Kalijaga.co- “Itu siapa sih, Yah?” tanya seorang anak laki-laki berumur 10 tahun, telunjuknya mengarah pada sebuah figura yang tergantung di salah satu dinding rumah. Disebelah foto sang Ibu yang telah lama berpulang. Seragam merah putih masih melekat ditubuhnya sejak kepulangannya lima belas menit yang lalu. Sebuah kotak berukuran sedang bekas gorengan yang ia jual pagi tadi ada ditangan kanannya. Baru saja selesai ia cuci.
Ridwan menoleh sekilas, ikut menatap figura lawas yang baru saja mengambil atensi sang anak sebelum kembali melanjutkan kegiatannya yang terjeda. Foto seorang pahlawan lama yang Ia dapat dari salah satu majalah bertahun-tahun silam.
“Itu namanya W.R. Supratman, salah satu pahlawan Sumpah Pemuda.“
Anak laki-laki tersebut mengerutkan keningnya, “W.R.Su-pratman? Sumpah Pemuda? Apa itu, Yah?”
Ridwan terdiam. Kali ini tangannya benar-benar berhenti mengayunkan sapu, menoleh sepenuhnya kepada sang anak.
“Kamu tidak diajarkan tentang Sumpah Pemuda di sekolahan?”
Anak laki-laki itu menggeleng pelan,
“Ibu guru tidak pernah memberitahu tentang s-sum-“
“Sumpah Pemuda” potong Ridwan. Ia menghela napas. Berjalan pelan ke sebuah kursi yang terletak di sudut ruangan. Tangannya melambai, mengisyaratkan kepada sang anak agar ikut duduk di kursi kosong yang ada di sebelahnya.
Anak laki-laki itu menurut, duduk di samping sang Ayah setelah menaruh kotak berukuran sedang di sudut ruangan yang lain. Matanya menatap penasaran pada pria paruh baya yang ada di sisinya.
“Hazim, kamu tahu lagu Indonesia Raya?” tanya Ridwan. Hazim, anak laki-lakinya itu mengangguk. Ya, dia tau, baru saja Minggu lalu Ia membacanya disalah satu buku tentang kemerdekaan Indonesia di perpustakaan sekolah ketika jam istirahat.
“Tahu, lagu kebangsaan Indonesia Raya. Setiap hari Senin aku menyanyikan itu pas upacara di sekolah” Jawab Hazim. Ridwan tersenyum tipis.
“Pencipta lagu Indonesia Raya itu W.R. Supratman. Selain menjadi pencipta lagu itu, beliau juga salah satu pahlawan Sumpah Pemuda” jeda tiga detik, “kamu benar-benar tidak tahu Sumpah Pemuda?”
Hazim menggeleng kembali ketika mendengar pertanyaan itu kedua kalinya,
“Tidak, Ibu Guru tidak pernah menceritakan tentang sejarah Indonesia, aku cuma tau tentang Indonesia yang Merdeka di tanggal 17 Agustus saja.”
Entah untuk keberapa kalinya Ridwan terdiam. Ia menatap dalam sang anak. Ingatannya berputar pada masa kecilnya, ketika Ayahnya menguji hafalannya tentang isi teks Sumpah Pemuda.
“Coba sebutkan isi Sumpah Pemuda” suara Ayah menginstrupsi Ridwan. Tangannya membalik koran yang sedang Ia baca. Membuat anak yang baru saja berumur 9 tahun itu menghentikan kegiatan menulisnya. Menoleh pada sang Ayah.
“Aku, Ayah?”
Ayah menutup korannya. Menatap Ridwan tajam, “Siapa lagi? Ibu?”
Ridwan menelan air liurnya. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Otaknya berputar cepat, berusaha mengingat isi Sumpah Pemuda yang dikatakan sang Ayah,
“K-kami, putra dan putri I-Indonesia mengaku bertumpah d-darah satu, tanah air Indonesia”
Ayah mengangguk pelan, Ridwan kembali meneruskan kalimatnya,
“Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku-“ kalimat Ridwan terhenti beberapa detik, “b-berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” Ridwan menghela napas lega, menatap Ayahnya yang kembali mengangguk pelan.
“Bagus, kau harus selalu mengingat isi Sumpah Pemuda itu. Memang seperti tidak penting, tapi kamu harus tau, Sumpah Pemuda itu jadi pengingat untuk kita, bahwa jati diri kita itu Indonesia, dimanapun kamu hidup nantinya, tetaplah ingat kalau di dalam tubuhmu itu mengalir darah Indonesia”
“Ayah?” Suara Hazim membuyarkan lamunan Ridwan. Ridwan tersenyum tipis. Tangannya terangkat mengusap lembut rambut sang Anak.
“Kamu tahu? Ayah tiba-tiba teringat dengan kakekmu.” Ridwan kembali tersenyum,
“Sumpah Pemuda itu adalah janji para pemuda Indonesia di zaman dulu, di tahun 1928, tepatnya di tanggal 28 Oktober. Lama sekali bukan?”
Hazim mengangguk, dahinya mengerut menandakan Ia sedang menghitung sudah berapa lama janji itu diutarakan.
“Lama sekali Ayah. Mereka ngapain?”
“Mereka bersama-sama menyatukan keyakinan, bahwa mereka itu bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Kamu tahu isi Sumpah Pemuda?”
Hazim menggeleng pelan.
“Isi Sumpah Pemuda itu ada tiga. Yang pertama-“ Ridwan menyebutkan isi Sumpah Pemuda dengan pelan agar sang anak dapat memahami dengan apa yang Ia katakan.
Hazim menyimak dengan serius, mencoba mengingat setiap kata yang terucap dari sang Ayah.
“Sudah hafal?” Tanya Ridwan sesaat setelah Ia menyelesaikan kalimat Sumpah Pemuda-nya. Hazim mengangguk lalu dengan cepat mengulangi apa yang Ia dengar beberapa detik yang lalu. Ridwan tersenyum ketika Hazim berhasil menyelesaikan isi Sumpah Pemuda dengan benar.
“Bagus, Nak. Jangan pernah lupakan isi Sumpah Pemuda itu. Karena bagaimanapun, itu jadi pengingat untuk kita sebagai orang Indonesia. Di dalam diri kita itu mengalir darah Indonesia. Kata kakekmu, dimanapun kamu nanti menjalani hidup, selalulah ingat bahwa kamu adalah orang Indonesia. Kamu bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu-”
“Indonesia” sambung Hazim cepat membuat Ridwan tertawa pelan. Ia mengangguk, tangannya mengepal keatas dan berkata lantang,
“Hidup Indonesia !”
Penulis : Izza Aziza Queen Sophia | Editor : Najwa Azzahra