crossorigin="anonymous">

Bahaya “Gelembung” terhadap pendidikan, Mengapa Kelas yang Isinya Sama Semua Itu Merugikan?

Pernahkah Anda memperhatikan suasana di Instansi pendidikan yang katanya “favorit”? Biasanya pemandangannya seragam, siswanya datang dari keluarga kelas menengah ke atas, punya gaya hidup yang mirip hingga cara bicara yang hampir sama. Di sisi lain, ada instansi yang isinya hampir semua adalah siswa dari kalangan menengah atau mereka yang memiliki kebutuhan khusus namun terpinggirkan. Fenomena ini disebut sebagai homogenitas kelas. Sekilas terlihat tenang karena tidak banyak konflik, tapi sebenarnya ini adalah bom waktu bagi pendidikan kita. Saat kelas terlalu homogen, sekolah atau universitas berhenti menjadi peradaban dunia dan malah berubah menjadi “gelembung” yang memisahkan seseorang dari kenyataan.

Seorang ahli pendidikan pernah mengatakan bahwa belajar dari perbedaan jauh lebih penting daripada menghafal rumus. Di dalam kelas yang heterogen (beragam), seorang siswa yang pintar secara akademik akan belajar bersabar saat menjelaskan materi kepada temannya yang lebih lambat. Sebaliknya, siswa yang kurang di akademik mungkin punya kecerdasan emosional atau seni yang bisa menginspirasi teman-temannya.

Dalam kelas yang homogen, “persaingan” adalah satu-satunya warna. Namun dalam kelas yang inklusif, “kolaborasi” adalah napasnya.  Nah, mengapa kita harus khawatir? Faktanya, lingkungan yang terlalu seragam/homogen ini menciptakan pola pikir yang sempit. Kita bisa melihat dampaknya di media sosial saat ini, banyak orang mudah marah atau menghujat hanya karena ada orang lain yang berbeda pendapat atau cara hidup. Mengapa? Karena sejak kecil mereka tidak biasa berada di tengah perbedaan.

Oke, mari kita geser sudut pandangnya ke dunia kampus. Fenomena ini sebenarnya jauh lebih “ngeri-ngeri sedap” di universitas karena mahasiswa dianggap sudah dewasa dan mandiri, padahal “gelembung” eksklusivitasnya sering kali lebih tebal.

Kampus sering kali dijuluki sebagai “laboratorium peradaban”. Tempat di mana ide-ide besar digodok dan calon pemimpin bangsa disiapkan. Namun, jika kita melihat lebih dekat ke selasar fakultas atau tongkrongan disekitar, sebuah fenomena mengkhawatirkan mulai terlihat jelas, homogenitas kelas yang akut. Bukan malah menjadi tempat bertemunya berbagai kelas sosial, banyak universitas terutama di prodi-prodi “basah” atau kampus ternama justru berubah menjadi hunian mewah bagi mereka yang datang dari latar belakang ekonomi dan sosial yang seragam. Inklusivitas di kampus seolah hanya menjadi pemanis di brosur penerimaan mahasiswa baru. 

 “Gaya Hidup Sebagai Syarat Nongkrong”

Mari kita ambil contoh nyata yang sering terjadi di kampus-kampus besar di kota pelajar seperti Yogyakarta atau Malang. Pernahkah Anda melihat sebuah program studi yang mahasiswanya punya “seragam tidak resmi” berupa barang-barang branded, gadget terbaru, hingga kendaraan pribadi yang mewah?

Di sini, segregasi terjadi secara alami namun menyakitkan. Mahasiswa yang masuk lewat jalur mandiri dengan UKT (Uang Kuliah Tunggal) tinggi cenderung membentuk lingkaran pertemanan sendiri karena kesamaan gaya hidup. Sementara itu, mahasiswa penerima beasiswa atau mereka yang harus berhemat luar biasa sering kali merasa terasing.

Bukan karena ada larangan berteman, tapi karena “biaya pergaulan” yang tidak terjangkau mulai dari tempat nongkrong di kafe mahal hingga agenda liburan semester. Akibatnya, diskusi di ruang kelas pun menjadi hambar. Mahasiswa dari keluarga kaya tidak akan pernah benar-benar paham isu kemiskinan struktural jika teman diskusi di sebelahnya juga tidak pernah merasakan sulitnya makan atau uang kos.

Seorang sosiolog pendidikan pernah menyoroti bahwa universitas yang homogen hanya akan melahirkan “sarjana menara gading”. Mereka pintar secara teori, tapi buta terhadap realitas sosial. Ketika sebuah kelas di jurusan Hukum, misalnya, hanya diisi oleh anak-anak dari keluarga elit, maka cara mereka memandang keadilan akan cenderung bias pada kepentingan kelas mereka saja.

Faktanya, mahasiswa yang terbiasa berinteraksi dengan teman dari latar belakang berbeda misalnya mahasiswa dari daerah pelosok, mahasiswa difabel, atau mereka yang harus kuliah sambil bekerja akan memiliki kecerdasan emosional yang jauh lebih matang. Mereka tidak hanya belajar cara lulus ujian, tapi belajar cara bernegosiasi dengan realitas hidup yang beragam.

‘’Fakta yang Terabaikan, Privilege yang Terstruktur’’

Banyak yang berargumen, “Kan masuk universitas itu soal kepintaran, bukan soal kaya atau miskin.” Ini adalah fakta yang setengah benar namun menyesatkan. Realitasnya, untuk menjadi “pintar” agar bisa lolos tes masuk kampus top, dibutuhkan modal yang besar, bimbel jutaan rupiah, akses internet cepat, hingga gizi yang baik sejak kecil.

Jika kampus dan pemerintah tidak secara aktif melakukan intervensi untuk menciptakan kelas yang heterogen (beragam), maka universitas hanya akan menjadi alat reproduksi kelas sosial. Si kaya tetap kaya karena akses pendidikan dan relasi, sementara yang di bawah sulit untuk naik kelas.

‘’Sarjana untuk Rakyat, Bukan untuk Kelompoknya’’

Universitas bukan hanya tempat mengejar gelar untuk mempercantik CV di LinkedIn. Kampus adalah tempat terakhir bagi seseorang untuk belajar menjadi manusia yang inklusif sebelum terjun ke masyarakat.

Jika kampus kita masih isinya “lo lagi lo lagi” dengan latar belakang yang seragam, maka kita sedang gagal membangun bangsa. Inklusivitas adalah tentang meruntuhkan tembok-tembok kelas di ruang kuliah, agar ketika mahasiswa lulus, mereka tidak kaget saat melihat bahwa dunia ini tidak seindah gelembung yang mereka tempati selama empat tahun. #Sudah saatnya kampus kembali menjadi milik semua, bukan hanya milik mereka yang mampu membayar mahal untuk sebuah eksklusivitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *