crossorigin="anonymous">

Setu Sinau Memberikan Ruang Belajar yang Terbuka di Malioboro

Kalijaga.co – Pagi hari saat cahaya matahari mulai menyentuh lembut trotoar jalan Malioboro, sejumlah pengajar budaya telah lebih dulu menggelar tikar, alat musik, dan papan tulis. Pagi itu, Setu Sinau kembali membuka ruang belajar di tengah hiruk-pikuk kawasan wisata Yogyakarta.

Setu Sinau ing Malioboro berasal dari Bahasa Jawa yang berarti Sabtu belajar di Malioboro. Setu Sinau bukan seperti ruang kelas yang dibatasi jadwal dan jumlah siswa, ia adalah kelas terbuka di pinggir jalan Malioboro pengunjung bebas singgah untuk belajar, bertanya, bahkan hanya sekedar memperhatikan. Setu Sinau diadakan oleh dinas kebudayaan kota Yogyakarta tidak hanya berdiri sendiri, ia dibersamai komunitas-komunitas budaya dan pelaku budaya yang ada di Yogyakarta.

Sambil menyusuri jalan Malioboro terlihat Sinau Njoged yang di dalamnya para pengunjung dari berbagai usia belajar menari tradisional Jawa mulai dari memperhatikan para penari sampai mengikuti gerakan tarian secara beriringan. alunan musik dan gerakan tarian yang beriringan memberikan warna di sudut Malioboro.

Bergeser sedikit terlihat wajah-wajah yang berkerut melihat papan tulis. Pada Sinau Aksara Jawa pengunjung diajarkan praktik membaca dan menulis aksara Jawa. Saat di samping papan tulis, dengan wajah yang terlihat sepuh, seorang pengajar mengenalkan huruf demi huruf kepada para pesertanya.

Tak jauh dari sana terlihat pensil-pensil warna yang berserakan serta anak-anak yang mengukirkan khayalannya dalam selembar kertas. Sinau Nggambar berupa kelas menggambar atau melukis seni. Berawal dari sini, lukisan dan warna bermunculan dengan khas budayanya.

Sinau Dolanan Anak ramai oleh gelak tawa, terlihat para anak-anak bermain permainan tradisional bersama. Sembari menunggu anaknya bermain, para ibu mencoba memainkan butir-butir kerang dalam permainan congklak yang disediakan.

Sisi lainnya, beberapa helai kain batik dan lurik tertata rapi di atas meja. Sinau Ngadi Busana mengajak para pengunjung mengenal cara mengenakan busana tradisional Jawa dengan benar. Seorang pengajar tampak telaten membenarkan lipatan kain yang dikenakan peserta, sementara yang lain memperhatikan setiap tahapan dengan penuh rasa ingin tahu. Sesekali terdengar tawa ketika kain yang dikenakan melorot atau lilitannya belum pas.

Ada satu kelas yang paling menonjol pagi itu. Gending yang tersusun beserta bunyi gamelan mengalun pelan memecah riuhnya suasana Malioboro. Peserta dari berbagai usia duduk bersila sambil memegang tabuh di hadapan seperangkat gamelan. Mereka mengikuti arahan pengajar, memukul bilah demi bilah dengan irama yang perlahan mulai selaras. Meski beberapa kali masih ragu menentukan tempo, senyum para peserta menunjukkan bahwa belajar gamelan bukan hanya tentang memainkan nada, tetapi juga menikmati proses mengenal warisan budaya.

Peserta mencoba bermain alat musik Gending. (Foto: Dhiya Husna)

“Generasi sekarang sudah agak asing dengan kebudayaan dan tradisi tradisional yang lama, sekarang mereka lebih memilih bermain gadget dan game,” ujar Riki seorang pengajar Nabuh Gending di setu Sinau.

Setu Sinau hadir dan memberikan ruang untuk kekhawatiran terhadap fenomena anak muda yang tidak mengenal budayanya dan memilih budaya modern. Kekhawatiran Riki terhadap arus digital pada anak muda berharap Setu Sinau datang sebagai solusi untuk lebih mengenal budaya lokal. Tak hanya mengajak warga lokal namun juga menarik perhatian para pengunjung dan turis luar negeri untuk turut bergabung dalam belajar budaya.

“Kami berharap dari kalangan anak muda maupun dari orang tua harus bisa mengajak anaknya untuk bisa melestarikan kebudayaan kita agar kebudayaan kita tidak punah dan sepi peminatnya,” imbuh Manda, satu di antara pengajar Nabuh Gending dari Taman Pintar.

Kelas yang bermodal tikar dan papan tulis dihadiri peserta dari berbagai kalangan. Selain menjadi pengalaman baru, Setu Sinau memberi makna tersendiri untuk para pengunjungnya. Anak muda datang untuk belajar hal yang terlihat baru. Namun, pengunjung yang berupa orang tua Setu Sinau menjadi tempat untuk bernostalgia. Kebudayaan yang dulu ia pelajari semasa kecil ditampilkan kembali di tengah banyak kalangan yang lebih tak mengenalnya.

“Saya dari Jawa juga, datang ke sini untuk mendengarkan musik jawa biar lebih gembira berjalan dan menikmati suasana kota Jogja. Saya ke sini untuk pengalaman pada anak saya dan diri saya sendiri,” tutur Suyanti, salah satu pengunjung Setu Sinau.

Mungkin tidak semua orang yang singgah di Setu Sinau akan pulang dengan kemampuan menari atau menulis aksara Jawa. Namun, setidaknya mereka membawa pulang satu kesadaran bahwa warisan budaya hanya akan bertahan jika masih ada ruang untuk mengenalnya. Pada antara langkah-langkah yang terus memenuhi Malioboro setiap akhir pekan, Setu Sinau mengingatkan bahwa berhenti sejenak untuk belajar bisa menjadi cara sederhana menjaga identitas sebuah bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *