Kalijaga.co – Menjelang bulan Ramadan, sejumlah harga bahan pokok di Yogyakarta mulai mengalami kenaikan. Kondisi ini tentu dirasakan langsung oleh masyarakat maupun pedagang di berbagai pasar tradisional. Kenaikan harga terjadi terutama pada komoditas utama seperti telur ayam, daging ayam, cabai, gula pasir, dan per-bawang-an yang merupakan kebutuhan pokok rumah tangga.
Femonena ini menjadi perhatian karena terjadi hampir setiap tahun memasuki bulan puasa dan berdampak langsung oleh masyarakat. Kenaikan ini pun tidak hanya berdampak kepada aktivitas jual beli di pasar, tetapi juga memengaruhi pola konsumsi, strategi belanja, hingga kestabilan keuangan rumah tangga.
Salah satu pedagang telur ayam di Pasar Kranggen, Bu Sunarti, mengatakan bahwa harga telur ayam naik secara bertahap sejak dua minggu sebelum Ramadan. Jika sebelumnya harga relatif stabil, pedagang pasar harus menyesuaikan dengan harga penjualan yang sudah tinggi sejak dari distributor.
Menurutnya, kenaikan ini bukan semata-mata karena pedagang ingin mengambil keuntungan lebih, melainkan karena rantai pasok dari produsen sudah mengalami peningkatan harga. Hal ini membuat pedagang tak punya banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual supaya bisa tetap mendapatkan keuntungan yang wajar. Meski sebenarnya pedagang juga khawatir pembeli berkurang.
“Kalau tidak ikut naik, kami bisa rugi. Tapi kalau terlalu mahal, pembeli juga mikir dua kali untuk membeli,” ujarnya.
Selain telur, bahan pokok lain seperti cabai dan daging ayam juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Cabai yang mulanya dijual dengan harga yang lumayan terjangkau ikut mengalami lonjakan karena pasokan berkurang bersamaan dengan faktor cuaca yang tidak menentu. Apalagi kota Yogyakarta akhir-akhir ini selalu diguyur hujan deras disertai badai dan angin kencang.
Faktor cuaca ini menjadi sebab turunnya hasil jumlah panen cabai. Kondisi ini memengaruhi distribusi dan ketersediaan stok di pasar, sehingga harga pasar menjadi lebih tinggi dari biasanya.
Para pedagang maupun ibu rumah tangga mengatakan bahwa fenomena kenaikan harga menjelang Ramadhan bukanlah hal baru. Pada bulan Ramadan, permintaan masyarakat cenderung meningkat karena kebutuhan untuk sahur dan berbuka puasa bertambah. Banyak pula keluarga yang sudah jauh-jauh hari mulai menyetok bahan makanan lebih awal sebagai persiapan menghadapi bulan puasa.
Kebiasaan ini tentunya membuat permintaan melonjak dalam waktu singkat tanpa belum siapnya pasokan kebutuhan beradaptasi dengan kenaikan permintaan. Akibatnya hukum ekonomi pasar berlaku: ketika permintaan naik dan pasokan terbatas, harga ikut meningkat. Di sisi lain, masyarakat merasakan dampak kenaikan harga terhadap pengeluarah rumah tangga.
Mereka mengaku harus lebih selektif dan ekonomis dalam berbelanja dan menyesuaikan prioritas kebutuhan. Jika sebelumnya mereka terbiasa membeli bahan makanan dalam jumlah besar untuk beberapa hari, kini mereka memilih membeli secukupnya supaya anggaran tetap terkendali. Strateg ini cukup efektif untuk menghindari pemborosan keuangan keluarga selama bulan Ramadhan diiringi pengeluaran yang lainnya.
Pengamat ekonomi lokal menilai bahwa kenaikan harga menjelang Ramadan merupakan fenomena musiman yang dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran. Saat permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga akan naik secara alami.
Untuk meredam kekhawatiran masyarakat terhadap harga pangan yang terus meningkat secara bertahap, beliau menekankan betapa pentingnya kelancaran proses distribusi pasar dan ketersediaan stok dari daerah produksi agar harga lonjakan tidak terlalu tinggi. Masyarakat harus bisa lebih bijak dalam berbelanja, sesuai dengan kebutuhan untuk menghindari panic buying karena dapat memperburuk kondisi pasar.
“Ramadan begini apa-apa memang naik, belum lagi musim hujan dan badai. (Stok) panen bisa lebih sedikit dari biasanya,” ungkap salah satu penjual takjil di salah satu kawasan Kampung Ramadan Jogokariyan.
Ia juga menambahkan harga bahan baku seperti gula, santan, dan tepung yang naik turut memengaruhi harga penjualan takjil. Penjual harus bisa mengatur strategi supaya harga yang dijual tidak terlalu mahal bagi masyarakat.
“Kalau harga takjilnya mahal, nanti pembelinya malah berkurang. Jadi kami akali dengan mengecilkan porsi sedikit,” katanya.
Meski harus dihadapkan oleh kenaikan harga, suasana menyambut Ramadan di Yogyakarta tetap terasa semarak dan mengesankan. Aktivitas pasar tradisional dan kampung Ramadhan yang berkolaborasi untuk saling memenuhi kebutuhan pangan. Masyarakat berharap kondisi ini tetap membawa berkah penjualan meski skala keuntungan tidak selalu besar dan memuaskan. Mereka optimis bahwa daya beli masyarakat akan tetap terjaga karena Ramadan merupakan momen penting bagi mayoritas masyarakat.
Dengan perencanaan dan strategi keuangan yang matang dan pola konsumsi yang lebih bijak, masyarakat diharapkan tetap dapat menjalani ibadah Ramadhan dengan tenang tanpa tekanan yang berarti dari sisi ekonomi.
Kenaikan harga pokok tetap menjadi tantangan nyata yang tetap berlangsung setiap tahun. Situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya stabilitas distribusi pangan, pengelolaaan stok yang tetap tersedia, dan kesadaran masyarakat berbelanja secara wajar agar tidak memperperah lonjakan harga. Dengan keseimbangan antara kesadaran konsumen, kesiapan pedagang dan kelanjaran pasokan, diharapkan tekanan ekonomi pada saat menjelang Ramadan dapat diminimalisir.
Reporter Ayudia Zahra | Editor Linda Setiyani