Beli album untuk photocard, menabung demi lightstick, mencicil merchandise, begadang demi menonton live idol favorit, hingga mempersiapkan diri untuk konser. Kedengarannya berlebihan? Namun bagi Gen Z, ini sudah menjadi gaya hidup mereka.
Fenomena fandom k-pop di kalangan Gen Z bukan lagi sekadar tren. Di era media sosial saat ini, menjadi penggemar bukan hanya soal suka atau tidak, melainkan sudah menyatu dalam kehidupan sehari-hari, dari cara berpakaian, berbicara, hingga cara seseorang memahami dirinya sendiri.
Awalnya, istilah ‘stan’ menggabungkan kata ‘stalker’ dan ‘fan’, dan memiliki Kesan agak negatif. Namun kini, justru menjadi identitas yaitu penggemar yang sangat loyal dan aktif di media sosial, bahkan memahami seluk beluk idolanya. Mereka tidak hanya menjadi penontnon, tetapi juga pembuat konten, penyebar informasi, hingga penggerak komunitas. Budaya stan dalam dunia k-pop menciptakan berbagai bentuk partisipasi aktif, seperti streaming Music Video (MV) demi menaikkan jumlah viewers, voting award, mengiktui acara virtual, hingga mengorganisasi projek sosial bersama komunitas fandom.
Bagi sebagian besar Gen Z, fandom telah menjadi bagian dari gaya hidup. Banyak yang mengikuti gaya idol mulai dari cara berpakaian, berdandan, hingga menggunakan produk skincare tertentu. Istilah seperti ‘bias’, ‘selca’, ‘comeback’, hingga kalimat candaan seperti “saya pensiun, tapi besok stan lagi’ sudah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari antar sesama penggemar. Aktivitas seperti mengikuti fancall, aktif di aplikasi Weverse, hingga streaming di Tengah malam telah menjadi rutinitas yang dianggap wajar.
sebagian orang mungkin meremehkan dunia fandom. Padahal, beberapa komuntas besar seperti ARMY (penggemar BTS) pernah menggalang dana hingga ratusan juta rupiah untuk korban tragedi kanjuruhan, hanya dalam hitungan jam (Tempo,2022). Tidak sedikit pula yang terlibat dalam isu-isu sosial, kampanye kesehatan mental, hingga mendukung UMKM lokal. Di balik Kesan remeh seperti meme dan fancam, ada jaringan solidaritas yang terkadang bergerak lebih cepat dari lembaga formal ataupun komunitas lainnya.
Lebih dari sekedar fanatisme, fandom menjadi ruang untuk memahami diri sendiri. Banyak gen Z memilih bias bukan hanya karena visualnya saja, tetapi juga karena merasa memiliki kesamaan sifat maupun kepribadian yang terkesan mirip.
Seperti kata salah satu fans ENHYPEN:
“Aku suka Park Jongseong karena kesabarannya setipis tisu, sama kayak aku yang gampang emosian ini”, “Aku juga biasin Sunghoon karena dia kelihatan kalem dan tenang, padahal aslinya receh kayak aku”.
Di tengah tekanan sosial dan kebutuhan validasi di media sosial, idol k-pop menjadi figur yang memotivasi. Kisah perjuangan mereka, dari trainee hingga debut, dari tidak dikenal hingga sukses, menginspirasi banyak penggemar untuk terus berkembang.
Namun, budaya fandom juga memiliki sisi yang tidak selalu positif, keinginan diakui sebagai ‘real stan’ bisa mendorong seseorang untuk terus membeli dan mengoleksi produk demi validasi. Standar kecantikan yang ditampilkan idol juga seringkali tidak realistis, karena sebagian mereka ada yang dibentuk oleh operasi plastik, diet ekstrem, dan tekanan industri/agensi. Tak jarang pula, fandom juga bisa terasa eksklusif, dimana sebagian penggemar baru kadang diremehkan, dianggap belum selevel, perbedaan bisa berujung konflik yang memecah komunitas, dan kadang malah jadi toxic dan penuh kompetisi.
Bagi banyak Gen Z, fandom menjadi rumah kedua mereka, tempat untuk pulang dan merasa dimengerti, sebuah ruang yang memberi kenyamanan di tengah hirup pikuk digital saat ini. terkagum oleh MV, tersenyum bahkan tertawa melihat unggahan idola, atau merasa terhubung melalui fancall bukanlah hal aneh. Fandom bukan sekedar hiburan, ia adalah ruang untuk mengekspresikan diri.
Gen Z dikenal sebagai generasi yang ekspresif dan kreatif, tumbuh di era digital yang penuh tantangan namun tetap menjadi ruang tumbuh yang berarti. Bagi banyak gen Z, k-pop tidak hanya sekedar hobi ataupun hiburan, tapi juga membentuk ulang minat dan cara pandang mereka. Beberapa dari mereka awalnya tidak tertarik pada musik, seni, ataupun dance, namun setelah menganal dunia k-pop perlahan semua itu menjadi bagian dari keseharian, bahkan membentuk sisi baru dalam diri mereka. Maka tak heran jika fandom hari ini bukan sekedar ruang pelarian, tapi juga tempat untuk tumbuh. Bagi banyak gen Z, ini bukan lagi soal idola, melainkan identitas digital yang kompleks. Maka yang terpenting adalah menjadi penggemar secukupnya, dan tetap mencintai diri sendiri.
“Mereka bukan cuma sekadar idola, tapi juga dorongan yang bikin aku mau terus berkembang”
Barangkali, bentuk fandom yang paling tulus bukanlah yang paling heboh ataupun paling tahu segalanya, melainkan yang membuat kita merasa tumbuh, nyaman, dan tetap menjadi diri sendiri.
Penulis Dian Kartika Sari
- Bukan Sekadar Ngefans: Fandom K-pop dan Pencarian Jati Diri Gen Z - 13 Juni 2025
- Rayakan Anniversary ke-14, Suka TV Perkuat Semangat Unity - 27 April 2025
- Apa Saja Kendala Mahasiswa Asing di UIN Sunan Kalijaga? - 18 Desember 2023