Dilematis menjadi Mahasiswa Jurusan Jurnalistik di Era Media Sosial

Saat memilih jurusan, saya memiliki keyakinan bahwa jurusan komunikasi (penjurusan jurnalistik) punya masa depan yang cukup epik. Bahkan hampir di seluruh seleksi jurusan, komunikasi menjadi top tier teratas dengan peminat terbanyak menyamai jurusan manajemen dan ilmu hukum. Apalagi di era gempuran media sosial menjadikan jurusan komunikasi di gadang-gadang tetap akan relevan hingga akhir zaman, dan informasi itu aku dapatkan dari influencer di media sosial ketika membahas jurusan ini.

Nyatanya masuk program studi komunikasi di jurusan jurnalistik, tidak menjamin masa depan yang cerah. Saya selalu dibayang-bayangi tentang bagaimana prospek pekerjaan saya ke depan seperti apa? ketika sudah terjerumus di jurusan ini. Nyatanya jurusan ini memang mudah, setiap hari kerjaannya cuma nulis berita dan artikel minimal 5 sampai 10 tulisan (tergantung masing-masing media), tapi bagi saya yang baru masuk dunia kepenulisan itu cukup berat, satu tulisan saja saya kerjakan satu minggu, bagaimana ketika masuk dunia kerja?

Ditambah lagi dunia ini itu sangat menjunjung tinggi ideologi kapitalis. Orang-orang pemilik perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, tetapi orang-orang yang dipekerjakan bagaimanapun tinggi rendahnya keuntungan perusahaan tersebut, tetap akan digaji sama sesuai upah minimum daerah tersebut. 

Orang-orang lebih suka scrolling media sosial dibanding baca tulisan di website

Fenomena scroll media sosial juga jadi bayang-bayang anak-anak jurnalistik. Menurut artikel Good Stats (Februari 2025), Indonesia menjadi salah satu negara dengan penggunaan media sosial terbesar di dunia, pengguna sosial media di Indonesia mencapai 143 juta individu atau sebesar 50,2% dari total populasi. Selain itu rata-rata waktu penggunaan media sosial mencapai 7 jam 22 menit per hari.

Hal di atas menjadi dilema bagi kami mahasiswa jurnalistik, antara mau jadi konten kreator atau menjadi jurnalis lapangan? jika dibandingkan, seperti bumi dan langit perbedaannya. Dari segi pengerjaan, konten kreator dirasa lebih mudah bagi orang-orang umum. Selain itu, antara gaji konten kreator dan jurnalis lapangan jika dibandingkan sangat memprihatinkan. konten kreator bisa mendapat gaji beberapa kali lipat dari jurnalis dengan hanya satu konten, sedangkan jurnalis satu hari 10 tulisan di gaji upah minimum daerah. Seorang konten kreator juga lebih mudah untuk dikenal oleh khalayak umum, dan mudah diperbincangkan ketimbang jurnalis yang sering di copy paste tulisannya.

Gempuran TikTok sebagai Jalur Informasi

Agak aneh rasanya ketika dulu memandang TikTok sebagai tempat orang-orang berjoget-joget ria, dan menampilkan keelokan fisiknya. Tapi hari ini TikTok menurut teman saya, sebut saja Dhafin dari Bekasi yang juga sama-sama berkuliah di Komunikasi. Memandang TikTok bisa menjadi tempat mencari informasi yang paling nyaman saat ini. Menurut dia banyak hal-hal yang ia dapati di TikTok tidak dapat ditemukan di media lain, di TikTok selain bisa mencari hal-hal yang merusak otak (katakanlah), kita juga bisa mendapatkan informasi trend fashion terkini ala anak-anak skena ibukota, dan ala oppa-oppa korea. Loh kan di media lain juga bisa? iya sih bisa juga, tapi kalau di TikTok lebih intuitif menurutnya, di TikTok kita bisa melihat konten kreator secara langsung memakai pakaiannya secara real life, dibandingkan dengan e-commerce yang hanya bisa menampilkan model-model good looking dan proporsional badannya. Lihat di review apalagi, kebanyakan orang hanya menampilkan isi paketnya yang sudah sampai, dan itupun kualitas foto atau videonya sangat seadanya. 

Hal lainnya kenapa TikTok jadi alternatif nyari info yaitu nyari referensi tempat wisata, dan cafe lebih gampang. Kenapa ga langsung di Google Maps atau artikel aja? ya simple sih, orang-orang hari ini itu lebih suka scroll-scroll ketimbang nyari di google maps atau baca artikel, buat nyari mana tempat yang  recomended untuk nongkrong. Selain itu di TikTok lebih jelas reviewnya, ga manipulatif, ketimbang di google maps. Saya pernah mengalami, ada tempat makan di Jogja yang cukup murah dan banyak review bintang lima, pas saya kesana ternyata ada salah satu menu yang digratiskan kalau kita kasih rating bintang lima. Jadi, belum tentu tempat makan yang banyak bintang lima itu sesuai dengan ulasannya. 

Kelebihan-kelebihan tadi sebenarnya juga bisa ditemukan di Instagram, tapi ada satu hal yang Instagram ga punya dari TikTok, yaitu fitur search yang ada di Instagram hanya bisa buat nyari akun dan tagar, tidak bisa mencari sebuah konten-konten spesifik.

Tidak harus masuk jurusan jurnalistik jika ingin jadi jurnalis

Banyak di antara jurnalis yang masuk di perusahaan media, mereka bukanlah lulusan dari jurusan ini. Karena memang jurusan ini tidak mewajibkan kualifikasi jurusan jurnalis untuk bisa bekerja di perusahaan media. Hal inilah yang menjadikan jurusan jurnalistik, tidak seistimewa kedokteran, teknik, atau ekonomi, yang mewajibkan mereka memiliki jurusan yang linear untuk mendapatkan pekerjaan sesuai profesinya.

Ditambah lagi, banyak fenomena perusahaan media yang kolaps atau gulung tikar, karena tidak mampu bertahan di era media sosial hari ini. Dan pada akhirnya, apapun pekerjaan itu ke depan, ilmu-ilmu perkuliahan tetap akan bermanfaat, entah itu bagi orang di sekitar kita ataupun diri kita sendiri. Karena perkuliahan jurnalistik bukanlah jurusan yang menawarkan pekerjaan yang mapan, tetapi ia menawarkan cara pandang, kepekaan sosial, dan uraian kata-kata yang tak lekang oleh masa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *