crossorigin="anonymous">

Patah Hati Menjadi Karya: Perjalanan Indiz dan Lahirnya “The Dream 06 And 09”

Setiap helai perjalanan hidup selalu menyimpan titik balik yang tersembunyi di balik keberanian-keberanian kecil. Pada sebuah wawancara mendalam yang dilakukan pada Jumat, 11 September 2026, Zidni Ilman Nafi’an, pemuda yang akrab disapa Indiz, membuka lembaran kisahnya. 

Bagi Indiz, perjalanan panjang untuk menemukan jati diri dan pendewasaan tidak lahir dari zona nyaman, melainkan dari keberanian sederhana saat ia melangkah maju dan menggenggam erat sebuah mikrofon. Saat itu, suasana SMAIT Al tengah dipenuhi antusiasme menyambut kedatangan rombongan tamu dari sekolah cabang, SMAIT IC. 

Tanpa rasa ragu, Indiz mengajukan diri sebagai master of ceremony (MC) sebuah ajang pembuktian awal untuk menguji dan mengasah kemampuan public speaking-nya di hadapan publik yang lebih luas.

Dengan lantang dan percaya diri, Indiz membuka jalannya acara menggunakan gabungan tiga bahasa sekaligus yaitu Indonesia, Inggris, dan Arab. Meski di balik senyumnya terselip ketegangan dan perasaan ganjal bahwa penampilannya belum sepenuhnya sempurna, hasil akhir justru berbicara lain. 

Sambutan hangat dan pujian dari para guru sekolah tamu mengalir deras. Momen tersebut bukan sekadar keberhasilan membawakan acara, melainkan menjadi batu pijakan penting yang memupuk rasa percaya diri Indiz untuk terus berekspresi, memimpin, dan menyuarakan gagasan-gagasannya.

Namun, takdir selalu punya cara unik untuk mempertemukan dua manusia dalam satu alur cerita. Memasuki bulan Juni, sebuah agenda kemah kolaborasi antara sekolahnya dan cabang Bondowoso digelar di tengah keasrian iklim hutan pinus Jember. 

Suasana alam yang teduh dan udara dingin menjadi saksi bisu perjumpaan Indiz dengan seorang siswi yang juga merupakan Ketua Osis dari sekolah cabang tersebut. Ditugaskan bersama menjaga Pos 2, ruang perbincangan di antara mereka berkembang cepat menjadi lebih dari sekadar tugas organisasi.

Di tengah rimbunnya pohon pinus, obrolan mengalir begitu dalam. Indiz dan sosok yang disukainya itu saling membuka diri, berbagi cerita hidup, hingga merajut mimpi-mimpi masa depan. Memiliki kesamaan bulan lahir Juni membuat frekuensi komunikasi mereka kian lekat. 

Dari perbincangan hangat tersebut, terbesitlah ide kreatif untuk mengabadikan dinamika rasa dan impian mereka ke dalam bentuk karya tulis. Sebuah naskah novel mulai dirancang dengan judul June to the Moon, menghidupkan dua karakter utama bernama “Iaan” (usulan dari siswi SMAIT IC) dan “Ilaa” (usulan Indiz). Proyek tersebut menjadi lambang sinergi pemikiran, kedekatan jiwa, dan romantisme masa muda yang penuh imajinasi.

Sayangnya, perjalanan hidup tidak pernah berjalan lurus tanpa kerikil tajam. Kedekatan mereka yang makin intens rupanya memantik perhatian dan rumor di lingkungan sekolah. Laporan dari pihak luar yang masuk ke meja Kepala Sekolah menciptakan tekanan yang tak terhindarkan. 

Demi meredam situasi dan mematuhi batas aturan yang ada, hubungan yang semula hangat terpaksa mengalami masa vakum yang dingin. Komunikasi terputus, media sosial saling di-unfollow, dan ruang pertemanan yang dulu lapang mendadak menjadi canggung.

Keadaan kian rumit ketika kesalahpahaman tumbuh di atas jarak. Unggahan foto Indiz bersama teman perempuan lain menyulut cemburu dan salah sangka, hingga akhirnya akses komunikasi makin tertutup rapat setelah akunnya dibatasi (restricted) oleh siswi tersebut. Naskah novel June to the Moon yang dulu digarap dengan penuh semangat pun akhirnya terhenti di tengah jalan, terbengkalai sebagai berkas kenangan yang belum selesai dibaca.

Rasa kecewa dan ruang kosong akibat perpisahan tersebut tentu memberikan pukulan emosional. Namun, di sinilah letak kedewasaan seorang Indiz. Daripada larut dalam kesedihan atau meratapi narasi yang patah, ia memilih mengalihkannya menjadi energi kreatif. 

Rasa sakit, penyesalan, dan riak emosi itu diolahnya kembali di atas mesin ketik imajinasi. Indiz mulai merancang naskah baru bertema fiksi murni berjudul The Dream 06 and 09. Nama karakter “Ilaa” diubahnya menjadi “Ira”, mengemas kembali potongan kenangan menjadi sebuah karya sastra yang berdiri utuh.

Proyek The Dream 06 and 09  bukan sekadar sarana healing, melainkan sebuah pembuktian diri bahwa seorang penulis tidak boleh mati hanya karena satu naskah gagal diselesaikan. Dengan dorongan mandiri serta dukungan dari kepala sekolahnya, novel tersebut berhasil diterbitkan. 

Indiz turun tangan langsung mempromosikan karyanya, membuktikan bahwa dari pahitnya dinamika masa muda, selalu ada karya manis yang bisa dilahirkan. Tak berhenti di situ, pemikiran strategisnya juga melahirkan gagasan konsep pendidikan masa depan bernama Lawormtice School, yang disandingkannya dengan konsep  Psytalior School sebuah gagasan berbasis psikologi yang pernah didiskusikannya bersama sang mantan ketua OSIS.

Seiring berjalannya waktu, peristiwa di Jember memberikan perenungan mendalam tentang arah dan tujuan hidup Indiz yang sebenarnya. Ia mulai menata ulang prioritas diri. Ambisi pribadi perlahan bergeser menjadi komitmen sosial dan keluarga. 

Indiz bertekad untuk menyibukkan diri pada hal-hal produktif, menjadi sosok paman (uncle) yang dapat diandalkan dan membahagiakan adik-adiknya, serta menyimpan mimpi besar untuk mendirikan panti asuhan dan panti jompo di masa depan.

Untuk mewujudkan transformasi tersebut secara utuh, Indiz mengambil keputusan besar dalam hidupnya, melangkah keluar dari lingkaran masa lalu dan pindah ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi. Kota Pelajar ini dipilih bukan sebagai tempat melarikan diri, melainkan sebagai kanvas putih yang bersih. 

Di Jogja, Indiz berkomitmen untuk mereset kehidupannya, membangun personal branding yang positif, memperluas jaringan relasi akademik maupun profesional, serta meninggalkan bayang-bayang desas-desus lama di Jember.

Kini, langkah kaki Indiz di sudut-sudut kota Yogyakarta adalah langkah seorang pemuda yang telah ditempa oleh pengalaman. Keberanian mengambil mikrofon di SMAIT Al, hangatnya kenangan hutan pinus Jember, pahitnya perpisahan, hingga lahirnya novel The Dream  06 and 09 kini bersatu membentuk fondasi karakter yang kuat. Indiz telah membuktikan bahwa akhir dari sebuah cerita hanyalah awal bagi babak baru yang jauh lebih megah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *