crossorigin="anonymous">

Mahasiswa Laki-Laki dan Perempuan: Dua Wajah dalam Menghadapi Tekanan Akademik

Kalijaga.co – Tekanan akademik adalah teman akrab yang tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Tuntutan menyelesaikan tugas, mempersiapkan ujian, mengejar nilai sempurna, hingga tekanan menyelesaikan skripsi di akhir masa studi menjadi beban yang harus dipikul setiap hari.

Namun, yang menarik untuk dicermati adalah bagaimana mahasiswa laki-laki dan perempuan merespons tekanan tersebut. Apakah mereka menghadapinya dengan cara yang sama? Atau justru terdapat perbedaan mendasar yang dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perbedaan cara mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam menghadapi tekanan akademik bukan sekadar stereotip, melainkan fenomena yang terukur dan memiliki implikasi serius bagi kesejahteraan mental mereka. Semoga tulisan ini akan mengupas tuntas perbedaan tersebut, mulai dari tingkat kerentanan hingga strategi koping yang digunakan, serta apa maknanya bagi pendidikan tinggi di Indonesia.

Kerentanan yang Berbeda: Perempuan Lebih Rentan?

Salah satu temuan paling signifikan datang dari penelitian yang dilakukan oleh Gadis Endah Pia Nirmala dan Annisa Arrumaisyah Daulay di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara yang hasilnya diterbitkan pada tahun 2025.

Penelitian ini menganalisis tingkat insecure akademik pada 212 mahasiswa semester VI. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan (sig < 0,001). Mahasiswa perempuan memiliki skor rata-rata yang lebih tinggi pada seluruh indikator, seperti ketakutan akan penilaian, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain, perasaan tidak kompeten, dan ketakutan akan kegagalan.

Temuan ini sejalan dengan penelitian internasional yang dipublikasikan di Discover Mental Health pada April 2025. Studi yang melibatkan mahasiswa di Jerman tersebut mengungkapkan bahwa mahasiswa perempuan melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, terutama dalam dimensi stres emosional dan kekurangan energi.

American Psychological Association juga mengkonfirmasi bahwa perempuan memiliki tingkat stres yang lebih tinggi secara umum, dengan sumber utama berasal dari tekanan finansial, tanggung jawab keluarga, dan relasi sosial.

Mengapa perempuan lebih rentan? Penelitian dari Cepham (2025) menjelaskan bahwa perbedaan ini berakar pada faktor biologis. Perempuan dengan kadar estrogen dan oksitosin yang lebih tinggi cenderung merespons stres melalui mekanisme “tend-and-befriend” merawat dan menjalin ikatan sosial. Sementara laki-laki dengan testosteron lebih dominan menunjukkan respons “fight-or-flight” berlaga atau menghindar.

Psikolog Shelley Taylor dari Universitas California Las Angelas  (UCLA) memperkuat teori ini dengan argumen bahwa dari sudut pandang evolusi, perempuan sebagai pengasuh utama memiliki keuntungan bertahan hidup dengan membangun jaringan sosial daripada melawan ancaman secara langsung.

Strategi Koping: Problem Focused vs Emotion Focused

Perbedaan paling mencolok antara mahasiswa laki-laki dan perempuan terletak pada strategi yang digunakan untuk mengatasi tekanan.

Penelitian yang dilakukan Nabilah Dwi Dianti dan Isnaini Handayani di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA pada 2025 menunjukkan temuan menarik. Dalam studi terhadap 94 siswa SMA yang menghadapi ujian matematika 83,78% siswa laki-laki menggunakan strategi problem focused coping yaitu strategi yang berfokus pada pemecahan masalah secara langsung. Sementara pada siswa perempuan, persentase yang menggunakan strategi serupa lebih rendah yakni 64,91%.

Namun, penting dicatat bahwa penelitian lain memberikan nuansa berbeda. Studi longitudinal yang dilakukan terhadap 186 mahasiswa selama 21 hari berturut-turut menemukan bahwa laki-laki memang lebih banyak menggunakan problem focused coping, sementara perempuan lebih mengandalkan emotion focused coping dan pencarian dukungan sosial. Ini bukan berarti satu strategi lebih baik dari yang lain, melainkan menunjukkan pendekatan yang berbeda terhadap masalah yang sama.

Penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Education pada 2024 memperkaya pemahaman ini dengan menemukan adanya interaksi antara jenis kelamin dan latar belakang budaya. Mahasiswi Eropa ditemukan sebagai kelompok yang paling aktif menggunakan berbagai strategi koping.

Sementara mahasiswa laki-laki keturunan Berber justru paling sedikit menggunakan strategi koping baik aktif maupun pasif. Ini mengingatkan kita bahwa faktor sosiokultural turut memainkan peran penting.

Dampak pada Kesehatan Mental dan Perilaku

Perbedaan dalam merespons stres juga berdampak pada kesehatan mental dan perilaku mahasiswa. Penelitian dari Jepang yang diterbitkan pada tahun 2025 mengungkapkan bahwa pada mahasiswa laki-laki, faktor “prokrastinasi” atau kebiasaan menunda-nunda memiliki pengaruh kuat terhadap reaksi stres.

