crossorigin="anonymous">

Dapur Warga Menghidupkan Ramadan di Masjid Pangeran Diponegoro

Kalijaga.co – Ramadan selalu menghadirkan berbagai cerita tentang solidaritas sosial di tengah masyarakat. Dari kota hingga desa, dari individu hingga lembaga, bulan suci ini menjadi ruang bertemunya berbagai bentuk kebaikan.

Salah satu kisah menarik muncul dari Masjid Pangeran Diponegoro yang berada di kompleks Balai Kota Yogyakarta. Di masjid ini, tradisi berbuka puasa bersama tidak hanya menjadi kegiatan rutin Ramadan, tetapi berkembang menjadi gerakan kolektif yang melibatkan masyarakat sekitar secara langsung.

Setiap menjelang waktu magrib, ratusan jemaah mulai berdatangan ke Masjid Pangeran Diponegoro. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pegawai kantor pemerintahan, pekerja sekitar, mahasiswa perantau, hingga warga yang kebetulan melintas di kawasan pusat kota.

Namun, yang membuat suasana berbuka puasa di masjid ini berbeda adalah keberagaman menu yang tersaji setiap harinya. Panitia menghadirkan sekitar dua puluh jenis makanan yang berbeda setiap hari, sehingga jemaah tidak pernah menemukan hidangan yang sama dalam dua hari berturut-turut.

Keunikan tersebut tidak lahir dari dapur besar milik masjid, melainkan dari dapur-dapur warga sekitar. Masyarakat dilibatkan secara langsung untuk menyediakan makanan berbuka puasa, mulai dari makanan ringan hingga hidangan utama. Dengan cara ini, kegiatan berbuka puasa tidak hanya menjadi ajang berbagi makanan, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.

Masjid Pangeran Diponegoro sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang. Awalnya, masjid ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan ibadah para aparatur sipil negara yang bekerja di lingkungan Balai Kota Yogyakarta.

Namun, setelah gempa besar yang mengguncang Yogyakarta pada tahun 2006, masjid ini kemudian dibuka untuk masyarakat umum. Sejak saat itulah kegiatan berbuka puasa gratis mulai diselenggarakan secara lebih luas dan melibatkan berbagai pihak.

Menurut Kengy Gilang Ramadhan, salah satu takmir masjid yang juga terlibat langsung dalam penyelenggaraan program berbuka puasa gratis, kegiatan ini pertama kali dimulai pada tahun 2006 dengan jumlah porsi yang masih terbatas.

“Awalnya hanya sekitar 70 sampai 100 porsi saja. Tapi seiring waktu, jumlah jemaah yang datang semakin banyak. Sekarang setiap hari bisa mencapai 700 sampai 1000 porsi,” ujarnya.

Peningkatan jumlah porsi tersebut tidak terlepas dari kolaborasi antara masyarakat, lembaga zakat, serta relawan yang terlibat dalam penyelenggaraannya.

Pendanaan program berbuka puasa di masjid ini berasal dari berbagai sumber, salah satunya melalui program Z Ifthar yang dijalankan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Melalui program tersebut, sejumlah takjil dibeli dari pelaku usaha kecil dan menengah di sekitar masjid.

Skema ini membuat kegiatan berbuka puasa memiliki dampak yang lebih luas. Selain membantu jemaah yang membutuhkan makanan berbuka, program ini juga mendorong perputaran ekonomi masyarakat sekitar, khususnya para pedagang kecil yang menyediakan makanan.

Saputra Wibowo, koordinator relawan panitia, menjelaskan bahwa takjil yang disediakan setiap hari sebagian besar berasal dari pedagang lokal yang bekerja sama dengan BAZNAS.

“Kalau takjilnya masih tersisa, itu tetap menjadi hak pedagang yang menyediakan makanan. Karena takjil tersebut memang sudah dibeli sebelumnya melalui program dari BAZNAS. Jadi mau habis atau tidak, pedagang tetap mendapatkan bayaran,” jelasnya.

Untuk menjaga distribusi makanan tetap tertib, panitia menggunakan sistem kupon sebagai mekanisme pengambilan takjil. Setiap jemaah yang hadir akan mendapatkan kupon yang nantinya ditukarkan dengan paket berbuka puasa.

Sistem ini tidak hanya membantu panitia dalam mengatur jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga mencegah adanya pengambilan takjil lebih dari satu kali oleh orang yang sama.

Saputra menambahkan bahwa sekitar 700 kupon disiapkan setiap hari dan dibagikan kepada jemaah setelah salat Asar.

“Kupon itu sudah dibeli oleh BAZNAS, jadi relawan hanya mengatur pembagiannya saja. Dengan sistem ini, pembagian takjil jadi lebih tertib,” katanya.

Selain menjaga ketertiban distribusi makanan, penggunaan kupon juga secara tidak langsung mendorong jemaah untuk tetap berada di masjid hingga waktu berbuka dan mengikuti salat Magrib berjemaah. Dengan demikian, kegiatan berbuka puasa tidak hanya berhenti pada pembagian makanan, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas ibadah bersama.

Bagi sebagian jemaah, keberadaan program berbuka puasa gratis ini juga memberikan manfaat yang sangat nyata. Zumrotun, seorang mahasiswa perantau asal Jawa Timur yang sering berbuka di masjid tersebut, mengaku merasa terbantu dengan adanya program ini.

“Menurut saya sangat membantu, terutama buat mahasiswa perantau. Selain bisa menghemat uang saku, kita juga tidak perlu bingung mencari makanan untuk berbuka. Tinggal datang ke masjid, sudah disediakan,” ujarnya sambil tersenyum.

Meskipun harus melayani ratusan hingga ribuan jemaah setiap hari, panitia mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Tantangan terbesar justru pernah terjadi pada pengelolaan sumber daya manusia, terutama pada tahun-tahun sebelumnya ketika jumlah relawan masih terbatas.

Pada masa itu, sekitar 40 hingga 60 panitia harus mengelola kegiatan berbuka puasa untuk lebih dari 500 jemaah setiap hari. Namun, seiring meningkatnya partisipasi masyarakat, jumlah relawan kini bertambah hingga hampir 100 orang.

Dengan jumlah relawan yang lebih banyak, berbagai aspek penyelenggaraan kegiatan mulai dari pengaturan pembagian makanan, pengelolaan parkir, hingga kebersihan area masjid dapat ditangani dengan lebih baik.

Di balik kesederhanaannya, tradisi berbuka puasa di Masjid Pangeran Diponegoro menunjukkan bahwa kegiatan berbagi makanan dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih besar. Kolaborasi antara masyarakat, lembaga zakat, relawan, dan pengelola masjid menjadikan program ini tidak hanya sebagai kegiatan berbagi takjil, tetapi juga sebagai bentuk solidaritas sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Setiap porsi makanan yang tersaji menjelang Magrib tidak hanya sekadar hidangan untuk berbuka, tetapi juga menjadi simbol dari gotong royong yang terus dirawat dari tahun ke tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *