Saat Kegagalan Menjadi Pelajaran, Dan Zona Nyaman Bukan Lagi Tempat Pulang

Hal yang tidak pernah diperkirakan, dari belasan kali kegagalan, Badri Cahya Ningrum justru menemukan kemenangan terbesarnya di luar zona nyaman. Perjalanannya membuktikan bahwa setiap jatuh bukanlah akhir, melainkan jalan menuju puncak yang tak pernah disangka. 

Ningrum, begitu ia akrab disapa. Tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi. 

Pada 6 Juli 2025 ia mengikuti Olimpiade Nasional Bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh sangjuara.id dengan peserta dari kalangan mahasiswa seluruh Indonesia, yang mana pada penentuan akhir Ningrum berhasil meraih medali emas. 

Berikut petikan wawancara kami bersama Ningrum. Dalam wawancara berikut Ningrum berbagi cerita mengenai perjalanan, tantangan, dan kisah di balik prestasinya. 

Awalnya gimana ya tertarik untuk ikut Olimpiade Nasional Bahasa Indonesia ini kalau boleh tahu? 

Awalnya, sebenarnya itu aku sendiri sudah hampir mengikuti lima belas perlombaan baik itu dari kampus, ataupun suatu lembaga pendidikan yang lainnya. Kebetulan dari lima belas lomba itu kebanyakan aku lebih fokus ke desain atau pembuatan poster. 

Tapi ketika ada poster ataupun postingan instagram, kok aku tertarik dengan perlombaan Olimpiade Nasional ini. Awalnya ya tertarik karena aku merasa mampu atau bisa melakukan, begitu. Di mana ini juga keluar dari zona nyaman ku sendiri, jadi keluar dari zona di mana aku gak berani. Jadi melawan ketakutanku untuk mengikuti lomba ini. 

Dari rasa takut yang akhirnya bisa ditaklukkan, langkah berikutnya tentu adalah menyiapkan diri. Jadi apa saja persiapan-persiapan yang dilakukan? 

Saat itu, karena perlombaannya ini hampir bersamaan dengan lomba yang lain. Aku pada akhir bulan Juli kemarin ada mengikuti dua perlombaan. Pertama yaitu lomba Olimpiade Nasional ini, dan kedua adalah lomba Poster Nasional. Disitu dua perlombaan ini memiliki deadline yang sama. Tetapi untuk yang lomba poster ternyata bisa diakalin dikarenakan deadlinenya mundur. Sedangkan untuk yang lomba Olimpiade cukup menyita banyak waktu, karena kita perlu belajar, mencari dan membuka kembali materi-materi yang sekiranya keluar pada soal Olimpiade Nasional bahasa Indonesia ini. Akhirnya aku memfokuskan semuanya pada Olimpiade Nasional ini, barulah setelah selesai aku fokus ke lomba poster yang tadi. 

Meski persiapan sudah dilakukan, biasanya tetap ada tantangan yang harus dihadapi. Nah, kiranya ada tidak tantangan yang sempat dirasakan selama persiapan maupun ketika perlombaan berlangsung? 

Ketika persiapan mungkin aku merasa sedikit agak trouble ketika aku belajar. Aku bingung harus mulai belajar dari mana karena jujur ini baru pertama kalinya aku mengikuti Olimpiade Bahasa Indonesia. Apa lagi bahasa Indonesia itu tidak hanya paham apa yang akan menjadi soalnya, tapi paham bagaimana isi dari soal itu.

Kemudian, kalau untuk tantangan ketika lomba mungkin adanya rasa tidak yakin pada diri sendiri, misalnya bagaimana jika nanti aku tidak menang, takut kalah, semua yang aku takutkan itu datang ketika perlombaan akan dimulai. 

Akan tetapi ketika perlombaan dimulai alhamdulillah aku melewati rasa ketakutan itu, dengan perasaan yang apapun nanti hasilnya aku akan mengusahakan semaksimal mungkin. 

Akhirnya, setelah diumumkan meraih medali emas perasaan aku yang pertama itu cukup senang. Semua pengorbanan dan semua perjuangan alhamdulillah oleh Allah diberi suatu kesempatan ini. 

Dari lima belas perlombaan yang kemarin itu aku banyak kalahnya, dan juga banyak gagalnya. Tapi, ternyata dari kegagalan itulah ada buah manis yang aku terima. Ternyata kegagalan itulah juga yang menempah aku biar bisa terus meroket, terus berjalan, dan percaya bahwa aku itu bisa. 

Pada akhirnya semua perjuangan pasti punya titik klimaks. Kemudian setelah diumumkan meraih medali emas, apa yang pada saat itu dirasakan? 

Untuk rasanya pasti senang. Pertama, karena dapat membanggakan kedua orang tua; Kedua, dapat membanggakan fakultas; ketiga, dapat membanggakan prodi dan juga UIN Sunan Kalijaga, kampus tercinta. 

Aku juga sangat berterima kasih kepada banyak orang karena sudah mendukung aku, dari segala apapun itu, baik fasilitas, saran, dan semangat. 

Perasaan bahagia tentu luar biasa, dan ada rasa syukur yang terus terucapkan. Tetapi lebih dari itu, apa makna kemenangan ini secara pribadi? 

Arti prestasi tersebut buat aku adalah berani, yang artinya tidak takut gagal. Bahwa ternyata kegagalan itu adalah kunci dari sebuah keberhasilan. Aku pernah merasakan gagal sepuluh sampai lima belas kali, tapi ketika aku berani untuk terus jalan, berani untuk terus berproses, ternyata kegagalan itu yang akan terus menempah aku sampai berhasil. Sehingga arti prestasi ini bagiku juga bukan hanya bisa membanggakan tapi juga menjadi nilai plus buat diriku, sudah sampai mana pemahaman aku di kampus dan sudah sejauh mana aku mengerti semua proses perjalanan diriku. 

Dari pengalaman yang penuh jatuh bangun ini, apa pesan yang ingin disampaikan pada teman-teman mahasiswa yang lain agar tetap semangat mengejar prestasi? 

Kalau dari aku sih ini bukan quotes tapi lebih ke pemantapan diri aja. Ketika kamu berani keluar dari zona nyamanmu kamu akan terus berani untuk berkembang. Tapi, kalau kamu tidak berani keluar dari zona nyamanmu, mau berproses seperti apa pun, aku percaya itu tidak akan terjadi. Tetapi, ketika kamu merasa di zona nyamanmu ini kok kayak aneh berarti kamu harus berubah, harus ada perubahan dalam dirimu, harus ada perjalanan baru. 

Kemudian juga jangan pernah takut gagal. Karena gagal adalah yang bisa menempah dan menumbuhkan keberhasilan kamu. Mencoba dan terus mencoba adalah hal yang memang sulit, tapi tidak ada salahnya ketika kita terus mencoba. 

Kemudian, pesan yang terakhir untuk teman mahasiswa, jangan pernah jangan pernah berhenti dan takut gagal, jangan pernah merasa kalian itu kecil, jangan pernah merasa minder, karena kalian punya potensi masing-masing, punya kekuatan sendiri, punya kelebihan sendiri, intinya apapun yang menjadi harapan kalian maka wujudkan. Jadi bagi para teman mahasiswa jangan pernah berhenti bergerak karena kita adalah agen perubahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *