Kalijaga.co – Coba kalian perhatikan lingkungan sekitar. Sampah plastik yang menumpuk di mana-mana, udara perkotaan yang menyesakkan, kualitas air yang tercemar dan suhu bumi yang semakin meningkat sampai kulit terasa seperti terbakar. Persoalan ini selalu menjadi masalah yang patut disorot karena situasinya kian hari kian memburuk, yakni tentang persoalan lingkungan.
Persoalan lingkungan menjadi salah satu faktor yang sangat memilukan di Indonesia. Kita tidak lagi menyaksikan alam yang nyaman dan tenteram. Justru yang sering kita dengar akhir-akhir ini adalah bencana alam yang marak terjadi. Air meluap, banjir bandang hingga menghanyutkan begitu banyak gelondong kayu, sampai tercemarnya lingkungan akibat sampah yang menumpuk. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) per Maret 2025, Indonesia menghasilkan sekitar 56,63 juta ton sampah per tahun. Menurut jumlah tersebut, hanya sekitar 39,01% (22,09 juta ton) yang berhasil dikelola dengan baik, sementara sisanya masih menjadi tantangan serius. Tak hanya itu, berdasarkan riset dari salah satu dosen sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A., melalui penelitian beliau menyatakan bahwa terdapat 462 kasus lingkungan selama kurun waktu 74 tahun dari tahun 1950 hingga 2024.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa peningkatan jumlah penduduk berbanding lurus dengan peningkatan volume sampah dan kebutuhan lahan. Alhasil lahan perhutanan dialihfungsikan menjadi kawasan industri atau pemukiman yang akan terus berlanjut. Di berbagai wilayah, dampak meningkatnya volume sampah dan kerusakan terjadi dimana-mana. Contohnya yaitu tercemarnya Sungai Ciliwung akibat sampah yang bertumpuk di kawasan pesisir, sampah plastik mengganggu ekosistem laut dan mengancam keberlangsungan hidup biota laut serta sulitnya para nelayan mendapatkan hasil tangkapan. Sementara di perkotaan, peningkatan jumlah kendaraan bermotor dan aktivitas industri turut menurunkan kualitas udara yang dihirup setiap hari.
Pada situasi ini, para ahli dan pengamat lingkungan menekankan bahwa perubahan tidak dapat hanya bergantung kepada pemerintah. Kesadaran dari setiap individu juga menjadi faktor yang sangat penting dalam melestarikan dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Tak harus melakukan hal yang besar untuk dapat memperbaiki lingkungan. Berikut 7 tips sederhana yang dapat kita lakukan untuk tetap bisa menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
1. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai
Plastik merupakan sampah yang sangat sulit dan lama terurai. Kebiasaan ini dapat kita mulai dari hal kecil seperti membawa tas belanja sendiri ketika berbelnja, membawa botol minum isi ulang atau milik pribadi seperti tumbler, dan belajar menghindari penggunaan sedotan plastik. Pada lingkungan kampus, mahasiswa bisa membiasakan diri dengan membawa wadah makan sendiri ketika membeli makanan. Jika dilakukan secara konsisten, kebisaan ini cukup efektif untuk menekan jumlah penghasilan sampah plastik yang sulit terurai dan sering mencemari lingkungan.
2. Membiasakan memilah sampah sejak awal
Sampah sebaiknya tidak langsung dicampur dalam satu tempat. Pemisahan antara sampah organik (seperti sisa makanan dan daun-daunan) dan anorganik (seperti plastik, kaca, dan kaleng) sangatlah penting. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk sederhana untuk tanaman, sementara sampah anorganik di daur ulang dan dikumpulkan lewat bank sampah. Kebiasaan ini dapat mengurangi beban pembuangan akhir.
3. Menghemat penggunaan air dalam aktivitas sehari-hari
Tanpa disadari, kita sering menggunakan air secara berlebihan (israf). Contohnya seperti membiarkan air kran mengalir ketika wadah sudah terisi penuh. Padahal air bersih merupakan sumber daya yang terbatas. Banyak sekali daerah atau negara yang mengalami kekurangan air bersih. Hal ini memberikan kesadaran bagi kita untuk menggunakan air bersih secara bijak.
4. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi
Polusi udara di perkotaan sebagian besar berasal dari kendaraan bermotor. Untuk itu, penggunaan transportasi umum, berjalan kaki untuk jarak dekat, atau bersepeda dapat menjadi alternatif yang jauh lebih ramah lingkungan. Apalagi jika jarak yang ditempuh cukup dekat Selain mengurangi emisi karbon, kebiasaan ini juga berdampak positif bagi kesehatan tubuh, bukan?
5. Menanam dan merawat tanaman di lingkungan sekitar
Tanaman juga menjadi penyumbang oksigen di lingkungan. Dengan melakukan penghijauan, meskipun tidak banyak namun menjadi langkah sederhana untuk membantu menjaga kualitas udara di sekitar. Tak hanya itu, lingkungan menjadi rindang, asri dan nyaman untuk dilihat.
6. Menggunakan energi listrik secara bijak
Banyak aktivitas yang tanpa sadar menyebabkan pemborosan listrik, seperti menyalakan lampu di siang hari atau menggunakan alat elektronik secara berlebihan. Adapun yang dapat dilakukan seperti mematikan alat elektronik jika tidak digunakan, menggunakan lampu yang hemat energi, serta memaksimalkan cahaya alami di siang hari.
7. Meningkatkan kesadaran diri dan mengajak orang di sekitar untuk peduli lingkungan
Perubahan tidak akan terjadi kalau hanya mengandalkan aksi individu. Kita bisa melihat contoh seperti banyaknya edukasi dan sosialisasi untuk menjaga lingkungan. Jika semua orang tahu bagaimana cara menjaga lingkungan, maka dunia akan semakin baik-baik saja.
Menjaga lingkungan pada dasarnya bukan menjadi pilihan gaya hidup, melainkan menjadi kebutuhan dan tanggung jawab bersama. Alam tidak akan murka jika manusia tidak berulah dan memperkeruh lingkungan. Perubahan pun tidak memerlukan usaha mati-matian, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Semoga edukasi terkait lingkungan dan tips sederhana menjaga lingkungan ini dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap alam dan lingkungan lekas pulih seperti sedia kala.
Penulis: Ayudia Zahra Amalia | Editor: Zahrah Suci Aliyah