crossorigin="anonymous">

Kesenjangan Sosial Diantara Para Bakso

Sebagai pecinta bakso, aku baru benar-benar sadar betapa mirisnya kesenjangan sosial yang juga bisa tercermin dari semangkuk bakso. Ironisnya, kesadaran itu baru hadir saat usiaku menginjak dua puluh tahun. Ya, kamu tidak salah baca, ada kesenjangan sosial di antara bakso.

Hari itu bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi. Aku keluar rumah dengan hati lega dan bahagia, menikmati momen 30 menit sendirian di atas motor. Udara Jogja seperti biasa panas, jalanan macet, klakson kendaraan bersahut-sahutan. Namun entah mengapa, aku merasa beruntung. Rasa sesak yang biasanya menghantui perjalanan di jalan raya seolah lenyap, tergantikan oleh semacam ketenangan yang sulit kujelaskan.

Sebagai mahasiswa “kura-kura” alias kuliah rapat-kuliah rapat, hari-hariku sering terasa begitu padat. Rasanya waktu habis hanya untuk mengejar jadwal kuliah, menghadiri rapat, lalu kembali ke tugas. Maka ketika seorang teman mengajakku nonton film gratis di XXI Ambarukmo, tanpa banyak pertimbangan aku langsung setuju. Namanya juga mahasiswa, kata “gratis” selalu terdengar manis.

Namun ketika kami sampai, ternyata jadwal film baru mulai pukul 19.00 WIB. Sementara jam masih menunjukkan pukul 14.00 WIB. Lima jam menunggu bukanlah hal sepele, terlebih perutku sudah sejak pagi belum diisi makanan layak. Keroncongan terasa makin keras, seakan perutku ikut memprotes. Kami pun sepakat untuk mencari makan lebih dulu di sekitar mall.

Awalnya kami bingung karna sama-sama perempuan, sama-sama terserah kalau ditanya mau makan apa. Tapi langkah kaki membawa kami keluar dari gemerlap mall. Barusan kami melewati lorong-lorong dengan lampu mewah, toko-toko penuh wangi parfum dan pendingin udara yang memanjakan raga. Begitu keluar, suasananya berubah drastis. Bau comberan dari parkiran motor memenuhi udara. Kontras sekali dengan harum wewangian di dalam.

Di tengah sesaknya pedagang kaki lima, sebuah lapak mie ayam bakso menarik perhatian kami. Letaknya agak menjorok di dalam namun tetap dipinggir jalan, cukup lega dirasa dibandingkan lapak-lapak lain yang berdesakan. Penjualnya anak-anak muda yang ramah, terlihat asyik bercanda sambil tetap cekatan melayani pembeli. Ada kesan sederhana, bahagia.

Saat memesan, aku sedikit terkejut. Ternyata sistemnya prasmanan. Aku bebas mengambil sendiri bakso yang ingin kumakan. Inilah pengalaman pertamaku makan bakso seperti itu. Tapi ada hal yang membuatku terkejut, bakso dengan ukuran yang sama bisa memiliki harga yang berbeda jauh. “Apa bedanya?” batinku. “Mungkin bahannya kali ya.”

Namun seketika pikiranku melayang. Bukankah di dalam mall tadi, ada tempat makan yang menjual bakso serupa. Bedanya, harga yang ditawarkan bagaikan langit dan bumi.

Di situlah aku mulai merenung. Mengapa harga semangkuk bakso bisa sangat berbeda, hanya karena ruang yang menaunginya? Yang satu diberi label “premium,” disajikan di mangkuk porselen dengan kursi empuk dan pendingin ruangan. Yang lain dijajakan di pinggir jalan, dengan kursi plastik seadanya, diiringi asap kendaraan dan debu jalanan. Padahal, keduanya sama-sama bakso, daging yang digiling, dibulatkan, direbus, lalu disajikan dengan kuah hangat benar kan?. 

Semangkuk bakso itu mendadak menjadi metafora bagiku. Bukanan lagi sekadar makanan tapi cermin dari kesenjangan yang ditamparkan di depan mata. Ada gengsi, ada status, ada jarak sosial yang terbentang begitu lebar. Orang yang duduk di mall bisa menikmati bakso dengan nyaman, sementara di luar sana, ada orang yang bahkan harus menelan ludah karena tak mampu membeli semangkuk bakso sederhana di pinggir jalan.

Yah kenyataan itu membuatku sadar bahwa mall dan pinggirannya adalah dua dunia yang seolah dipisahkan garis tak kasat mata. Hanya beberapa ratus meter jaraknya, tapi perbedaannya begitu nyata, rasa, suasana, bahkan harga. Eh bukankah ini seperti gaji guru dan DPR diluar sana ya?. 

Setidaknya semangkuk bakso kali ini memberiku begitu banyak pelajaran. Bahwa dunia kita masih hidup dalam lapisan-lapisan tak terlihat. Lapisan yang membedakan siapa yang bisa duduk nyaman dengan hidangan “premium,” dan siapa yang harus berjuang demi sesuap kuah hangat. Menjadi pengingat, bahwa di balik gemerlap, masih ada gelap yang berjuang untuk tidak terlahap. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *