Setiap orang memiliki keinginan dan impiannya masing-masing. Sering kali, keinginan tersebut muncul dari pengalaman hidup yang dialami seseorang. Itulah sebabnya setiap manusia memiliki impian yang berbeda-beda. Jika pun ada beberapa orang yang memiliki keinginan serupa, bisa jadi mereka juga merasakan pengalaman yang sama dengan apa yang kamu rasakan.
Saat ini, aku adalah seorang mahasiswa semester 5 yang memiliki pengalaman pribadi yang menantang. Pengalaman ini membuatku benar-benar merenung, “Apakah aku perlu melanjutkan kuliah?”. Dahulu, saat masih SMA, belajar adalah hal yang menakutkan dan membosankan bagiku. Aku takut mencoba hal baru dan terlalu merasa aman di zona nyaman.
Menulis, membaca, dan menghitung adalah hal-hal yang selalu kuhindari dalam proses pembelajaran. Aku memang suka belajar, tetapi hanya pada hal-hal yang benar-benar kusukai dan tidak membebani. Kala itu, aku merasa duniaku bukan untuk belajar bersungguh-sungguh hingga larut malam. Aku hanya mau belajar ketika merasa butuh dan memiliki waktu luang. Pola pikir tersebut sangat kontras dengan tuntutan pendidikan formal. Hingga pada saat lulus sekolah, aku merasa sedikit terpaksa untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan. Namun, mencoba menerima keadaan justru membuatku belajar tentang arti perjalanan yang telah kulewati. Beradaptasi bukanlah hal yang mudah; banyak tantangan dan ketakutan yang terus menghantuiku di sepanjang jalan.
Setelah menjalani dua semester, aku merasa takjub dengan proses penerimaan yang kudapatkan. Rasanya hati dan pikiran ini terbuka seluas samudra. Aku mulai paham mengapa banyak orang ingin lanjut ke perguruan tinggi. Ternyata, banyak hal berharga yang mungkin tidak kita dapatkan jika tidak berkuliah. Pengalaman ini mengubah perspektifku secara fundamental. Bukan berarti orang yang tidak berkuliah tidak mendapatkan hal yang sama, namun kuliah mengajarkan bagaimana kita menghargai proses dan membuka pandangan dari berbagai sisi dalam menghadapi masalah. Unik rasanya bisa melihat banyak hal dengan cara penyelesaian yang berbeda. Hal ini membuatku lebih bisa memaklumi dan belajar dari pengalaman orang lain. Kuliah telah memberiku kerangka berpikir yang lebih luas dan empatik.
Awalnya, belum terpikirkan olehku untuk lanjut S2 setelah lulus S1 nanti; aku masih mencoba meraba situasi. Aku sempat hanyut dalam kesenangan sebagai mahasiswa baru. Aku mencoba banyak hal, mulai dari berangkat pagi hingga pulang malam karena berorganisasi. Dari situ aku menyadari bahwa ketika aku mengikuti alur dan menerima keadaan, aku menjadi lebih sadar akan kemampuan diri dan merasa seperti “gelas yang masih kosong”. Rasa haus akan ilmu dan pengalaman menjadikanku semakin semangat belajar. Aku bahkan terkaget dengan kemampuanku sendiri. Ternyata, dari sebuah keterpaksaan dan kemauan untuk mencoba menerima, aku lebih bisa menghargai proses yang telah dilalui.
Transformasi ini merupakan kejutan terbesar dalam perjalanan akademisku. Aku mulai sadar bahwa belajar bukan sekadar upaya menggugurkan kewajiban tugas, melainkan kebutuhan bagi seseorang yang ingin bertanggung jawab atas kehidupannya. Tanpa belajar, bagaimana kita bisa mengarahkan “setir” hidup ke jalan yang benar?.
Kehidupan kita tidak akan pernah terputus dari kegiatan belajar. Kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan untuk mengarahkan hidup menjadi titik balik motivasiku. Rasa haus akan ilmu semakin kuat dan membuka pemikiran serta harapanku. Setelah merenung, aku menyadari bahwa aku tidak akan sampai di titik ini jika sebelumnya tidak nekat mengambil keputusan untuk berani belajar. Dari perenungan inilah terbentuk keinginan untuk melanjutkan pendidikan, baik itu melalui kuliah S2 atau cara lainnya.
