crossorigin="anonymous">

Perubahan Pola Belanja Mahasiswa Ketika Bulan Puasa

Kalijaga.co – Bulan ramadhan selalu hadir membawa perubahan besar, tentunya dalam ritme ekonomi masyarakat terkhusus mahasiswa. Di bulan puasa bukan hanya peningkatan belanja tapi juga titik temu antara nilai religius dan kebutuhan emosional. Hal ini tentu dipengaruhi oleh momen religius yang tetntunya memicu peningkatan pembelian dan perputaran ekonomi.

Khusunya di Yogyakarta, kapasitas mahasiswa yang lumayan banyak juga sangat mempengaruhi siklus perekonomian, terlebih lagi sebagian besar lainnya adalah mahasiswa rantau, tentu di bulan puasa pola hidup mahasiswa sedikit berubah dari bulan-bulan biasanya, banyak dari mahasiswa memanfaatkan momen puasa sebagai ruang kretifitas dalam berbisnis. Melihat dua kondisi sebagai peluang untuk berbisnis yaitu di waktu menjelang berbuka puasa dan waktu sahur, banyak dari mahasiswa membuka lebar ruang bisnis di dua momen ini, mulai dari jualan takjil seperti makanan siap saji dan minuman-minuman segar yang siap di santap saat berbuka maupun di saat sahur.

Mengenai pola belanja mahasiswa yang tentu sangat signifikan di bulan puasa, mode hemat on, lantaran lumayan juga event berbagi takjil di selasar-selasar masjid dan sekitaran pinggiran jalan, isi dompet yang sebelumnya digunakan untuk mengisi perut kini dialihkan menjadi tabungan bisnis untuk mencari upah lebih. Beberapa golongan mahasiswa berpikir bahwa momen patut untuk di jadikan ruang berbisnis, salah satu contohnya Himpunan mahasiswa program studi komunikasi dan penyiaran islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga mengadakan sekotak meja untuk digunakan berjualan yang isinya beraneka ragam makanan, dayak tarik pembeli melonjak karena menu yang disediakan sesuai dengan lidah dan kantong mahasiswa, mereka menjual Rishol dan Cibay disertai dengan balutan rasa yang beragam seperti Matcha, Coklat dan Mayo. Jualan mereka laris manis meskipun di pelataran jalan UNY juga banyak bersebelahan dengan pedagang dan pelaku usaha makanan takjil lainnya. Yang menarik perhatian adalah pembelinya adalah mayoritas mahasiswa juga dan pada akhirnya branding jualan cepat tersebar di media sosial.

Hal ini tentu membawa efek dan pola yang positif dengan memanfaatkan momen, uang tidak hanya bersarang di kantong namun berputar dan semakin bertambah. Pada akhirnya inilah yang meromantisasi momen bulan puasa, kebutuhan religius terpenuhi dan kebutuhan emosional juga ikut tertutupi, dengan adanya perubahan pola seperti mahasiswa sangat memanfaatkan agar menambah pengalamam bisnis dan tentunya nilai religius yang ikut bertambah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *