Kalijaga.co – Riuh yang tersemat di puting beliung jiwamu –
Kau anggap belum seberapa
Seantero pun kau buat takjub
Melihat moleknya pertunjukan topengmu
Mencacah kalimat suci yang dirangkai dengan rasa benci
Untuk dirombak, dipendam, dimusnahkan, dikebiri
Lantas apa yang kau persembahkan malam ini?
Bukankah kau sudah mendambanya sejak sewindu lalu?
Di Lorong setengah lingkaran di ujung sangkakala sana
Panggil jiwaku, jika ragaku enggan kau rasakan
Wujudku akan mendongeng lalu meretas rasa riuhmu
Yang sempat kau kafani dan kau kubur
Dengan bongkahan batu bara yang menyala
Sahutku akan menyengsarakan lolongan serigala di sorot matamu
Memekik, mencekik bahkan mengikis serapah
Yang sempat mengais belas kasihmu
Di baris pamungkasnya, akan kutempa raut rapuh
Hingga arus marcapada merintih dan minta maaf padamu
Penulis Reganessa Diosalwa Wisanggeni | Editor Qisthiyatun Nafi’ah