Di pertigaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jejak demonstrasi mahasiswa yang terjadi pada (02/9/2025) masih terlihat jelas. Sisa bakaran ban, coretan di pos polisi, hingga poster dan spanduk yang menempel di jalan menjadi saksi bisu atas perlawanan yang sempat menggemparkan kota ini.

Tulisan dengan cat semprot di pos polisi menjadi simbol perlawanan mahasiswa terhadap aparat yang dianggap represif.

Spanduk bertuliskan Jogja Cinta Damai, Jogja Anti Kekerasan menegaskan keinginan masyarakat untuk hidup tanpa intimidasi.
Fotografi ini menjadi medium yang merekam ingatan kolektif tersebut. Bukan hanya sekadar gambar, tapi potongan narasi yang menyuarakan keresahan mahasiswa terhadap kebijakan DPR. Melalui lensa, kita diajak menafsirkan kembali bagaimana ruang publik diubah menjadi ruang kritik.

Bagi sebagian orang, coretan-coretan di dinding hanyalah vandalisme. Namun bagi mahasiswa yang turun ke jalan, itu adalah bahasa visual untuk melawan. Bekas-bekas itu kini menyimpan cerita tentang keberanian, kemarahan, sekaligus luka sosial yang belum sepenuhnya sembuh.
Aksi itu tidak lahir dari ruang kosong. Mereka bergerak karena merasakan ketidakadilan sosial, terutama ketimpangan antara janji-janji pemerintah dan kenyataan rakyat.
“Kami berangkat tidak dari ruang kosong. Ketika DPR yang seharusnya mewakili rakyat justru menikmati fasilitas dan tunjangan besar, sementara jutaan orang sulit mendapat pekerjaan, di situlah kami merasa harus turun ke jalan,” ujar Mohammad Hisyam mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang mengikuti demo pada saat itu.
Ia menegaskan bahwa esensi demonstrasi bukan sekadar keributan. “Demo bukan hura-hura atau membakar saja, tapi menyampaikan aspirasi rakyat. Kami sudah menyalurkan lewat berbagai jalur resmi, tapi ketika suara kami tak didengar, turun ke jalan adalah jalan terakhir,” tambahnya.
Namun, luka dari aksi itu masih terasa. “Yang pertama adalah pasti luka itu masih ada, dan luka itu tidak bisa disembuhkan secara cepat. Apalagi ada korban jiwa yang hanya sedang mencari nafkah, bukan menikmati nafkah. Itu membuat emosi kami semakin naik.” lanjutnya.
Harapan mereka sederhana: adanya perbaikan kualitas wakil rakyat. “Seharusnya DPR itu diisi oleh orang-orang berkualitas. Kalau hanya mengandalkan popularitas, tanpa kapasitas, nilai DPR akan terus menurun,” ungkapnya.
Aksi di pertigaan UIN Sunan Kalijaga pun meninggalkan dampak besar. Di satu sisi, mahasiswa merasa suara mereka akhirnya lebih didengar. Di sisi lain, kerusakan fasilitas publik menimbulkan perdebatan.
“Kami tidak ingin merusak, tapi karena DPR tak mau menemui, bahkan memilih pergi ke luar negeri, akhirnya sebagian massa melakukan tindakan itu agar suara rakyat diperhatikan. Tujuan kami bukan merusak, tapi agar didengar,” tegasnya.

Sisa bakaran api di trotoar masih membekas yang berarti menunjukkan intensitas aksi yang sempat memanas.

Tulisan pilok di aspal pertigaan UIN Sunan Kalijaga, meninggalkan jejak kemarahan demonstran terhadap aparat saat aksi berlangsung.
Dari semua narasi fotografi ini mengingatkan bahwa demonstrasi tidak hanya berlangsung di jalan raya pada hari kejadian. Ia terus hidup di ruang-ruang kota, pada tembok yang dipenuhi pilok, pada aspal yang menghitam karena api, dan pada ingatan kolektif masyarakat yang menyaksikannya.
Penulis Ahmad Nuryogi | Editor Fatah Elhusein
- Ketika Kemandirian Menjadi Jalan Hidup Seorang Perempuan - 28 Oktober 2025
- Legowo di Tengah Lipatan Kain: Kisah Suharni di Pasar Kolombo - 21 Oktober 2025
- SUKATV Gelar Workshop Calon Generasi ke-18, Wujudkan Regenerasi Kreatif Mahasiswa - 16 Oktober 2025