Sementara pada mahasiswa perempuan, faktor “keadaan terpengaruh” (influenced state) yakni seberapa besar mereka dipengaruhi oleh lingkungan lebih dominan mempengaruhi reaksi stres.

Dari sisi dampak psikologis, perempuan lebih berisiko mengalami kecemasan dan depresi akibat tekanan akademik. Sementara laki-laki lebih rentan terhadap gangguan perilaku seperti penyalahgunaan zat.

Penelitian Mache dkk, menemukan bahwa secara signifikan lebih banyak mahasiswa laki-laki yang mengonsumsi nikotin, alkohol, dan THC dibandingkan mahasiswa perempuan sebagai mekanisme mengatasi stres.

Cara memulihkan diri juga berbeda. Mahasiswa perempuan cenderung mencari pemulihan melalui interaksi sosial dan kegiatan yang menenangkan. Sementara laki-laki lebih sering menggunakan aktivitas fisik atau justru menghindar dari masalah. 

Nuansa yang Perlu Dicermati: Bukan Sekadar Perbedaan

Meskipun berbagai penelitian menunjukkan perbedaan signifikan, penting untuk tidak terjebak dalam generalisasi berlebihan. Penelitian oleh Bella Sintia di Institut Islam Ma’arif Jambi (2025) memberikan perspektif yang berbeda.

Studi terhadap 110 mahasiswa yang bekerja sambil kuliah menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan nilai rata-rata resiliensi akademik yakni, perempuan 74,76%, laki-laki 72,01% perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik (p=0,053).

Temuan ini mengindikasikan bahwa ketika mahasiswa dihadapkan pada tekanan tambahan seperti tuntutan bekerja, perbedaan gender mungkin menjadi kurang relevan dibandingkan faktor-faktor lain seperti motivasi internal, dukungan sosial, dan pengalaman hidup. Dengan kata lain, konteks sangat menentukan bagaimana seseorang merespons tekanan.

Penelitian lain yang dipublikasikan di Pegem Journal of Education and Instruction tahun 2024 juga menegaskan bahwa hubungan antara strategi koping dan resiliensi akademik tidak semata-mata ditentukan oleh gender, melainkan oleh faktor domisili dan konteks spesifik.

Implikasi bagi Pendidikan Tinggi

Apa makna temuan-temuan ini bagi perguruan tinggi di Indonesia?

Pertama, layanan bimbingan dan konseling perlu dikembangkan secara responsif gender. Temuan bahwa mahasiswi lebih rentan terhadap insecure akademik menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih proaktif dalam memberikan dukungan psikologis bagi mahasiswi. Pelatihan manajemen stres dan pendekatan pembelajaran yang empatik menjadi kebutuhan mendesak.

Kedua, penting untuk membangun lingkungan akademik yang inklusif dan bebas stereotip. Penelitian menunjukkan bahwa perbandingan diri (self-comparison) menjadi salah satu pemicu utama insecure pada mahasiswi. Budaya akademik yang terlalu kompetitif dan mengagungkan “mahasiswa sempurna” justru dapat memperparah kondisi ini.

Ketiga, edukasi tentang strategi koping perlu diberikan secara seimbang. Mahasiswa laki-laki yang cenderung menggunakan problem focused coping perlu dibantu untuk tidak mengabaikan aspek emosional dari tekanan yang mereka hadapi. Sebaliknya, mahasiswi yang cenderung menggunakan emotion focused coping perlu didorong untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah yang lebih terstruktur.

Keempat, perguruan tinggi perlu menyadari bahwa mahasiswa bukanlah kelompok homogen. Program dukungan akademik dan mental health perlu mempertimbangkan beragam faktor bukan hanya gender, tetapi juga latar belakang ekonomi, domisili, dan status pekerjaan.

Dari hal tersebut menunjukkan perbedaan cara mahasiswa laki-laki dan perempuan menghadapi tekanan akademik adalah nyata dan terukur.

Mahasiswi cenderung lebih rentan terhadap insecure akademik, lebih merasakan stres emosional, dan lebih sering menggunakan strategi koping berbasis emosi dan dukungan sosial. Sementara mahasiswa laki-laki cenderung menggunakan strategi pemecahan masalah, namun juga lebih berisiko terhadap perilaku maladaptif seperti penyalahgunaan zat dan prokrastinasi.

Namun, perbedaan ini tidak bersifat mutlak. Konteks kehidupan, pengalaman, dan faktor-faktor lain seperti status pekerjaan dan latar belakang budaya dapat memodifikasi bahkan meniadakan perbedaan gender tersebut.

Yang terpenting, temuan-temuan ini seharusnya tidak digunakan untuk memperkuat stereotip, melainkan menjadi dasar untuk mengembangkan sistem pendukung yang lebih peka, inklusif, dan efektif bagi seluruh mahasiswa.

Pada akhirnya, tekanan akademik adalah tantangan universal yang dihadapi setiap mahasiswa. Namun, jalan menuju ketahanan akademik sebagaimana jalan menuju kedewasaan itu sendiri bisa berbeda antara satu individu dengan individu lainnya.

Tugas perguruan tinggi adalah menyediakan beragam jalur dan dukungan sehingga setiap mahasiswa, apa pun jenis kelaminnya, dapat menemukan caranya sendiri untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah tekanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *