crossorigin="anonymous">

DI BALIK GANG SEMPIT KAUMAN: KISAH KICAK DAN TRADISI TAKJIL YANG TAK TERGERUS ZAMAN

Kalijaga.co – Setiap kali hilal Ramadan tampak, denyut nadi di kawasan Kampung Kauman, Yogyakarta, berubah seketika. Gang sempit yang biasanya tenang itu mendadak bertransformasi menjadi koridor kuliner sepanjang ratusan meter. Fenomena “Pasar Sore Ramadan” ini bukan sekadar pusat transaksi, melainkan sebuah ritual tahunan yang telah mendarah daging bagi masyarakat Jogja.

​Asap tipis dari panggangan ayam dan aroma wangi daun pisang yang dikukus menyapa setiap pengunjung yang masuk. Di antara deretan meja kayu yang berjejer rapat, satu kudapan selalu menjadi primadona yang paling diburu: Kicak.

​Kudapan yang terbuat dari ketan ditumbuk halus, dicampur parutan kelapa muda, potongan nangka, dan disiram santan kental ini adalah identitas kuliner Ramadan di wilayah ini. Uniknya, Kicak secara tradisional hanya diproduksi dan dijual secara masif selama bulan suci, menjadikannya barang mewah yang dinanti selama sebelas bulan lamanya.

​Namun, daya tarik takjil di Jogja tidak berhenti di Kauman. Bergeser sedikit ke arah utara, kawasan Lembah UGM serta Taman Kuliner UNY menawarkan atmosfer yang berbeda. Jika Kauman kental dengan nuansa tradisional dan sejarah, Lembah UGM dan Taman Kuliner UNY menjadi representasi keberagaman kuliner modern. Di sini, ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru nusantara berkumpul, menciptakan asimilasi menu dari berbagai daerah, mulai dari pempek Palembang, mendoan hangat, hingga minuman kekinian yang sedang tren.

​Fenomena perburuan takjil di Yogyakarta setiap sorenya juga mencerminkan stabilitas ekonomi mikro yang luar biasa. Ratusan pedagang dadakan bermunculan, mulai dari ibu rumah tangga hingga mahasiswa yang mencoba peruntungan bisnis. Hubungan antara penjual dan pembeli di sini melampaui sekadar jual-beli; ada tegur sapa khas Jawa dan kesabaran dalam antrean panjang yang menjadi pemandangan rutin menjelang azan Magrib.

​Meski zaman terus berganti dan aplikasi pesan antar makanan semakin marak, antusiasme warga untuk datang langsung ke pasar takjil tidak pernah surut. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil mendapatkan porsi terakhir Kicak yang legendaris atau sekadar merasakan desak-desakan di tengah hiruk pikuk ngabuburit.

​Pada akhirnya, pasar takjil di Jogja adalah simbol kemenangan tradisi. Ia membuktikan bahwa di tengah gempuran modernitas, rasa autentik dan kehangatan interaksi sosial di bulan Ramadan tetap memiliki tempat spesial di hati masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *