Seorang yang dididik dari keluarga yang mungkin sederhana secara materi. Tetapi bagiku mereka adalah keluarga yang paling sempurna dalam segala hal, terutama dukungan dan kasih sayang. Kenalin, aku Osa. Aku mau sedikit berbagi cerita dan sudut pandangku yang telah matang tentang apa sebenarnya makna kuliah itu dalam perjalanan hidupku.
Dulu saat SMA, aku merasakan liku-liku yang sangat menantang di fase-fase awal. Terutama pada saat kelas sepuluh, waktu bersekolahku dimulai dari pembelajaran daring melalui gawai saja. Sampai satu tahun kemudian diberlakukan sistem ganjil-genap sesuai absen.
Dari kondisi tersebut, harus kuakui, tidak banyak hal yang kudapatkan selain rasa bosan, malas, dan ketidakterarahkan. Aku mulai bingung, bagaimana aku dapat bersekolah, bermain, atau sekedar jajan jika keadaannya seperti ini dan aku membutuhkan uang, tetapi sedikit lapangan pekerjaan. Kondisi ekonomi di rumah juga menuntutku untuk berpikir lebih jauh. Dari situ, aku mencoba merenung dan berpikir keras, hal apa yang aku bisa lakukan untuk mendapatkan uang.
Memberanikan diri untuk menjadi badut sekian bulan dalam dunia perfilman. Pekerjaan itu tentu sangat melelahkan bagiku yang memiliki kepribadian introvert. Bayangkan saja, harus berinteraksi intens dan tampil di depan banyak orang selama berjam-jam, itu benar-benar menguras energiku. Namun, demi uang aku harus melakukannya.
Setelah itu, aku mulai membuka jasa dokumentasi, mencoba ikut bekerja di tempat saudara, belajar cara berdagang dan membungkus barang pesanan, hingga menjadi ojek online saat masih sekolah. Langkah itu semua aku coba ambil senekat-nekatnya untuk bisa memenuhi kebutuhanku sendiri maupun sedikit membantu keluarga agar beban mereka tidak terlalu berat.
Lambat laun, aku mulai terbiasa dengan lingkungan sekolah yang sudah bisa bertatap muka secara normal, dan sedikit terbiasa juga dengan kegiatan sampingan bekerja. Menjelang waktu kelulusan, pikiran kerjaku semakin dominan. Aku masih terbawa dengan kenikmatan sedikit belajar serta menikmati kerja keras dan menghabiskan uang yang ada.
Pengalaman bekerja yang beragam itu menjadikanku mempunyai motivasi besar untuk lulus dan langsung bekerja. Rencanaku saat itu sudah matang: bekerja keras dulu, kumpulkan modal, lalu buka usaha sendiri.
Namun, di tengah gairah keinginanku yang ingin menjadi pengusaha dengan bekerja terlebih dahulu, desakan dan harapan dari keluarga besar selalu menyuruhku untuk harus melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Tentu saja, aku mencintai keluargaku, tapi keinginan mereka terasa seperti tembok besar di depan rencanaku. Dengan sedikit keterpaksaan dan melihat ekonomi keluarga, aku takut mereka dihantui oleh biaya yang ada, maka dari itu aku hanya ingin selalu bekerja, bekerja, dan bekerja untuk meringankan beban mereka.
Keterpaksaan itu masih ada sampai benar-benar aku mulai mencoba berdamai dan mencari universitas yang sekiranya aku tidak merasa terbebani dengan materi yang terlalu teoritis. Perlahan demi perlahan aku memilih dan mendaftar di Institut Seni Indonesia (ISI) yang sepertinya memang takdirnya aku tidak diterima. Pilu rasanya dan harus memilih jalan lain dengan berat hati, pikiran berkecamuk. Dan entah kenapa, ada dorongan kuat yang tidak tahu rasanya seperti ada yang menggerakkan hati untuk memilih pilihan terakhir di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Jika dipikirkan kembali, aku sungguh tidak memikirkan universitas itu sebelumnya. Aku minim tahu informasi tentang UIN. Banyak informasi yang membuatku berprasangka tentang sebuah kegelapan atau lingkungan yang terlalu kaku dan membatasi ekspresi.
Dengan ketakutan itu, aku terus mencoba memberanikan diri untuk bisa mencari tahu, apa maksud panggilan yang sebenarnya terjadi dengan pilihan ini, hingga akhirnya aku telah mendaftar sampai pada jalur terakhir untuk menuju batas akhir sebuah harapan yang masih di ambang ketakutan.
