menukar petak umpet dengan sembunyi dari kenyataan,

Menghapus imajinasi dengan logika yang melelahkan.

Wahai masa kecil,

Andai aku bisa mengetuk pintu itu sekali lagi

Aku hanya ingin bermain tanpa perlu memikirkan hari.

Tenyata menjadi dewasa hanyalah sebuah seni,

Tentang bagaimana merawat rindu yang takkan pernah kembali.

One thought on “Luka di Lutut, Bukan di Hati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *