Penulis Mifta Khoirunnisa
Surat, Teruntuk Sebuah Nama
Mungkinkah aku adalah pulang yang tak lagi kau rindukan?
Riuh tanya menyeruak,
berputar-terulang, bagai mantra yang sayup terdengar
Aku termangu, bahkan untuk mengetukmu pun aku kelu
Langkahku mengendap, berharap takdir menyisakan celah
Kugapai segaris senyummu dari ujung netra
Rona masa silam masih tertinggal di lekuk waktu
Di sudut mimpi pun, masih ada cahaya terpercik-
meski hanya di ujung cakrawala
Bisakah sisa namamu yang kusurat dalam senyap
menemukan arah tanpa peta?
Sekian bintang ingin bertabur menghias langitku
Namun mataku masih mencari senja,
Meski ia terus luruh bersama malam
Cahaya Harap di Ujung Penantian
Nun, nan jauh di sana
Di belahan bumi tanpa alas kedamaian
Mencari tempat berlindung,
walau sadar ketakutan menjadi bayang yang tak pernah reda
Langitnya berpayung abu
Hamparan tanahnya mengubur pendar harap
Jerit tangis telah jadi nyanyian harian
Mereka bertahan
Di antara barisan jiwa yang gugur tanpa pamit
Gaza, dalam sunyi kau rengkuh derita
Lukamu ialah cerita yang tak dimengerti dunia
Beribu pasang mata menatap nanar nestapamu
Menahan murka - namun tetap tak tahu harus apa
Barangkali luar sana iba
Barangkali pula tak sungguh peduli
Meski begitu, ragamu pun tak rebah sepenuhnya
Di balik reruntuhan, beriring dentuman yang menyobek subuh
Tangan-tangan mungil setia menengadah
Kepada Sang Empu Semesta, kepada Zat yang tak pernah terlelap
Untuk cahaya di ujung penantian sana
Ilham yang Tak Lagi Sama
Pernah,
dalam musim yang tak tercatat pada almanak,
aku menjumpai senyum
yang tak datang dengan gegap,
namun hadir seperti angin yang tahu kapan harus pulang
tanpa menutup jendela.
Senyum itu bukan milik waktu dewasa,
melainkan kanak-kanak yang belum tahu caranya
membela luka,
belum paham arti kehilangan,
namun telah pandai menenun hangat
dari sebaris garis di bibir,
yang melengkung
seperti doa yang diam-diam dikabulkan.
Ada sepasang mata yang menyipit tanpa dendam,
ada lipatan pipi yang menyerupai lekuk di tanah sehabis hujan,
dan deretan gigi kecil yang tersusun
seolah dunia tak pernah mencoba meruntuhkannya.
Kini,
aku tak lagi tahu rupa senyum itu,
barangkali ia telah berubah,
barangkali telah jatuh suka pada cermin yang lain.
Namun biarlah,
ia tinggal di sudut langit ingatanku,
sebagai satu fragmen
yang tak perlu kutagih kehadirannya,
cukup kutundukkan kepala,
dan biarkan ia menetap
sebagai puisi yang tak pernah selesai kutulis.
Latest posts by Kontributor (see all)
- Musik Tak Pernah Cukup Untuk Menjadi Alat Ukur Klasifikasi Sosial - 16 Januari 2026
- Antara Makeup Waterproof dan Kesempurnaan Wudu : Dilema Kecil Seorang Muslimah - 16 Januari 2026
- Bertahan Menjadi Pemahat di Tengah Zaman yang Berubah - 14 Januari 2026