crossorigin="anonymous">

HMPS KPI UIN Sunan Kalijaga dan DPMI Kolaborasi Cetak Komunikator Muda yang Autentik

Kalijaga co – Di tengah pesatnya perkembangan media sosial dan arus informasi, kemampuan berbicara di depan publik menjadi kebutuhan primer bagi mahasiswa. Menyadari hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMPS KPI) UIN Sunan Kalijaga menggelar kolaborasi strategis bersama Duta Pembicara Muda Indonesia (DPMI). Workshop intensif bertajuk “Authentic Speaker: Menemukan Gaya Public Speaking dari Karakter Diri” digelar pada 10 April 2026, dengan menghadirkan perspektif baru dalam dunia komunikasi.

​Acara yang berlangsung di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Program Studi KPI, Saptoni. Dalam penyampaiannya, beliau memberikan penekanan khusus pada nilai integritas yang harus dimiliki oleh setiap calon komunikator muslim. Menurutnya, ilmu yang didapatkan di ruang kelas harus diimbangi dengan pengalaman praktis di lapangan agar mahasiswa memiliki kesiapan mental yang matang.

​”Mahasiswa KPI harus memiliki nilai lebih dibandingkan mahasiswa jurusan lain. Melalui workshop ini, saya berharap kalian tidak hanya belajar teknis berbicara, tapi juga belajar bagaimana menyampaikan pesan yang memiliki dampak nyata dan integritas tinggi. Manfaatkan setiap detik kolaborasi ini untuk menyerap ilmu praktis langsung dari para praktisinya,” ujar Saptoni penuh semangat dan dukungan.

​Dukungan birokrasi ini menjadi pondasi kuat bagi HMPS KPI untuk terus berinovasi. Ketua HMPS KPI UIN Sunan Kalijaga, Muhammad Hidayat, yang akrab disapa Marco, menjelaskan bahwa kerja sama dengan DPMI melalui jejaring DPMI Youth Network merupakan respond terhadap kegelisahan mahasiswa yang sering kali merasa kehilangan jati diri saat tampil di depan umum. Banyak mahasiswa yang terjebak pada keinginan untuk meniru gaya orang lain demi terlihat profesional, namun kehilangan esensi dari pesan yang dibawa.

​”Sebagai mahasiswa komunikasi, public speaking seharusnya menjadi ciri yang melekat pada diri kita. Naif rasanya jika ajakan kolaborasi dari DPMI ini tidak ditawarkan kepada teman-teman mahasiswa, khususnya KPI. Kolaborasi ini bukan sekadar kerja bersama di atas kertas, melainkan upaya saling menguatkan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. Bagi saya pribadi, membuka pintu kolaborasi berarti membuka ruang tumbuh bagi organisasi dan setiap individu di dalamnya,” ungkap Marco.

​Lebih lanjut, Marco menambahkan bahwa kekuatan seorang pembicara sebenarnya terletak pada kenyamanan mereka terhadap karakter asli masing-masing. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki “frekuensi” unik yang tidak bisa digantikan oleh siapapun.

​”Menjadi pembicara yang autentik bukan sekadar pandai berkata-kata atau lihai menyusun kutipan indah, tapi mampu menyampaikan nilai, pengalaman, dan pemikiran dengan hati. Ketika seseorang berbicara dari keaslian dirinya, pesan itu akan lebih hidup dan menyentuh banyak orang. Kalau kata Baskara Putra, ‘cari suara lo’,” tambahnya mengutip musisi Hindia.

​Memasuki sesi inti, Muhammad Rafly Al-Hamid perwakilan dari DPMI yang menjadi moderator acara memberikan sedikit pembuka untuk memasuki materi. Ia menantang para peserta untuk keluar dari zona nyaman. Fokus materinya bukan pada aturan-aturan kaku protokol komunikasi, melainkan pada eksplorasi diri.

“DPMI Youth Network hadir untuk meyakinkan teman-teman bahwa gaya bicara terbaik adalah yang paling mendekati karakter asli kalian. Jangan pernah takut terlihat berbeda dari pembicara populer lainnya. Justru autentisitas itulah yang akan menjadi ‘brand’ pribadi Anda dan membuat audiens selalu mengingat pesan yang disampaikan,” tegas Rafly saat sambutan.

​Salah satu momen paling menarik dalam workshop ini adalah sesi latihan kelenturan vokal. Para peserta tidak hanya diminta mengenal diri sendiri, tetapi diajak melakukan eksperimen unik yang memicu tawa sekaligus kekaguman. Abdurrahman Al Ghazali, mahasiswa KPI angkatan 2025, berbagi pengalamannya mengenai teknik pelatihan yang tidak biasa tersebut.

​”Yang paling berkesan bagi saya adalah sesi dimana kita diminta menyanyi ngerap menggunakan bahasa Indonesia. Awalnya terasa aneh, tapi ternyata metode itu efektif sekali untuk melatih artikulasi dan kelincahan lidah. Melalui nyanyian, kita dipaksa untuk lebih luwes dalam menggunakan kata-kata,” tutur Al Ghazali. 

Baginya, workshop ini menjadi pengingat bahwa belajar komunikasi bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

 “Intinya sih nggak jauh-jauh dari memperbanyak ilmu saja sebenarnya, agar apa yang keluar dari mulut kita punya bobot,” ujar Al Ghazali.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Moh. Fahrul Hidayat, atau yang akrab disapa Paung. Baginya, workshop ini memberikan solusi konkret atas permasalahan mendasar yang sering dialami mahasiswa saat berbicara di depan banyak orang.

​”Kesannya seru banget, yang paling saya dapatkan adalah akhirnya saya tahu bagaimana caranya supaya kalau ngomong itu nggak belibet lagi. Itu poin paling penting buat saya,” ujar Paung jujur.

​Workshop ini membuktikan bahwa menjadi pembicara hebat tidak harus kaku atau meniru orang lain. Dengan berakhirnya acara ini, HMPS KPI berharap dapat mencetak generasi komunikator yang tidak hanya fasih secara teknik, tetapi juga jujur pada identitasnya. Melalui sinergi ini, mahasiswa KPI diharapkan semakin berani muncul ke permukaan dengan “suara” yang autentik dan bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *