crossorigin="anonymous">

Memulung Sambil Jalan Kaki: Cara Gibral Menemukan Energi, Relasi, dan Makna Hidup

Di tengah aktivitas mahasiswa yang padat, ada seseorang yang memiliki kebiasaan tak biasa. Gibral Alhoiri Siregar, seorang mahasiswa progam studi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sering berjalan kaki menyusuri area kampus sambil memungut botol plastik yang ditemuinya di jalan. Botol-botol bekas tersebut kemudian ia kumpulkan dan ditukarkan di tempat penukaran botol yang ada di kampus.

Bagi sebagian orang, aktivitas ini mungkin terlihat sepele. Namun bagi mahasiswa asal Medan tersebut, kebiasaan tersebut justru memberikan banyak manfaat bagi dirinya.

Ia mengaku bahwa salah satu manfaat yang paling terasa adalah bertambahnya energi. Dengan berjalan kaki sambil memungut botol, tubuhnya tetap aktif bergerak.

“Energi aku bertambah. Aku jalan kaki sambil mulung, jadi badan tetap bergerak,” ujarnya.

Dalam satu kali berjalan di area kampus, ia bisa menemukan beberapa botol plastik yang berserakan di jalan. Namun bagi Gibral, kegiatan tersebut bukan tentang berapa banyak botol yang berhasil ia kumpulkan.

“Aku nggak terlalu dipatok harus dapat segini. Yang penting berapa dapatnya aja. Aku jalani sambil have fun,” katanya.

Kegiatan sederhana ini juga membuka peluang lain baginya, yaitu mendapatkan relasi dan koneksi baru. Saat berjalan kaki, ia sering bertemu dengan berbagai orang dari beragam kalangan, baik yang sudah dikenal maupun yang baru ditemui.

“Aku makin banyak dapat relasi dan koneksi. Kadang kita nggak tahu, dari relasi itu bisa dapat channel atau bahkan kerjaan yang nggak disangka-sangka,” jelasnya.

Hal unik lainnya adalah cara Gibral menjalani kegiatan tersebut dengan santai. Ia berjalan sambil memperhatikan botol-botol di sekitar jalan.

“Aku mulung sambil happy-happy aja. Jalan sambil lihat kiri kanan, kalau ada botol ya aku ambil,” tuturnya.

Selain memberi energi dan relasi, kegiatan ini juga berdampak pada kesehatannya. Dengan berjalan kaki secara rutin, ia merasa tubuhnya lebih aktif tanpa harus melakukan olahraga khusus.

Namun lebih dari sekadar manfaat pribadi, Gibral memiliki tujuan yang lebih besar. Ia ingin mengangkat martabat pemulung di mata masyarakat.

“Aku ingin menaikkan martabat pemulung. Karena sejatinya pemulung itu bukan profesi yang hina. Hari ini aku tegaskan, pemulung itu profesi yang mulia,” tegasnya.

Menurutnya, pemulung justru berperan penting dalam menjaga lingkungan karena mereka dengan ikhlas mengumpulkan barang-barang sisa yang sering dianggap tidak berguna oleh orang lain.

Dalam aktivitasnya memungut botol, Gibral juga sering bertemu dengan pemulung lain di jalan. Meski tidak saling mengenal, mereka kerap saling menyapa dengan senyuman.

“Kadang aku ketemu pemulung lain. Kita saling sapa dan senyum. Rasanya nyaman aja,” katanya.

Kebiasaan memungut botol ini ternyata juga tidak muncul begitu saja. Gibran mengaku terinspirasi dari kisah penulis dan budayawan Susilo Toer yang pernah menjalani kehidupan sederhana, termasuk memulung barang-barang bekas.

Bagi Gibran, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa pekerjaan apa pun tidak menentukan nilai seseorang.

“Aku juga terinspirasi dari cerita Susilo Toer. Beliau dulu juga pernah memulung. Dari situ aku merasa bahwa memulung itu bukan pekerjaan yang hina,” ujarnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan seseorang sering kali dinilai dari pandangan masyarakat. Padahal, bagi Gibran, memungut botol justru menjadi cara untuk menjalani hidup dengan lebih sederhana dan tidak terlalu melekat pada hal-hal duniawi.

Pandangan itu juga sejalan dengan tujuan pribadinya untuk mengurangi keterikatan terhadap hal-hal material. Ia memilih menjalani kebiasaan tersebut dengan santai, tanpa memikirkan komentar orang lain.

Keunikan kebiasaan Gibral ini juga diakui oleh teman dekatnya. Ahmad Farhan Syafni, salah satu teman Gibral mengatakan bahwa sejak awal kuliah, Gibral memang dikenal sebagai pribadi yang memiliki cara pandang berbeda dibandingkan kebanyakan orang.

“Sejak semester satu saya sudah cukup dekat sama Gibra. Menurut saya dia memang orangnya agak unik dan berbeda dari teman-teman yang lain,” ujar Farhan.

Ia mengaku tidak terlalu terkejut ketika mengetahui kebiasaan Gibral memungut botol sambil berjalan kaki. Menurutnya, cara pandang Gibral terhadap kehidupan memang cukup berbeda.

“Saya sebenarnya nggak terlalu kaget ketika Gibral punya kebiasaan itu. Karena dari dulu worldview-nya memang agak berbeda dari orang lain,” tambahnya.

Temannya juga pernah menanyakan langsung alasan di balik kebiasaan tersebut. Dari percakapan itu, ia mengetahui bahwa Gibral memiliki tujuan yang cukup mendalam.

“Salah satu alasannya karena dia ingin hidup tanpa, atau setidaknya mengurangi kemelekatan duniawi. Itu yang membuat saya cukup takjub,” ungkapnya.

Selain dikenal dengan kebiasaan memungut botol, Gibral sebelumnya juga memiliki kebiasaan lain yang tidak kalah unik. Ia sering bersepeda ke berbagai tempat sebelum akhirnya lebih sering berjalan kaki.

“Setahu saya dulu Gibral punya sepeda dan ke mana-mana gowes. Dan satu lagi, dia orangnya sangat percaya diri. Omongan miring orang lain tidak terlalu dia urusi,” tuturnya.

Bagi Gibral, memungut botol bukan hanya tentang barang bekas. Dari aktivitas sederhana itu, ia menemukan energi, relasi, kesehatan, dan juga makna tentang kesederhanaan hidup. Sebuah cara sederhana untuk menjalani hidup dengan lebih ringan dan penuh kesadaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *