crossorigin="anonymous">

Dari Slacktivism ke Aktivisme Nyata: Menuju Aksi yang Lebih Berdampak

Di era digital seperti sekarang, media sosial sudah jadi bagian hidup kita sehari-hari. Scrolling Instagram, nonton video TikTok, atau share postingan di Facebook udah jadi rutinitas yang nggak bisa dipisahkan. Tapi pernahkah kita mikir, seberapa besar sih dampak dari aktivitas online kita ini terhadap perubahan sosial yang nyata?

Belakangan ini, istilah “slacktivism” mulai sering diperbincangkan. Slacktivism adalah gabungan dari kata “slacker” (pemalas) dan “activism” (aktivisme), yang merujuk pada bentuk aktivisme yang cuma dilakukan dengan cara mudah dan nyaman, kayak like, share, atau comment di media sosial, tanpa benar-benar turun tangan secara langsung.

Fenomena Viral: Antara Kepedulian dan Mencari Viewers

Kita sering banget nemuin konten-konten yang viral di media sosial, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sosial atau kemanusiaan. Ambil contoh kasus Palestina yang lagi mengalami berbagai bencana dan konflik. Di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, banyak banget akun yang rutin upload video tentang penderitaan warga Palestina.

Tapi pertanyaannya, apakah mereka yang bikin konten ini bener-bener punya niat baik untuk membantu, atau justru cuma mencari viewers dan engagement buat akun mereka?

Kalau kita lihat beberapa akun yang sering viral dengan konten Palestina, ada pola yang menarik. Di TikTok misalnya, akun seperti @palestina_gaza92 yang cuma nampilin video orang Palestina lagi mengalami musibah, terus ditambah caption kayak “share video ini maka jarimu akan bersaksi di hari kiamat”. Seolah-olah kita harus share buat ketenangan di hari kiamat, padahal nggak ada hubungannya sama penderitaan yang dialami warga Palestina.

Sementara di Instagram, ada akun kayak @astaghfirullahwaatubuilaih yang pake strategi guilt-tripping dengan caption kayak “tenang hanya berita biasa, kamu juga udah terbiasa dengan berita genosida, lanjut scroll aja, nampaknya share berita Palestina pun kamu enggan melakukannya”. Kalimat-kalimat kayak gini seolah-olah kita yang nggak share berarti nggak peduli sama penderitaan orang lain.

Donasi Online: Transparan atau Mengambang?

Yang bikin tambah questionable, hampir semua akun-akun ini punya kolom rekening buat donasi. Mereka ngajak followers untuk transfer uang dengan janji bakal disalurin ke Palestina. Tapi masalahnya, nggak ada kepastian atau bukti nyata kalau uang yang dikumpulin bener-bener sampai ke tangan yang membutuhkan.

Nggak ada laporan keuangan, nggak ada dokumentasi penyaluran bantuan, yang ada cuma postingan yang terus-terusan nyuruh orang untuk share dan donasi. Ini yang bikin kita harus lebih kritis dalam melihat aktivisme di media sosial.

Dampak Slacktivism: Perubahan Semu atau Nyata?

Slacktivism memang bisa ningkatin awareness atau kepedulian masyarakat terhadap suatu isu. Ketika video tentang Palestina viral, pasti banyak orang jadi lebih tau tentang kondisi di sana. Tapi apakah itu cukup? Apakah cuma share dan like bisa benar-benar bantu mereka yang lagi kesusahan?

Sayangnya, perubahan yang dihasilkan dari slacktivism ini sifatnya cuma individual dan superficial. Orang mungkin jadi lebih aware, tapi nggak ada aksi nyata yang follow up. Malah kadang-kadang, setelah share atau like, kita merasa udah “berbuat baik” dan nggak perlu lagi melakukan tindakan yang lebih konkret.

Aktivisme Nyata: Ketika Tindakan Berbicara Lebih Keras

Beda banget sama slacktivism, aktivisme nyata tuh lebih dari sekedar klik dan share. Aktivisme nyata melibatkan tindakan konkret yang bener-bener bisa bikin perubahan, baik di level individu maupun struktural.

Contohnya, ada beberapa aktivis Indonesia yang bener-bener terjun langsung untuk membantu Palestina. Dr. Sarbini Abdul Murad, seorang dokter spesialis dari Medan, yang pernah terjun langsung ke zona perang untuk memberikan bantuan medis. Kiprahnya udah tercatat di berbagai media dan berita nasional.

Ada juga Nurjanah Ulwani dan beberapa aktivis lain yang nggak cuma bikin konten di media sosial, tapi juga organize gerakan nyata, fundraising yang transparan, sampai koordinasi langsung dengan organisasi kemanusiaan yang kredible untuk nyalurin bantuan.

Aktivis-aktivis kayak gini nggak cuma bikin awareness, tapi juga action. Mereka punya track record yang jelas, laporan yang transparan, dan yang paling penting, dampak nyata yang bisa diukur.

Jadi, Mana yang Lebih Efektif?

Bukan berarti media sosial nggak berguna sama sekali. Platform ini tetep penting buat nyebarin informasi dan bikin awareness. Tapi kita harus sadar kalau like dan share aja nggak cukup kalau kita bener-bener pengen bikin perubahan.

Yang paling ideal sih kombinasi keduanya. Media sosial buat edukasi dan awareness, terus diikuti dengan tindakan nyata. Mau itu donasi ke organisasi yang kredible dan transparan, volunteer di LSM, atau bahkan ikut demo yang damai dan konstruktif.

Kesimpulan: Waktunya Naik Level

Di zaman sekarang, kita nggak bisa lagi puas cuma jadi “keyboard warrior“. Kalau kita bener-bener peduli sama suatu isu, saatnya naik level dari slacktivism ke aktivisme nyata.

Share dan like boleh aja, tapi pastikan itu diikuti dengan tindakan yang lebih konkret. Cari tau organisasi mana yang bener-bener credible, donasi ke tempat yang transparan, atau bahkan ikut terlibat langsung dalam gerakan yang konstruktif.

Karena pada akhirnya, perubahan nyata nggak akan terjadi cuma dari jempol yang nge-like atau tombol share yang diklik. Perubahan nyata butuh tindakan nyata, komitmen yang konsisten, dan keberanian untuk turun tangan secara langsung.

Jadi, udah siap naik level dari slacktivist jadi activist yang sesungguhnya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *