Pada diamku yang sunyi
Ada suatu hari yang ku sebut itu letih
Kala peluk hangat ibu jauh
Ada bisik angin menemani jiwa yang runtuh
Sejenak aku terduduk
Memetik napas dari peraduan senja dan malam
Ku basuh lukaku dengan sujud
Nan do’a terindah yang ku rangkai untuk Tuhan
Dalam ramainya dunia yang memeluk
Rupanya ada hatiku yang menangis terguguh
Membasahi tiap jengkal atma yang merindu
Sembari berbisik teduh “Bukankah aku berharga,
maka dari itulah aku ada? “
Rupanya tak perlu terburu-buru
Sebab hati pun butuh akan kata istirahat
Bahkan mentari juga tenggelam dengan sabar
Dan kala bising mulai disapa oleh hening
Disitulah semesta memelukku dengan diamnya yang syahdu
Ku luruhkan letihku dalam peluk semesta
Membiarkan waktu memijat dadak yang sesak
Pada jiwaku aku meminta
Mengemis maaf, memintanya sabar, dan memeluknya hangat
Karena kini aku tahu
Bahwa pulih tidak harus kembali seperti dulu
Tapi menerima hal baru
Yang lebih damai
Yang lebih aku
Penuilis Qisthiyatun Nafi’ah
- Tren Takjil Viral Ramadan: Media Sosial Pengaruhi Pilihan, Kesehatan Tetap Prioritas - 27 Februari 2026
- Ketika Imajinasi Keluar dari Miniaturnya: Catatan Rindu untuk Diri di Masa Kecil - 16 Februari 2026
- Pendidikan Tinggi Belum Mampu Sepenuhnya Mengubah Cara Pandang Masyarakat terhadap Perempuan - 22 Oktober 2025