Apakah aku takut? Tentu saja. Namun, apakah aku berani? Ya, aku berani!. Sejatinya, memiliki niat saja sudah merupakan manifestasi dari masa depan. Niat ini adalah langkah awal yang nyata menuju impianku. Tugas selanjutnya adalah bersungguh-sungguh mengejarnya, sambil menyadari bahwa apa yang ingin dicapai bukanlah hal kecil dan akan menuntut banyak pengorbanan. Aku ingin lanjut S2 karena pengalaman masa lalu. Namun muncul pertanyaan: jika seseorang tidak punya pengalaman yang sama denganku, apakah dia juga ingin lanjut S2?.
Menurutku, hal itu kembali pada kesadaran dan kebutuhan masing-masing. Apakah kita mampu secara finansial dengan biaya yang mahal?. Atau, apakah kita butuh pendidikan tinggi untuk menjalani kehidupan versi kita sendiri?. Berdasarkan pengalamanku, kita akan selalu butuh belajar, tetapi tidak harus memaksakan diri untuk S2 jika memang tidak sesuai kebutuhan. Namun, jika pendidikan lanjutan itu bermanfaat, mengapa tidak kita usahakan?.
Dalam menempuh pendidikan, kita memang dituntut untuk mendapatkan nilai yang bagus. Kita harus memaksimalkan kesempatan yang diberikan Tuhan agar bisa menjadi teladan. Jika saat SMA kita terbiasa dengan aturan jam sekolah yang ketat, tantangan di dunia kuliah jauh lebih besar karena memerlukan kemandirian dan konsistensi diri. Membangun kebiasaan baru yang konsisten sejak hal kecil akan menyiapkan kita pada realitas yang ada. Jenjang S2 mungkin terdengar singkat secara waktu, namun sangat kompleks dalam prosesnya. Oleh karena itu, persiapan mental dan kebiasaan yang teratur sangatlah krusial.
Banyak orang ingin melanjutkan studi namun terhalang oleh kenyataan. Kita perlu membandingkan kembali, apakah itu sebuah kebutuhan nyata atau sekadar angan-angan. Dari perjalanan ini, aku menyadari kebutuhanku untuk menata masa depan yang sesuai harapan. Kita harus berusaha semaksimal mungkin agar angan itu menjadi kenyataan.
Semangatku yang membara ini juga didorong oleh kehadiran seseorang yang memotivasi aku untuk mendapatkan apa yang aku mau. Dukungan eksternal ini menjadi katalis penting dalam penguatan tekadku. Banyak cara untuk mewarnai makna hidup versi kita sendiri. Jadi, jangan takut atau merasa minder jika belum bisa menggapai harapan tersebut. Seseorang pernah berkata padaku, “Kamu mempunyai niat untuk melanjutkan S2 saja sudah bagus.”. Perkataan sederhana itu memberikan validasi besar bagiku.
Memiliki niat saja sudah mengantarkan kita beberapa langkah lebih dekat pada impian. Jika harapan kita kuat, tanpa disadari kita akan mengusahakannya dengan sepenuh hati. Kalaupun belum tercapai, setidaknya proses mengusahakan impian itu sendiri sudah merupakan sebuah pencapaian dan kebaikan. Ada pepatah bilang, “Bermimpilah setinggi langit, jika gagal, paling tidak kamu telah berhasil berada di antara bintang-bintang.”. Jangan terlalu khawatir dengan masa depan. Kitalah yang menentukan apakah ingin berjalan di zona aman atau berani mencari tantangan agar lebih matang dalam meraih impian besar
Penulis : Mamdhu Osa Mayuda I Editor : Andara Angesti
- Cuaca Tidak Menentu Berdampak Pada Hasil Panen Padi di Desa Nglawisan, Magelang - 19 Januari 2026
- APAKAH PERLU KULIAH S2? - 30 Desember 2025
- CAMPUR ADUK RASA DIPENGHUJUNG SENJA - 30 Desember 2025