Kalijaga.co – Rumah Seni dan Budaya Feminis qBukatabu mengadakan Festival Titik Simpang dengan tema “Kampung Katresnan”. Festival ini diselenggarakan mulai 31 Maret hingga 2 April 2023 di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta.
Direktur Eksekutif qBukatabu Vika Larasati mengatakan, titik simpang dalam bahasa inggris disebut intersection point. Sehingga di persimpangan itu semua bertemu.
“Lewat Festival Titik Simpang ini, semua orang dengan latar belakang identitas dan latar belakang kebudayaan itu bisa berkumpul jadi satu,” katanya kepada kalijaga.co, Minggu (2/3/2023).
Festival titik simpang, lanjut Vika, merupakan sebuah pentas seni dan budaya sebagai perayaan Hari Perempuan Internasional 8 Maret dan Hari Seni Nasional 14 April nanti. Selain itu, festival ini juga sebagai bentuk syukur atas enam tahun terbentuknya qbukatabu: Rumah Seni dan Budaya Feminis.
Ada berbagai lini kegiatan yang diadakan, mulai dari diskusi, workshop, bazar yang disebut pasar katresnan, panggung seni dan budaya, tausiyah, hingga pertunjukan wayang dengan penampil yang seluruhnya perempuan.
“Saat ini ada dua titik, ada pameran seni dan pasar buku dimana kita berjualan beberapa buku yang berkolaborasi dengan Patjar Merah, juga ada beberapa merchandise. Selain itu kita juga berkolaborasi dengan teman-teman Biung, mereka berjualan pembalut kain,” tambahnya.
Antusiasme masyarakat terhadap festival titik simpang cukup meningkat. Beberapa kegiatan dilakukan secara hybrid, seperti workshop dan diskusi. Hal ini dilakukan agar menjangkau lebih luas lagi pada masyarakat yang tertarik pada tema yang disajikan.
“Kalau dari animo temen-temen yang ikut, sih, tertarik sama tema. Tema-tema tentang feminisme isu quer. Jadi, justru memang ini waktu temen-temen yang memang sudah punya minat di isu ini. Kaya dapet ruang yang lebih banyak diskusi yang lebih dalam,” ujar Yulia Dwi Andrianti, pegiat seni yang akrab disapa Edith.
Menurut Edith sendiri, festival titik simpang berbicara tentang kampung katresnan yang berarti kampung cinta kasih. Cinta kasih yang dimaksud adalah orang yang beragam dapat belajar saling memahami, mencintai, mengerti, dan mengenal satu sama lain.
Selaras dengan tema, pengunjung yang hadir pun lebih banyak dari kawula muda. Sedangkan, pegiat seni seperti Rianto yang penari Lengger Lanang, Reda Gaudiamo sebagai seniman perempuan, Band Nada Bicara, hingga ilustrator @gambarnana pun turut hadir.
“Harapannya lebih bisa menjangkau lagi kayak teman-teman di kampus, karena dalam festival ini kami berhasil untuk mengudang orang-orang yang punya influence. Membangun ruang ngobrol, ruang cerita, selanjutnya kita bakal ketemu tempat, menyesuaikan pelaksanaannya sesuai dengan konteks lokal,” pungkas Edith.
Salah satu pengunjung Retno Dwi Lestari Ningsih mengaku terkesan. Mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu menyebut karya-karya di dalamnya cukup sederhana, namun penuh makna.
“Ini kayaknya pertama kali di Solo pameran tentang feminisme.Juga jadi pengen tahu tentang feminisme,” ungkap Retno.
Dia terlihat antusias melihat pameran yang berada di festival titik simpang ini.
“Aku bergerak di bidang fotografi, jadi pengen tahu tentang feminisme dan juga pengen membahas tetang feminisme. Jadi, dapat referensi banyak dari sini. Harapannya, semoga lebih bagus lagi, lebih ramai, dan semoga ada part duanya di solo,” pungkasnya. (pgmi)
Reporter: Imma Fitriani | Editor: Aida Husna R
- Hari Perempuan Internasional: Mencari Titik Simpang - 6 April 2023