crossorigin="anonymous">

CAMPUR ADUK RASA DIPENGHUJUNG SENJA

Kala itu merupakan hari terakhirku mengikuti acara pameran angkatan yang sangat melelahkan, namun juga membahagiakan. Sejak awal, aku sudah merasakan kehadiran jiwaku dalam mata kuliah fotografi dan teknik penyuntingan yang akhirnya ditampilkan dalam pameran tersebut. Seusai acara, justru kegelisahan kembali menyelimutiku padahal seharusnya aku merasa lega karena tak ada lagi tanggungan.

Kegelisahan itu terasa semakin kuat karena aku mendapat firasat akan sesuatu yang akan terjadi setelah acara selesai. Aku belum tahu apa bentuknya, tetapi perasaan itu begitu nyata. Benar saja, tak lama kemudian aku dikejutkan oleh beberapa hal yang cukup membebani pikiranku.

Tanpa berpanjang kata, aku memutuskan mengajak temanku sebut saja ”Mupmup” untuk bersantai sekaligus meluapkan segala yang kurasakan. Di tengah rel kereta, kami menikmati senja sore hari dengan latar jembatan yang syahdu dan suara air deras yang mengalir. Suasana itu menambah ketenangan dan perlahan meringankan beban pikiranku. Semua hal kuceritakan saat itu juga, tanpa rasa ragu. Aku memberanikan diri membuka rahasia hidupku kepadanya.

Aku bercerita tentang kebingunganku menghadapi rencana hidup, terutama karena masih ada beberapa capaian yang harus diwujudkan. Rencana semester lima yang telah lama kususun ternyata tidak berjalan sesuai harapan, sehingga menjadi tantangan baru untuk menata ulang segalanya. Tantangan itu terasa mendesak dan menuntut perhatian penuh.

Kukira kegelisahan itu berhenti sampai di situ. Ternyata tidak. Ketika membuka grup WhatsApp keluarga, aku melihat foto kiriman bapakku: ibuku sedang dirawat. Kecemasan semakin memuncak saat di waktu yang sama beberapa orang mencariku untuk memberi ucapan dan hadiah atas keberhasilanku menyelesaikan pameran. Sebuah ironi—kebahagiaan dan kekhawatiran datang bersamaan.

Aku merasa senang sekaligus sedih perasaanku benar-benar campur aduk, seperti gado-gado hufft. Di bawah langit senja itu, aku harus mengambil keputusan cepat melanjutkan bercerita atau segera pulang menjenguk ibu. Setelah berpikir matang, aku memilih melanjutkan bercerita terlebih dahulu. Bukan karena kurangnya rasa sayang kepada orang tua, melainkan karena ada keadaan mendesak yang perlu diselesaikan.

Keduanya sama-sama penting karena berkaitan dengan kesehatan mental. Ibuku sudah ditemani anggota keluarga lain, sementara aku memiliki janji yang harus kupenuhi saat senja itu. Aku merasa urusanku takkan memakan waktu lama, sehingga berani mengambil keputusan tersebut.

Tanpa kusadari, lima jam telah berlalu. Senja yang berganti rembulan menjadi saksi kekacauan batin yang kurasakan. Aku meluapkan semuanya demi menjaga kesehatan mental ke depannya. Kupikir semuanya bisa selesai dengan cepat, namun aku terlalu larut hingga lupa pada waktu. Angin malam yang sejuk seolah ikut mendengarkan setiap keluh kesahku.

Setelah merasa cukup, sembari merapikan rencana, aku mulai belajar menerima keadaan. Mungkin semua yang terjadi adalah pelajaran berharga untuk kehidupan selanjutnya, atau bisa jadi ujian atas kesalahan dan dosa yang pernah kulakukan.

Aku pun beranjak pulang dan menepi untuk memenuhi panggilan Ilahi. Aku memohon ampun, melangitkan doa, dan menggantungkan harapan agar hidup ke depan lebih tertata dan aku tak kembali lalai. Setelah merasa lebih tenang, aku memenuhi panggilan perut sejak pagi perutku belum terisi dengan baik hingga maagku kembali kambuh. Rasa nyeri di lambung seolah menjadi penanda fisik dari tekanan emosional hari itu.

Usai mengisi tenaga, aku segera menanyakan kondisi dan lokasi pemeriksaan ibuku. Hatiku sedikit lebih tenang setelah mengetahui bahwa beliau ternyata tidak sampai dirawat inap. Meski begitu, rasa sedih tetap ada karena aku belum bisa banyak membantu. Sesampainya di rumah, pikiranku justru kembali dipenuhi persoalan-persoalan tadi, meski kabar tentang ibu seharusnya cukup menenangkan.

Malam itu di kamar terasa gelisah. Aku mencoba mencari hal-hal yang bisa membuatku merasa aman kembali. Beberapa pesan dan panggilan yang belum sempat kubalas akhirnya kurespons. Ternyata, jawaban mereka terasa lebih tepat jika disampaikan pada malam hari, bukan saat mereka mencariku sebelumnya.

Kemudian, seseorang hadir dan membuatku sejenak melupakan semua yang terjadi. Ia menanyakan keadaanku dan merespons pesanku dengan hangat, tanpa beban. Padahal, aku sadar hari itu aku pun memiliki kesalahan terhadapnya. Sikap baiknya justru memberiku ketenangan hingga aku bisa beristirahat dengan nyaman. Pada akhirnya, pengertian sederhana dari orang lain menjadi penutup damai bagi hari yang penuh gejolak emosi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *