crossorigin="anonymous">

Kraton Yogyakarta: 1 Ramadan 1447 H Jatuh 18 Februari 2026 menurut Kalender Jawa

Setiap menjelang Ramadan, pertanyaan yang sama kerap muncul di tengah masyarakat: mengapa awal puasa terkadang berbeda? Mengapa ada yang mulai lebih dulu, sementara yang lain menunggu sehari kemudian?

Perbedaan itu bukan tanpa alasan. Di Indonesia, metode penentuan awal bulan Hijriah memang beragam. Pemerintah menggunakan sidang isbat dengan kombinasi hisab dan rukyat, organisasi keagamaan memiliki pendekatan masing-masing, sementara Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tetap berpegang pada Kalender Sultan Agungan. Lalu bagaimana sih cara Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menetapkan awal bulan puasa Ramadhan?.

Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menetapkan bahwa awal puasa Ramadan 1447 Hijriah berdasarkan Kalender Sultan Agungan jatuh pada Rabu Legi, 1 Pasa 1959 Jawa, bertepatan dengan 18 Februari 2026 Masehi.

Penetapan ini merujuk pada sistem penanggalan Jawa warisan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang terus dilestarikan oleh Kraton Yogyakarta melalui Kawedanan Widyabudaya atas dawuh Sri Sultan Hamengku Bawono X. Rumusan kalender yang digunakan menggabungkan siklus qamariyah (bulan) dan sistem tradisional Jawa seperti pancawara, saptawara, windu, serta kuruf, yang telah berjalan turun-temurun sejak 1633 Masehi.

Dalam sistem tersebut saat ini kalender Jawa berada pada kuruf Salasiyah, yang masih berlaku hingga tahun Jawa 1986 atau setara tahun 2051 Masehi, sehingga dipakai untuk menentukan berbagai waktu penting keagamaan Muslim dalam budaya Jawa. Hal ini diungkapkan oleh Djisnozero45, seorang budayawan asal Salatiga dalam wawancara yang kami lakukan pada Rabu (11/02/2026).

“Saat ini dalam kalender tahun Jawa, kita tengah memasuki kuruf Salasiyah, dimana tanggal 1 Sura tahun Alip 1866 Jawa jatuh pada hari Selasa Pon. Kuruf ini masih berjalan hingga nanti sampai pada tahun 1986 tahun Jawa (2051 masehi) dan akan berganti kuruf pada tahun 1987 tahun Jawa” tuturnya.

Sementara itu, di tingkat nasional, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) menjadwalkan Sidang Isbat penetapan awal Ramadan 1447 H pada 17 Februari 2026 di Jakarta. Sidang ini merupakan forum resmi yang menggabungkan data hisab dan rukyat hilal untuk menetapkan tanggal pertama puasa di Indonesia secara legal dan umum.

Kemenag telah menyampaikan bahwa prediksi awal puasa menurut kalender Hijriah pemerintah dan beberapa ormas sudah tercantum pada 19 Februari 2026, namun keputusan final tetap menunggu hasil Sidang Isbat.

Selain pemerintah, organisasi Islam besar di Indonesia juga memiliki metode tersendiri, dimana Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan 1447 H jatuh Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal. Sementara organisasi lain seperti Nahdlatul Ulama (NU) biasanya menunggu hasil rukyat dan ru’yah untuk menetapkan tanggal.

Perbedaan penetapan tanggal tersebut menunjukkan adanya perbedaan metode antara Kalender Sultan Agungan, hisab astronomi, dan pendekatan hisab-rukyat yang dipakai Kemenag serta ormas lain. Perbedaan Metode dan Persepsi Kalender

Dalam metode Kraton Yogyakarta berdasarkan kalender jawa warisan Sultan Agung, penanggalan mengikuti siklus tradisional Jawa yang baku dan telah ditetapkan turun-temurun. Perhitungan ini tidak tergantung pada rukyatul hilal saat bulan hilal baru terlihat secara astronomis.
(Informasi dari sumber pengguna). Sedangkan metode yang digunakan oleh Kemenag menggabungkan rukyat hilal dan hisab untuk keputusan resmi lewat Sidang Isbat. Muhammadiyah mengandalkan hisab hakiki wujudul hilal dengan parameter tertentu untuk menentukan awal bulan.  Sedangkan NU menekankan rukyat hilal sebagai dasar utama penetapan awal Ramadan. Oleh karenanya, perbedaan 1–2 hari pada tanggal awal puasa masih sering terjadi dari tahun ke tahun.

Penggunaan Kalender Sultan Agungan oleh Kraton Yogyakarta bukan sekadar soal angka, ia menjadi bagian integral dalam pelaksanaan hari besar Islam dalam tradisi Jawa. Masyarakat yang mengacu pada Kalender Jawa tetap menjadikan Kraton sebagai patron dalam menerbitkan penanggalan Jawa yang dibutuhkan untuk berbagai ritual adat dan kegiatan keagamaan lokal, meskipun berbeda dengan pendekatan ilmiah pemerintah atau ormas.

Perbedaan penetapan awal Ramadan di Indonesia tahun ini mencerminkan keberagaman pendekatan kalender Islam: tradisional budaya Jawa, hisab astronomi, dan sistem hisab-rukyat modern. Meski demikian, semua pendekatan itu tetap bertujuan untuk menentukan waktu ibadah yang sakral bagi umat Muslim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *