crossorigin="anonymous">

Membaca Owl and Wolf melalui Triangular Theory of Love dari Robert J. Sternberg

Kalijaga.co – Burung hantu dan serigala sama-sama anak kandung malam. Keduanya terjaga ketika dunia lain telah lelap, berburu dalam sunyi dengan insting sebagai satu-satunya kompas. Namun kedekatan semacam itu ternyata tak pernah cukup untuk mempertemukan keduanya dalam satu dunia yang sama. Dari metafora inilah Owl and Wolf milik The SIGIT membuka pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar lagu patah hati biasa: mungkinkah dua orang saling mencintai, tetapi tetap tidak bisa bersama?

Pertanyaan itu bukan sekadar kisah romantis yang akrab ditemui dalam lagu-lagu patah hati. Lagu yang ada dalam album Detourn (2013) ini tidak pernah menjelaskan siapa yang salah atau mengapa hubungan itu berakhir; The SIGIT memilih bercerita lewat metafora, dengan burung hantu dan serigala sebagai dua tokoh yang mewakili sepasang kekasih burung hantu merepresentasikan perempuan, serigala melambangkan laki-laki.

Dalam sebuah unggahan Instagram Massive Music Entertainment yang diulas Hypeabis, Farri Icksan, gitaris sekaligus penulis lagu ini menjelaskan bahwa kedua hewan itu dipilih justru karena secara alami hampir mustahil bersatu: satu berasal dari dunia burung, satu lagi mamalia, dengan habitat dan watak yang jauh berbeda. Ia melihat burung hantu sebagai lambang kecerdasan dan kearifan, sementara serigala baginya adalah makhluk penyendiri yang penuh misteri, meski secara sosial hidup dalam kawanan, wataknya digambarkan tertutup, jarang menunjukkan apa yang dirasakannya kepada yang lain. Gagasan ini menjadi menarik ketika dibaca melalui perspektif psikologi hubungan, khususnya Teori Segitiga Cinta (Triangular Theory of Love) yang dikemukakan Robert J. Sternberg.

Menurut Sternberg, cinta tidak hanya terdiri atas rasa sayang. Ia menjelaskan bahwa hubungan dibangun oleh tiga komponen utama: intimacy (kedekatan emosional), passion (ketertarikan atau gairah), dan commitment (komitmen untuk bertahan dan membangun masa depan bersama).

Banyak orang menganggap bahwa selama dua orang masih saling mencintai, hubungan akan selalu menemukan jalannya. Namun, teori Sternberg menunjukkan hal yang berbeda. Cinta memang komponen penting, tetapi tidak selalu cukup dalam hubungan, bisa saja terasa hangat dan penuh kasih sayang, namun tetap kandas ketika komitmen, tujuan hidup, atau kesiapan menghadapi realitas tidak berjalan beriringan.

Di sinilah Owl and Wolf terasa begitu dekat dengan pengalaman banyak pendengar. Lagu ini tidak berbicara tentang pengkhianatan atau kebencian; tidak ada sosok yang digambarkan sebagai pihak yang bersalah. Yang tersisa justru kesan bahwa dua individu telah berusaha mempertahankan sesuatu yang sejak awal memang sulit dipersatukan.

Hal itu terasa jelas dalam salah satu liriknya: “I set the fire on the black hole’s gates.” Farri menjelaskan bahwa gambaran itu adalah upaya menyalakan api tepat di gerbang lubang hitam, yaitu sesuatu yang secara ilmiah mustahil terjadi, sebab api memerlukan oksigen untuk menyala, sementara ruang di sekitar lubang hitam adalah kehampaan total tanpa oksigen sama sekali. Dalam konteks hubungan, gambaran itu bisa dibaca sebagai upaya mempertahankan cinta di tengah keadaan yang sudah tak lagi menyediakan ruang bagi hubungan itu untuk bertahan, sebuah perjuangan yang secara logika sia-sia, namun tetap dilakukan karena cinta tidak selalu tunduk pada logika. Tentu, ini hanyalah salah satu cara membaca lagu tersebut, bukan makna tunggal yang dimaksudkan penciptanya.

Yang membuat Owl and Wolf tetap relevan hingga kini mungkin bukan karena lagu ini menawarkan jawaban, melainkan karena ia menyisakan ruang bagi pendengarnya untuk mengisi makna dengan pengalaman masing-masing. Sebagian melihatnya sebagai kisah patah hati; sebagian lainnya menganggapnya sebagai cerita tentang dua orang yang dipertemukan pada waktu yang kurang tepat.

Melalui sudut pandang Sternberg, lagu ini menjadi pengingat bahwa hubungan tak cukup ditopang oleh rasa cinta semata. Kedekatan emosional dan gairah memang sanggup mempertemukan dua orang, tetapi merawat hubungan agar tetap hidup menuntut lebih dari sekadar itu: komitmen, kesamaan arah, dan kesiapan untuk berjalan bersama menghadapi kenyataan.

Barangkali, di situlah letak alasan mengapa Owl and Wolf masih terus menemukan pendengarnya, lebih dari satu dekade setelah dirilis. Lagu ini tidak sedang mengajarkan cara mencintai; ia hanya berbisik pelan bahwa dalam beberapa kisah, dua orang bisa saling mencintai dengan tulus, namun tetap berjalan menuju arah yang berbeda, persis seperti burung hantu dan serigala cukup sama-sama akrab dengan gelap, namun tak pernah benar-benar dalam lingkup dunia yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *