Kalijaga.co – Kasus perundungan sempat terjadi di SD Muhammadiyah Sokonandi beberapa waktu silam. Pihak sekolah memutar otak untuk memutus rantai bullying tersebut. Pemisahan kelas menjadi salah satu solusi yang dipilih.
Konsep pemisahan kelas adalah dengan memisah antara kelas rendah yakni siswa SD kelas 1, 2, dan 3 dengan kelas tinggi yakni siswa SD kelas 4, 5, dan 6. Hal itu terbukti efektif untuk mengurangi perundungan. Cara tersebut dilakukan sejak 2015. Kini SD Muhammadiyah Sokonandi terdiri dari SD Muhammadiyah Sokonandi 1 dan SD Muhammadiyah Sokonandi 2. Konsekuensinya, dibutuhkan dua kepala sekolah pada satu sekolah yang sebenarnya dinaungi satu pengelola.
“Dulu sering terjadi bully oleh murid kelas 6 terhadap murid kelas 1. Namun murid-murid kelas 1 tidak berani melaporkan kejadian tersebut. Akhirnya, terjadi banyak insiden dimana murid-murid tersebut tiba-tiba enggan untuk masuk ke sekolah dan merasa takut saat berada di dalamnya. Setelah kami melakukan observasi yang lebih mendalam, akhirnya mereka berani untuk mengungkapkan bahwa pelaku bullying adalah beberapa murid kelas 6,” jelas Kepala SD Muhammadiyah Sokonandi 1 Anis Rofiah, Selasa (4/4/2023).
Setelah diterapkan, kebijakan tersebut membuat perubahan kondisi sekolah yang lebih aman dan nyaman bagi anak-anak. Tempat bermain yang awalnya menjadi tempat mengkhawatirkan, kini menjadi lokasi yang menyenangkan bagi siswa.
“Anak-anak kelas 1 juga merasa lebih percaya diri untuk berbicara ketika merasa tidak nyaman dengan perlakuan kurang baik dari teman sabayanya,” tandas Anis.
Metode yang dilakukan SD Muhammadiyah Sokonandi tersebut diamini Iklima Istiqomah, praktisi psikologi pendidikan. Dia menyatakan bahwa pemisahan tempat antara kelas rendah dan kelas tinggi pernah dilakukan di Kanada dan memang efektif dalam mengurangi bullying. Namun, sebenarnya cara ini hanyalah semacam shortcut atau jalan pintas untuk mengurangi bullying.
“Penelitian lain menyebutkan bahwa pemisahan saja tidak cukup untuk mencegah bullying. Ada juga faktor lain seperti iklim sekolah, kebijakan sekolah, dan dinamika sosial antar siswa di sekolah juga berperan penting dalam mencegah bullying,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Iklima juga menjelaskan dampak negatif kebijakan pemisahan kelas rendah dengan kelas tinggi. Kesempatan mentoring, kolaborasi antar kelas, dan penanaman rasa sayang kepada adik kelas dan hormat kepada kakak kelas bisa pudar dengan kebijakan ini.
Meskipun terdapat dampak positif dan negatif, Khairunnisa, salah satu orang tua murid SD Muhammadiyah Sokonandi 1, menunjukan respon positif terhadap kebijakan tersebut. Menurutnya, selain secara efektif mengurangi kasus bully, pemantauan tumbuh kembang siswa menjadi lebih fokus.
“Jika kelas bawah digabung dengan kelas tinggi, jarak usia mereka jauh dan saya khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun mungkin ada beberapa kenakalan di kelas rendah, tapi saya yakin masih bisa diatasi,” ujarnya. (pgmi)
Reporter : Dinda Fatimah I Photographer : Aulia Himmawati I Editor : Annisa Auliya
- 4 Cara Hilangkan Malas Ibadah ala Ketua MUI DIY - 19 April 2023
- Cara Jitu SD Muhammadiyah Sokonandi Mencegah Perundungan di Sekolah - 5 April 2023
- Ramadhan Mulia Fair: Berangkat Dari Al-Qur’an Menuju Syiar Yang Lebih Luas - 22 Maret 2023