Pengumuman lolos tes ujian universitas pun tiba. Siapa sangka seorang Osa ini bisa diterima pada jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Haru rasanya bercampur aduk seperti makanan gado-gado. Di sisi lain, aku takut akan biaya yang diminta dan tantangan lingkungan baru, di sisi lain juga senang karena berhasil lolos dari tantangan yang aku takutkan. Dan ini adalah kemenangan kecil yang mengubah arah hidupku.
Perkuliahan pun dimulai dengan banyak hal yang membuatku kaget dan harus bisa menjadi panutan karena seorang mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dituntut untuk mengusahakan pada dirinya terdapat nilai norma dan moral. Aku tidak terbiasa belajar dengan cepat dan lama itu menjadi tantangan besar bagiku.
Proses adaptasi ini sungguh menguras tenaga, aku harus mengubah kebiasaan belajarku yang santai menjadi lebih terstruktur dan disiplin. Bahkan saat aku menulis ini pun memerlukan perjalanan panjang sampai batas kesadaran, bahwa aku harus bisa menjadi seseorang yang utuh, yang mampu menyeimbangkan ilmu dan etika.
Lima semester telah kulalui, dan saat ini aku menemukan banyak hal yang sangat aku syukuri dan mungkin tidak bisa aku dapatkan jika aku hanya mengikuti keinginan untuk bekerja pada saat itu. Pemikiranku terbuka seluas samudra hingga aku haus akan ilmu yang belum ada dalam kepala. Ternyata, dunia akademik membuka jendela yang jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Aku tidak lagi hanya berpikir tentang uang, tetapi tentang pengaruh, etika, dan peran di masyarakat. Setelah kusadari sekian lama, aku menemukan apa itu makna perkuliahan.
Untukku, kuliah bukan hanya untuk mencari pekerjaan yang lebih layak seperti yang orang katakan, namun lebih dari itu. Perkuliahan itu adalah gerbang menuju kesadaran terhadap kehidupan kita, yaitu memilih mau dituntun sampai mana, dan sarana mendapatkan pendewasaan yang sangat bermakna dalam hal melihat suatu peluang atau masalah dari berbagai posisi.
Di kampus, kita diajarkan untuk tidak hanya melihat dari satu sisi, tetapi dari berbagai perspektif sebuah keterampilan yang sangat penting untuk hidup. Ini adalah tempat untuk belajar bagaimana kita menyikapi tantangan yang ada dan belajar kembali dari jurang yang pernah kita lewati.
Tak bisa dipungkiri kedewasaan, kesadaran, keilmuan dan lain hal memang benar tidak hanya bisa didapatkan lewat perkuliahan, tetapi dalam perkuliahan menurutku lebih banyak hal yang akan kita dapatkan. Salah satunya, dan yang paling berharga, adalah jaringan pertemanan. Bahkan sesederhana memiliki teman berbeda daerah dengan cara berkomunikasi, berbudaya, yang beda dengan kita itu menjadi tampungan inspirasi untuk hidup kita menjadi lebih berwarna. Aku belajar bahwa Indonesia itu sangat kaya, dan perbedaan adalah aset yang harus disyukuri.
Untuk saat ini, aku sangat bersyukur dengan liku pilu perjalanan yang sudah aku lalui. Menjadi lebih mengenal diri sendiri dan peduli terhadap sekitar adalah sebuah nikmat yang tiada tara. Tentu aku bisa berjalan sampai posisi ini tidak lain juga karena dukungan dan doa dari keluarga. Keinginan demi keinginan yang menjadi semangatku untuk bisa lebih banyak mencoba pengalaman dan hal baru yang ingin ku rasakan.
Entah sampai kapan kehidupan kita itu tidak akan lepas dari yang namanya belajar, mau tidak mau, suka tidak suka memang seperti ini kehidupan di dunia. Warna hidupmu itu ada di tanganmu bak pelukis yang ingin mewarnai hidupnya dengan hitam dan putih saja atau mencoba melukis dengan warna lain supaya lebih bermakna dalam hidupnya.
Tidak hanya sampai sini saja perjalanan kita, masih panjang dengan banyak harapan dari keluarga maupun diri sendiri. Jadi, setelah lulus nanti aku akan melanjutkan kehidupanku seperti apa? Apakah masih dengan ketakutan dan nafsu yang ada seperti diriku di masa SMA, atau dengan keterbukaan yang sudah dilalui sejak awal menjadi mahasiswa.
Penulis Mamdhu Osa Mayuda
- Cuaca Tidak Menentu Berdampak Pada Hasil Panen Padi di Desa Nglawisan, Magelang - 19 Januari 2026
- APAKAH PERLU KULIAH S2? - 30 Desember 2025
- CAMPUR ADUK RASA DIPENGHUJUNG SENJA - 30 Desember 2025