crossorigin="anonymous">

Cara Unik Panitia Masjid Pangeran Diponegoro Mengelolah Pembagian Takjil Gratis

Kalijaga.co – Ramadan selalu menyimpan cerita menarik dari setiap lapisan masyarakat. Mulai dari masyarakat desa hingga masyarakat kota, mulai dari masyarakat sipil hingga orang-orang yang duduk di pemerintahan. Salah satu yang coba diulik tim penulis adalah  bagaimana pembagian takjil gratis yang diselenggarakan oleh Masjid Pangeran Diponegoro Balaikota. Masjid yang awal berdirinya hanya diperuntukkan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)  di dalam kantor pemerintahan Kota Yogyakarta  yang lalu dibuka untuk umum pascatragedi gempa Yogyakarta 2006  .

Pembagian takjil gratis sepertinya sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita, dimana bagi orang-orang yang berkecukupan rezeki menjadi ruang dalam menyalurkan niat baik dan tambang pahala, disatu sisi sering kali pembagian takjil gratis juga menjadi penolong bagi lapisan masyarakat yang kurang dalam rezeki salah satunya adalah mahasiswa. 

Hal ini juga selaras dengan apa yang disampaikan oleh salah satu jamaah Masjid Pangeran Diponegoro Balaikota, Zumrotun – mahasiswa rantau asal Jawa Timur. 

“Sangat membantu, karena selain menghemat uang saku, dengan adanya takjil gratis ini saya jadi tidak perlu memikirkan untuk makan apa nantinya, tinggal terima aja. Alhamdulillah.”

Kengy Gilang Ramdhan, salah satu takmir Masjid Diponegoro bagian pendidikan sekaligus panitia pembagian takjil gratis bagian bendahara, yang terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan takjil dan buka gratis, menceritakan bagaimana awal mula buka gratis terselenggara. Tahun 2006 menjadi tahun pertama dalam penyelenggaraan ini, program ini sudah bertahan lebih dari dua dekade. Di Awal penyelenggaraan ini masih hanya sebatas 70-100 porsi, namun saat ini porsi takjil yang dibagikan sudah mencapai 700 sampai 1000 porsi.

Dalam wawancara tersebut Kengy menyebutkan bahwa pendanaan berasal dari hasil kolaborasi masyarakat dengan pemerintah, dimana masyarakat turut membantu menyumbangkan hasil masakan rumahan yang akan dibagikan kepada jamaah, sedangkan pemerintah lewat lembaga BASNAZ melalui program Z ifthar membeli sejumlah takjil dari UMKM sekitar untuk mendongkrak perekonomian masyarakat. 

Hal itu juga disampaikan oleh Saputra Wibowo selaku koordinator relawan panitia.

“Jika takjilnya nyisa maka itu terserah pedagang yang menyediakan takjilnya, karena kan takjilnya itu sudah dibeli oleh BAZNAS, jadi habis ga habis uangnya tetap diberikan. Jadi, kupon itu sebagai tanda bahwa takjil itu sudah diambil kemudian diberikan ke bendahara masjid untuk modal takjil besoknya,” ujarnya.

Selain dari pengelolaannya hal yang cukup unik untuk dilihat adalah bagaimana metode yang digunakan oleh para relawan dan panitia dalam membagikan takjil tersebut. Di mana penggunaan kupon sebagai mekanisme tukar dengan takjil menjadi pilihan, hal ini disampaikan oleh Saputra setelah jamaah salat ashar di masjid mulai bubar.

“Yang menghitung uang masuk dan keluar itu sudah diatur oleh takmir masjid, sistem pembagian takjilnya menggunakan kupon, dan 700 kupon itu sudah dibeli oleh BAZNAS, jadi relawan cuman mengaturnya saja.”

Selain untuk memitigasi pengambilan takjil dua kali, hal ini diupayakan juga untuk mengarahkan jamaah tetap mengikuti salat maghrib berjamaah.

Saat ditanya terkait dengan kendala dalam proses penyelenggaran pembagian takjil, Kengy menyebutkan tidak ada kendala yang signifikan, baik dari pengelolaan sampah sampai ke pengelolaan parkir. Bagi teman-teman relawan dan panitia semua sudah terkendali, mungkin terdapat dalam pengelolaan SDM itupun di tahun-tahun sebelumnya, di mana panitia berkisar 40-60 orang harus menghandle 500-700 jamaah yang hadir, namun untuk ditahun ini relawan dan panitia yang terdaftar mencapai kurang lebih 100 orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *