Fenomena ini saya jumpai ketika saya sedang asik scrolling media sosial, tepatnya pada platform tiktok pada beberapa akhir waktu lalu. Banyak saya jumpai akun yang melakukan live tiktok sambil membaca al-qur’an. Tak sampai situ, ia juga sesekali meminta penonton yang bergabung untuk tap-tap layar, Bahkan beberapa kali ia berhenti membaca al-qur’an untuk menyapa para penonton yang baru bergabung ke dalam sesi live nya tak lupa dengan menyisipkan kata ajakan juga diiringi doa, seperti:
“Waalaikumsalam, ayah bunda yang sudah bergabung, jangan lupa bunda ucapkan salam ketika masuk majelis qur’an, majelis ilmu, ya, semoga semakin dimudahkan lagi belajarnya, semakin berkah, amin.”
“Alhamdulillah bunda, sudah 10k ya, yang tap-tap layar, kami ucapkan terima kasih, semoga ini menjadi pahala ayah bunda, amin.”
Fenomena ini tak jarang lagi saya jumpai, bukan hanya sekali atau dua kali, hampir setiap saya membuka media sosial, pasti ada yang live layaknya tadi. Seperti halnya yang dilakukan oleh akun @dai_qur’an, @abimuda31, @gus.parahiyangan, @nasroel099, @m22u03kh, dan mungkin masih banyak sekali akun yang lain. Hal ini mungkin sudah dianggap sebagai hal yang lumrah? Tapi, di balik adanya sentuhan religius dan tap-tap layar, ada pertanyaan dibenak saya: apakah ini yang dinamakan dakwah kekinian dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai media dawah atau ini salah satu bentuk komodifikasi agama di media sosial?
Agama Sebagai Konten Interaktif
Media sosial khususnya tiktok, telah menciptakan interaksi dan ekspresi visual yang intens dan cepat. Algoritma tiktok mengutamakan konten dengan tingkat interaksi yang tinggi, seperti banyaknya komentar, like, share, dan tap-tap layar. Semakin banyak orang yang tap-tap layar, semakin luas juga jangkauan yang akan diperoleh. Mungkin karena itu, siaran langsung dengan bertema keagamaan juga ikut menyesuaikan dengan pola ini.
Dari sini mulai terlihat adanya pergeseran makna. Agama yang merupakan bentuk dari kegiatan spiritual yang semula sifatnya personal, sekarang dibentuk menjadi konten interaktif yang tingkat keberhasilannya dapat diukur dari banyaknya gift yang diterima dan bagaimana tingkat keterlibatan dari audiens. Bacaan ayat suci yang penuh makna, perlahan menjadi bagian dari strategi untuk menarik perhatian penonton.
Dakwah Digital atau Komodifikasi Agama?
Dengan teknologi yang berkembang pesat seperti sekarang, adaptasi dakwah dengan menggunakan teknologi digital merupakan suatu hal yang wajar dilihat dari banyaknya konten dakwah yang saya jumpai. Namun, ketika ada lantunan ayat suci al-qur’an dan doa yang dikomersialkan melalui permintaan tap-tap layar atau gift, saya berpikir bahwa kita perlu menyikapinya dengan lebih bijak.
Fenomena ini seperti sudah mengarah pada bentuk komodifikasi agama. ketika aspek-aspek keagamaan dijadikan alat untuk meraih keuntungan, popularitas, juga public attention. Padahal keikhlasan adalah fondasi utama seseorang dalam beragama. Namun, saat ibadah dilakukan demi mengejar gift dan meningkatkan viewer, nilai kegamaannya mulai hilang.
Setiap dari kita perlu punya etika dalam bermedia, khususnya ketika berdakwah
Agama sangat terbuka terhadap kemajuan teknologi. Artinya, agama dan teknologi bisa saling berdampingan. Akan tetapi, jika agama hadir di media sosial, sudah seharusnya juga dilandasi oleh etika. Etika bermedia, juga etika dalam melakukan praktik keagamaan. Para kreator konten dakwah harus memahami perbedaan antara berdakwah dengan menyebarkan ajaran dengan bijak dan menjadikan agama sebagai tontonan publik demi memperoleh keuntungan dan kepentingan algoritma.
Sebagai penonton, kita juga perlu bertanya pada diri kita, apakah tap-tap layar yang kita berikan tadi datang dari lubuk hati kita dengan niat untuk berdzikir, atau mungkin kita hanya sekedar ingin merasa beribadah di tengah-tengah scrolling media sosial agar di doakan?
Melakukan live tiktok dengan tema religius bukan menjadi masalah. Justru itu bisa menjadi ruang dakwah baru di era digital. Tapi, saat praktik ibadah dikaitkan dengan like, tap-tap layar, gift, saya rasa kita perlu berhati-hati. Jangan sampai nilai agama yang dipelajari hilang hanya karena mengejar popularitas dan algoritma. Agama yang harusnya menuntun kita pada refleksi diri, bukan hanya untuk tontonan yang tontonan sesaat yang mudah berlalu. Karena iman kita tidak tumbuh dari banyaknya like, comment, ataupun viewers, tapi dari kedalaman dan keikhlasan hati.
Penulis Ilma Ni’matul Fahmi